Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Agar Tak Masuk Bui Pecandu Narkoba Segera Lapor ke Tenaga Medis. Tak lama setelah si pengemudi maut, Afriyani, divonis penjara, publik kembali dihebohkan dengan kasus serupa yang dilakukan seorang model cantik. Meskipun kasus yang terbaru tidak sampai menimbulkan maut, keduanya sama-sama membuat celaka orang lain akibat penggunaan narkoba.

Model cantik yang bernama Novie Amalia ini bahkan ditemukan hanya berbikini ketika menabrak 7 orang korbannya. Hasil pemeriksaan pihak berwenang menunjukkan bahwa Novie positif mengkonsumsi metamfetamin dan berhalusinasi. Tak ayal, publik kembali bertanya-tanya sebegitu mudahnya akses mendapat obat terlarang.

“Mengenai penggunaan obat akan terus menerus dimonitor. Tak hanya terkait kasus Novie Amalia saja, akhir-akhir ini memang penggunaan obat memang harus diperketat,” kata Wakil Menteri Kesehatan, Prof Ali Ghufron Mukti di sela-sela Pelantikan Pejabat Eselon I Kemenkes.

Novie bisa dibilang sebagai korban pemakaian obat terlarang, namun bukan berarti ia bisa lepas dari jeratan hukum walaupun tindakannya mungkin dilakukan tanpa disadari. Pada banyak kasus, pecandu Napza (Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) yang tertangkap basah kemudian berakhir di penjara.

Pada bulan Mei 2012, Sistem Database Pemasyarakatan mencatat jumlah pecandu yang masuk Lembaga Pemasyarakatan Pidana Khusus mencapai 24.237 orang. Jumlah ini menempati urutan kedua paling banyak setelah bandar Napza yang jumlahnya sebanyak 27.282 orang.

Padahal, hak-hak pecandu untuk mendapat rehabilitasi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika, khususnya Pasal 54. Pasal tersebut menyatakan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Beberapa pihak menilai, masih banyaknya jumlah pecandu yang divonis masuk penjara menunjukkan bahwa hak-hak para pencandu atau pengguna untuk mendapat layanan rehabilitasi masih belum terpenuhi. Para pecandu masih dikriminalisasi atau diperlakukan sama seperti pelaku tindak kriminal.

Oleh karena itu, sebelum terlanjur terjerumus lebih jauh dan mendekam di penjara, pemerintah telah menyediakan layanan bagi para pecandu dan pengguna untuk bertobat dari kebiasaan buruknya.

Saat ini, beberapa rumah sakit dan puskesmas telah menyediakan layanan penerima laporan pecandu narkoba. Setelah melapor, pecandu atau pengguna akan mendapatkan program rehabilitasi khusus dari tenaga kesehatan.

“Mereka itu sebenarnya sakit. Dan kalau mereka lapor, harusnya kan tidak ada kriminalisasi karena mereka adalah korban. Bagaimana bisa terobati dan bisa produktif, makanya kita di puskesmas ada layanan untuk itu,” terang Ali Ghufron.

Penjara nyatanya tak selalu menjadi hukuman yang efektif bagi pecandu narkoba. Data tahun 2011 menunjukkan bahwa 17,2% pengguna narkoba mengenal narkoba suntik justru ketika berada dalam penjara. Artinya, 1 dari 5 pengguna narkoba yang masuk penjara jadi makin parah kelakuannya.

sumber: detik.com