Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Beredarnya film dokumenter yang berbau pornografi bertitel Cowboys in Paradise bisa jadi merupakan fakta yang ada di objek pariwisata Bali.

Pengamat budaya dan sejarah dari Universitas Indonesia Bambang Wibawarta mengungkapkan film dokumenter tersebut bisa jadi diangkat dari fenomena yang berkembang di daerah wisata Bali.

Lihat Trailernya Disini!

Cowboys in Paradise

Klik untuk memperbesar gambar!

“Pemuda setempat yang berhubungan dengan wisatawan asing dan memberikan pelayanan seks dianggap tidak aneh atau hal wajar di daerah wisata yang banyak dikunjungi seperti Bali. Hal ini pun terjadi di objek wisata lainnya,” papar Bambang saat berbincang dengan okezone, Selasa (27/4/2010).

Sebab itu, kata dia, beredarnya film Cowboys in Paradise tidak akan serta merta mempengaruhi imej wisata Bali secara keseluruhan, ketika hal itu sudah menjadi rahasia umum.

Menurut Bambang, dalam era global ini, sangat sulit untuk melarang atau membentuk individu ketika akses internet begitu leluasa. “Ada Youtube dan BB sangat memungkinkan semuanya terjadi,” imbuhnya.

Dia mengatakan, mungkin saja kemunculan film porno tersebut akibat melemahnya kesadaran kolektif dari warga Bali secara utuh dalam memelihara warisan kekayaan budaya dan wisata dari usur-unsur mesum.

“Tapi baiknya Bali tetap menampilkan imej baik sebagai bagian dari promosi budaya. Menjadi kekuatan yang mengikat semua dan masuk dalam strategi budaya nasional dengan mengedepankan etika, moral atau local wisdom,” papar Bambang.

Untuk itu, sambung dia, baiknya pemerintah setempat menyelidiki keberadaan film dokumenter yang cukup menggegerkan itu. Mencari tahu siapa yang membuatnya dan pihak-pihak mana saja yang terlibat. Termasuk mencari tahu apakah film tersebut memiliki izin atau tidak.

Sementara itu aksi para gigolo di Pantai Kuta dalam film dokumenter Cowboys in Paradise mulai memancing rasa penasaran anggota dewan yang berharap pemeritah Kabupaten Badung dan Provinsi Bali mengambil sikap tegas dan cepat.

“Saya sudah tonton filmnya, sama sekali tidak ada nilai positifnya bahkan bisa merusak citra pariwisata Bali di mata Internasional,” kata anggota DPRD Badung, Nyoman Satria.

Menurut Satria dengan tayangan film dokumenter tersebut, apalagi telah dikonsumsi luas di dunia internasional, bisa berdampak buruk bagi pembangunan Bali ke depan yang sangat menjunjung tinggi nilai nilai dan norma adat budaya ketimuran.

sumber: Dadan Muhammad Ramdan – Okezone


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Mau Nonton Suster Keramas? Jangan Lupa Bawa KTP
  2. Ayo Ramaikan! Kontes Seo, nowGoogle SEO Challenge
  3. Inilah Beberapa Foto Aksi Perampokan di Medan
  4. Novel Terakhir Harry Potter Ditayangkan dalam 2 Film
  5. Bayi Berbobot 28 Kilogram
  6. Wall Street Terjun
  7. Obama, Presiden yang Gaul di Internet
  8. CEO Facebook Jadi Milyuner Termuda Sepanjang Sejarah
  9. Akhirnya Avatar Memakan Korban Juga
  10. Bakteri Penyebab Kematian Tiba-tiba pada Bayi