Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Kontroversi seputar hasil penelitian tim Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah produk susu dan makanan formula bagi bayi telah terkontaminasi bakteri patogen (Enterobacter sakzakii, Salmonella sp., Eschericia colli), kian membuat masyarakat, khususnya kalangan ibu, resah dan kebingungan. Terlebih, sebagian besar masyarakat kita terlanjur terbiasa dan sudah sejak lama memberikan susu dan makanan formula sejak usia bayi kurang dari satu tahun. Padahal, kita semua tentu mafhum bahwa pada usia itu, sistem kekebalan tubuh bayi masih belum sempurna.

Dinyatakan, jika bakteri E. sakazakii mengontaminasi tubuh bayi, bisa mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan serius, seperti radang selaput otak (meningitis), radang usus, gangguan neurologik, bahkan kematian. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan, pada 2004, 20-50 persen bayi yang kontaminasi bakteri ini akhirnya tak dapat bertahan dan berujung pada kematian.

Meski disebutkan bahwa penelitian tim FKH IPB itu dilakukan pada kurun 2003-2006, namun keluhan akan hal itu baru mengemuka. Belum lama ini, pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima aduan kasus seorang anak berusia 16 bulan yang positif terjangkit bakteri E. sakazakii sejak usia 4 bulan. Sejak kecil, anak itu mengonsumsi susu formula.

Terlepas dari pro-kontra yang saat ini merebak, yang jelas, mencuatnya kasus susu dan makanan bayi berbakteri ini kian gamblang membuktikan betapa pemerintah negeri ini teramat teledor dan lalai dalam melindungi rakyatnya dari ancaman dan gangguan faktor kesehatan.

Saat ini, sulit untuk menampik dugaan betapa fakta state neglect (pengabaian rakyat oleh negara) benar-benar sedang berlangsung di negeri berpenghuni 223 juta jiwa ini. Betapa tidak, setiap hari, rakyat selalu saja dihadapkan pada pilihan-pilihan kebijakan yang amat berat, pun ujung-ujungnya selalu menimbulkan ontran-ontran, menyengsarakan, menyakitkan, dan menambah berat beban hidup rakyat yang sudah berat.

Jika pemerintah tetap saja lamban dalam merespons hasil temuan tim IPB ini, mengabaikannya tanpa ada kepastian yang jelas dan melegakan publik, maka sejak saat ini, masyarakat sepertinya sudah harus membiasakan diri menghadapi bayang-bayang mengerikan yang setiap saat mengancam nasib dan masa depan bayi-bayi mereka.

Kontroversi seputar hasil penelitian tim Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah produk susu dan makanan formula bagi bayi telah terkontaminasi bakteri patogen (Enterobacter sakzakii, Salmonella sp., Eschericia colli), kian membuat masyarakat, khususnya kalangan ibu, resah dan kebingungan. Terlebih, sebagian besar masyarakat kita terlanjur terbiasa dan sudah sejak lama memberikan susu dan makanan formula sejak usia bayi kurang dari satu tahun. Padahal, kita semua tentu mafhum bahwa pada usia itu, sistem kekebalan tubuh bayi masih belum sempurna.

Dinyatakan, jika bakteri E. sakazakii mengontaminasi tubuh bayi, bisa mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan serius, seperti radang selaput otak (meningitis), radang usus, gangguan neurologik, bahkan kematian. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan, pada 2004, 20-50 persen bayi yang kontaminasi bakteri ini akhirnya tak dapat bertahan dan berujung pada kematian.

Meski disebutkan bahwa penelitian tim FKH IPB itu dilakukan pada kurun 2003-2006, namun keluhan akan hal itu baru mengemuka. Belum lama ini, pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima aduan kasus seorang anak berusia 16 bulan yang positif terjangkit bakteri E. sakazakii sejak usia 4 bulan. Sejak kecil, anak itu mengonsumsi susu formula.

Terlepas dari pro-kontra yang saat ini merebak, yang jelas, mencuatnya kasus susu dan makanan bayi berbakteri ini kian gamblang membuktikan betapa pemerintah negeri ini teramat teledor dan lalai dalam melindungi rakyatnya dari ancaman dan gangguan faktor kesehatan.

Saat ini, sulit untuk menampik dugaan betapa fakta state neglect (pengabaian rakyat oleh negara) benar-benar sedang berlangsung di negeri berpenghuni 223 juta jiwa ini. Betapa tidak, setiap hari, rakyat selalu saja dihadapkan pada pilihan-pilihan kebijakan yang amat berat, pun ujung-ujungnya selalu menimbulkan ontran-ontran, menyengsarakan, menyakitkan, dan menambah berat beban hidup rakyat yang sudah berat.

Jika pemerintah tetap saja lamban dalam merespons hasil temuan tim IPB ini, mengabaikannya tanpa ada kepastian yang jelas dan melegakan publik, maka sejak saat ini, masyarakat sepertinya sudah harus membiasakan diri menghadapi bayang-bayang mengerikan yang setiap saat mengancam nasib dan masa depan bayi-bayi mereka.

Sulis Styawan, mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
suaramerdeka


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. PBB Keluarkan Peringkat Negara Terbaik dan Terburuk. Indonesia?
  2. Parfum Terbaru Britney Spears
  3. Laporkan Masalah Narkoba ke Telp: 02180880011 SMS: 081221675675
  4. Ayo Ramaikan! Kontes Seo, nowGoogle SEO Challenge
  5. Hendra NS : Surat Pembaca Kompas, Mohon Pindah ke Istana Negara
  6. Ternyata Remaja Yang Masih Virgin, Cuma 40% Saja
  7. Novel Terakhir Harry Potter Ditayangkan dalam 2 Film
  8. Berikut Bukti Jika Perempuan Suka Film Porno
  9. Dare To Be, Bergabunglah Dengan Kami
  10. Lelang Virginitas demi Kuliah