Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Manusia sebagai makhluk hidup, dalam tahapan kehidupannya mempunyai beberapa fase pemenuhan kebutuhan yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Melalui pengalaman panjang kehidupan seorang Abraham Manslow yang lahir sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara dalam sebuah keluarga Yahudi yang hidup di New York, kemudian lahirlah sebuah Teori Hierarki Kebutuhan Manslow (Hierarchy of Needs).

Motivasi-motivasi yang mendorong manusia dalam memenuhi kebutuhannya, dipelajari Manslow yang nantinya juga akan melahirkan sebuah aliran psikologi humanistik. Teori Manslow memang sangat logis dalam membahas tahapan-tahapan pencapaian kebutuhan manusia menurut motivasinya yang dimulai dari kebutuhan fisiologis (makanan, minuman, pakaian), disusul kemudian berturut-turut adalah kebutuhan akan rasa aman dan tenteram, kebutuhan untuk disayangi, kebutuhan untuk dihargai, hingga pada akhirnya adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Namun tanpa bermaksud menggugat teori ini, namun secara humanis teori ini ternyata juga belum mampu menjelaskan kenyataan-kenyataan di depan mata kita, mengapa masih ada orang miskin yang hidupnya berkekurangan namun masih dapat hidup dengan bahagia bersama keluarganya. Di lain sisi mengapa banyak pula orang-orang kaya yang ternyata tidak dapat hidup bahagia. Ternyata yang terjadi adalah teori Manslow tidak dapat sepenuhnya berjalan sesuai urutannya.

Dalam perkembangan dunia karir dan pekerjaan yang ada saat ini, tidak jarang kita jumpai bahwa orang yang sukses berkarir belum tentu mempunyai sebuah keluarga yang sukses dibina pula. Belum tentu para pekerja sukses ini mempunyai sebuah ‘rumah’ yang merindukannya untuk pulang. Di lain sisi justru mungkin para pegawai rendahan atau mungkin bahkan buruh atau pemungut sampah di pinggir jalan justru mempunyai ‘rumah’ yang selalu menantikannya pulang dengan hangat. Jadi sekarang di mana letak relevansi tahapan pemenuhan kebutuhan Manslow dalam kehidupan ini?

Tahapan dasar kebutuhan Manslow mengenai kebutuhan fisiologis manusia dalam pencapaiannya mungkin akan dapat dibayar dengan kerja keras dan karier yang sukses, yang tentu saja akan menimbulkan lompatan tahapan ke tahap 4 dan 5, yaitu tahap pemenuhan kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ya, karier yang sukses sekaligus dapat melampaui tahap 1, 4 dan 5 sekaligus, namun belum tentu menjamin manusia tersebut untuk mendapatkan 2 tahapan sebelumnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman dan tenteram serta kebutuhan untuk dicintai dan disayangi.

Ternyata kebutuhan akan rasa aman dan tenteram serta kebutuhan untuk dicintai dan disayangi tidak dapat dibayar begitu saja dengan pemenuhan kebutuhan yang pertama, yaitu kebutuhan fisiologis. Dengan kata lain, kebutuhan jiwa manusia ternyata tidak dapat dibeli dengan pemenuhan jasmani, bahkan oleh uang yang melimpah sekalipun. Ini pula antara lain yang kemudian menerangkan jati diri seorang manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Bahwa kebutuhan jasmani dan rohani ternyata merupakan dua hal yang berbeda, walaupun terkadang saling berkaitan dalam kehidupan. Bahwa mungkin kedua aspek ini tidak dapat dijadikan satu dalam suatu tahapan pemenuhan sekaligus, karena masing-masing harus dibangun dengan dua proses yang berbeda, mungkin hal tersebut juga harus dipertimbangkan lagi oleh Manslow.

sumber: beritanet.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. 10 Fenomena yang Tak Dapat Dijelaskan oleh Sains
  2. Fetisisme : Payudara Adalah Segalanya
  3. Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Umbi Keladi Tikus terhadap Sel Kanker Payudara
  4. Safety Riding.. Apaan Sih ?
  5. Inilah Angka-angka Penting Ejakulasi Dini
  6. Wortel dan Ubi Jalar Bisa Sembuhkan Kanker Payudara
  7. Apa itu penyakit Rematik? Dan Cara Mengatasinya Dengan Praktis
  8. Melahirkan Normal Dengan Induksi
  9. Mengubah Sel Kanker Menjadi Sel Normal