Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Polemik mengenai perlu-tidaknya gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto, ditanggapi dingin anak kesayangannya, Tommy Soeharto. Menurut Tommy, doa ribuan peziarah yang setiap hari datang ke pusara sang ayahanda lebih penting daripada gelar pahlawan.

“Itu lebih penting. Doa dari para peziarah lebih bermakna bagi keluarga kami,” tandas pemilik nama lengkap Hutomo Mandala Putra ini menjawab wartawan di sela-sela meninjau eks Markas PETA Blitar, saat Napak Tilas Kepahlawanan di Kota Blitar.

Berapa rata-rata jumlah peziarah almarhum Soeharto di Astana Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jateng? Menurut Tommy, pada hari biasa rata-rata 2.000 orang, sedangkan pada Sabtu dan Minggu atau hari libur mencapai 4.000 peziarah.

Pengusaha yang juga dikenal sebagai pembalap mobil sekaligus pereli ini menambahkan, pihak keluarga tidak akan mengajukan permohonan gelar pahlawan ke pemerintah untuk Pak Harto. “Kami tidak akan mengajukan. Biar masyarakat yang menilai. Buat kami yang penting bapak khusnul khotimah (mati dalam keadaan baik di hadapan Allah, Red),” kata Tommy, yang kehadirannya di Blitar menyedot perhatian besar khalayak.

Di tempat sama, Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, menjelaskan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada seorang pejuang atau orang yang telah berjasa kepada negara harus berdasar usulan. Usulan ini bisa datang dari perorangan maupun kelompok masyarakat.

“Kalau tidak ada usulan, negara tidak bisa mengambil langkah apa pun,” ujar menteri yang juga politisi senior PPP ini, yang datang bersama, antara lain, Menpora Adhyaksa Dault, Panglima TNI Jenderal Joko Santoso, dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suwarno.

Menurut menteri, sampai saat ini belum ada usulan dari siapa pun mengenai gelar pahlawan Soeharto, sehingga negara tidak bisa memproses atau berinisatif memberikan gelar tersebut. “Mekanismenya memang begitu, tidak bisa memberikan gelar pahlawan kalau tidak ada usulan,” ucap Bachtiar Chamsyah.

Sebagaimana diketahui, Soeharto meninggal dunia setelah dirawat 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, Minggu, 27 Januari 2008, dan dimakamkan sehari kemudian di Astana Giribangun, yang berlokasi tak jauh dari tempat wisata Tawangmangu. Kini muncul kontroversi tentang perlu-tidaknya pemerintah memberi gelar pahlawan bagi penguasa Orba selama 32 tahun lebih itu.

Pihak Partai Golkar, misalnya, menilai Soeharto berhak mendapatkan gelar pahlawan nasional karena jasanya kepada bangsa-negara. Sedangkan tayangan iklan Hari Pahlawan PKS memasang gambar Soeharto. Namun, Anhar Gonggong — sejarawan yang juga anggota tim penyeleksi pahlawan– mempertanyakan kelayakan Soeharto mendapat gelar pahlawan.

Di Atas Bukit

Sementara itu, Juru Kunci Astana Giribangun, Sukirno, ketika dihubungi Surya menguatkan pernyataan Tommy tentang jumlah peziarah ke makam Soeharto. Menurutnya, meski kompleks pemakaman itu berada di atas bukit –ketinggian 666 di atas permukaan laut– namun tak menghalangi semangat banyak orang untuk nyekar.

“Hari biasa, peziarah yang datang antara 1.000 orang sampai 2.000 orang, dan pada hari libur bisa mencapai 4.000 orang,” jelasnya.

Bahkan, katanya, jumlah peziarah pernah mencapai 7.000 orang, yaitu saat beberapa hari setelah Pak Harto meninggal. Jumlah ini merupakan angka tertinggi sejak Soeharto dimakamkan berdampingan dengan sang istri, Ny Tien Soeharto, yang meninggal pada 28 April 1996 silam.

Angka-angka tersebut diketahui dari daftar buku tamu atau buku peziarah yang terdapat di kantor kompleks pemakaman. Sukirno yakin, saat itu jumlah peziarah sebenarnya lebih dari 7.000 orang, karena sebagian di antara mereka tidak menulis dalam buku tamu. “Saya yakin saat itu ada sekitar 8.000 orang peziarah,” tegasnya.

Menurut Sukirno, Astana Giribangun dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 WIB-17.00 WIB. Namun, pihaknya tak pernah menolak peziarah yang datang sebelum pukul 08.00 WIB atau setelah pukul 17.00 WIB. “Biasanya, ada saja orang yang berziarah pada malam hari. Kami tak menolak orang yang berniat baik dengan mengirim doa,” papar Sukirno.

Adapun pada hari Minggu, sering para peziarah datang pada saat subuh. Sebelum nyekar ke pusara Pak Harto dan Ibu Tien, biasanya mereka salat dulu di masjid yang berada di kompleks makam. “Kalau subuh kan udaranya masih segar. Mereka biasanya berombongan naik bus, jumlahnya bisa sampai lima-enam bus,” jelasnya.

Dari mana saja daerah asal para peziarah tersebut? Menurut Sukirno, mayoritas dari Jatim –antara lain Sidoarjo, Surabaya, dan Malang– serta dari Jateng. Juga, dari luar Jawa seperti Samarinda dan Pontianak.

“Mereka rata-rata mengaku terkenang jasa-jasa Pak Harto sehingga antusias berziarah meski datang dari luar kota,” tegasnya.

Selain ribuan orang awam yang datang berziarah, sering datang juga peziarah dari golongan mantan pejabat dan pensiunan jenderal dari Jakarta. Sedangkan dari keluarga, yang terakhir nyekar adalah puteri bungsu Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamik, sepekan lalu.
“Mbak Mamik datang bersama empat temannya. Kalau Mas Tommy ke sini terakhir sebelum (bulan) Puasa lalu,” pungkas Sukirno. ais/jun

sumber: surya.co.id


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Hugh Jackman “Pria Terseksi” Versi Majalah People
  2. PRESS CONFRENCE iLASIK
  3. Roy Suryo Ungkap Foto Bugil Sandra Dewi
  4. Hacker Rumania Jebol Situs Symantec
  5. Video : Kenapa Bayi Bisa Lahir Dengan Ukuran Besar “Raksasa”
  6. 13 Kematian Yang Berhubungan Dengan Alat Penggendong Bayi
  7. Inilah Peta Obesitas di Dunia
  8. Poligraf, Alat Deteksi Kebohongan Ryan
  9. YLKI Minta Iklan Junk Food Dihentikan
  10. Dewan Pers: Kasus Kover “Soeharto’s Code” Sudah Selesai