Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Sidik jari itu menampilkan pola yang dominan di Timur Tengah.

Kejeniusan ilmuwan ini dikagumi seantero dunia. Mahakarya sang seniman Renaissance Italia itu pun mengundang decak kagum. Cukup menyebut Mona Lisa, maka nyaris semua orang bakal membayangkan sosoknya: Leonardo da Vinci.

Hingga kini, karya dan teori yang diciptakan Leonardo terus menjadi bahan perbincangan menarik. Namun, tampaknya tak banyak yang tahu tentang jati diri Leonardo yang sebenarnya.

Di tangan para peneliti Italia, perlahan misteri itu mulai tersibak. Dari hasil isolasi dan rekonstruksi sidik jari sang maestro itu terungkap bahwa ada kemungkinan Leonardo da Vinci memiliki garis keturunan Arab. ”Sidik jari itu merupakan satu-satunya jejak biologis sang jenius asal Florence itu,” ujar Luigi Capasso, seorang antropolog dari Chieti University. ”Inilah bukti pertama dari keberadaan Leonardo,” ujar Capasso pada Discovery News.

Memang, tak ada lagi yang tersisa dari sang pelukis, insinyur, ahli matematika, filsuf, dan naturalis ini. Jenazah pria yang meninggal dunia pada 1519 di Amboise, Prancis, ini hancur pada abad ke-16 karena perang agama.

Riset tentang Leonardo dimulai pada 2002 menyusul penemuan ratusan sidik jari di buku catatan dan lukisan sang maestro. ”Tidak seluruhnya milik Leonardo, ada kombinasi jejak sidik jari yang ditinggalkan oleh murid-muridnya,” ungkap Alessandro Vezzosi, direktur Museo Ideale di Vinci, Tuscan, tempat kelahiran sang seniman paa 1452 sekaligus tempat pengumpulan sidik jari itu.

Untuk menemukan jejak Leonardo, Capasso dan timnya di University of Chieti harus mengisolasi dan memisahkan sidik jari Leonardo. Tentu bukan pekerjaan mudah karena mereka harus menguji 200 sidik jari dari sekitar 52 makalah. Dari sekian banyak jejak, hanya beberapa yang merupakan profil sidik jari lengkap Leonardo.

Sebagian besar sidik jari yang ditemukan terdiri atas separuh ibu jari sebelah kiri yang mengindikasikan Leonardo yang kidal itu menyibakkan kertas itu.

Dari sidik jari Leonardo itulah, para peneliti menyimpulkan bahwa pola yang tampak merujuk pada garis keturunan Timur Tengah. ”Sidik jari itu menampilkan pola seperti ulir berpusat yang dominan di Timur Tengah. Sekitar 60 persen populasi menampilkan struktur permukaan kulit serupa dengan yang ditemukan pada sidik jari,” lanjut Capasso.

Budak asal Timur Tengah
Penemuan ini akan mendukung klaim Vezzosi bahwa ibu Leonardo bukanlah gadis desa setempat seperti yang disebutkan sebelumnya. Akan tetapi, ibundanya adalah budak asal Timur Tengah.

Seperti diungkap Vezzosi, hasil penelitian di Vinci mengungkap bukti kuat bahwa ayah Leonardo, seorang tukang bernama Ser Piero Da Vinci, memiliki seorang budak perempuan asal Timur Tengah bernama Caterina. ”Ini biasa terjadi di abad ke-15 Tuscany untuk memiliki budak dari Timur Tengah,” kata Vezzosi.

Pada 1452, tahun kelahiran Leonardo, sebuah undang-undang dikeluarkan di Florence yang isinya memberikan kewenangan lebih luas untuk para majikan atas budak-budak mereka. Tak lama setelah undang-undang itu diberlakukan, Caterina melahirkan anak laki-laki yang disapa Leonardo.

Kenyataan bahwa ibunda Leonardo adalah seorang budak diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan Francesco Cianchi. ”Tak ada Caterina di Vinci atau desa terdekat yang dapat dikaitkan dengan Ser Piero. Satu-satunya Caterina dalam kehidupan Piero adalah seorang budak perempuan yang tinggal dalam rumah temannya yang kaya raya, Vanni di Niccolo di ser Vann.”

Dalam wasiatnya, bankir asal Florence itu menitipkan Caterina pada istrinya. Namun, saat meninggal pada 1451, rumahnya diberikan pada teman dekatnya, Ser Piero.

Fakta bahwa janda sang bankir tetap tinggal di rumah itu dan mempekerjakan pembantu baru menguatkan dasar teori bahwa Ser Piero mengizinkan sang janda tinggal agar dapat membebaskan Caterina. Namun, sejak itu pula catatan tentang budak perempuan dari Florence hilang. Pada 15 April 1452, Leonardo da Vinci lahir di Vinci. Beberapa bulan kemudian, ibunya menikah dengan pria lain.

Penelitian pun mengarah pada perbudakan di masa Renaissance, Italia. ”Banyak keluarga mampu yang membeli perempuan dari timur Eropa dan Timur Tengah. Perempuan muda itu lantas dibaptis, sehingga nama-nama yang lazim digunakan adalah Maria, Marta, dan Caterina,” ujar Vezzosi. Bagaimanakah kelanjutan misteri Leonardo da Vinci ini? Kita tunggu saja riset selanjutnya.

republika.co.id


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Konser Diana Ross Antiklimaks
  2. Tes DNA Sendiri Hanya Dengan 30 Dollar AS
  3. Apa itu Google Ad Manager?
  4. Kanker Payudara Triple Negative Memiliki 50 Mutasi
  5. Darah Haid Bisa Perbaiki Jantung?
  6. Terkena HIV Langka tipe HIV-1 strain-N, Setelah Liburan dari Togo
  7. Inilah Kronologi Pengungkapan Pembunuhan Nasrudin
  8. NARKOBA Jenis Baru Bernama “Strawberry Quick”
  9. Kasus Manohara Mulai Terang, Setelah Istana Kelantan Rusuh
  10. Google Akan Rumahkan 10 Ribu Karyawannya