Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Istilah uang jajan yang biasa digunakan oleh masyarakat sebaiknya diganti dengan uang saku. Kenapa? Karena istilah uang jajan membuat anak berpikir bahwa uang tersebut memang untuk dihabiskan hanya untuk jajan. Akan lebih baik jika orangtua mengajak berpikir anak bahwa jajan hanya salah satu bentuk penggunaan uang yang diberikan kepadanya.

Ingat kan, waktu orangtua kita dulu memberikan uang saku? Tidak ada embel-embel bahwa uang ini harus kita atur sedemikian rupa, paling hanya diberi pesan nanti sisanya ditabung ya. Kita diberi uang saku harian yang besarnya diatur sehingga hanya cukup untuk uang jajan dan transport misalnya.

Dengan demikan yang anak-anak pikir waktu itu hanya bagaimana cara menghabiskan uang, toh besok pagi akan dapat lagi. Pola ini cenderung akan dibawa anak sampai dewasa. Setiap mendapat uang langsung dibelanjakan dan nanti kalau ada, sisanya baru ditabung.

Ketika anak sudah mengenal uang, sebaiknya anak mulai dibiasakan mengatur keuangan. Melalui uang saku, orangtua dapat mengenalkan kemampuan mengelola keuangan, tanggung jawab, fungsi uang, komitmen, dan kedisiplinan pada anak.

Mengenalkan pengelolaan uang saku berarti juga memperkenalkan nilai uang, cara membuat anggaran, serta menabung. Semakin cepat diperkenalkan, anak akan semakin siap mengelola keuangannya secara mandiri. Untuk itu orangtua perlu mendidik anak dimulai dari hal yang sederhana terlebih dulu yaitu bagaimana memanfaatkan uang saku.

Menurut Safir Senduk seorang perencana keuangan dalam sebuah tulisannya, tidak ada jumlah uang saku ideal yang berlaku umum, karena situasi dan kondisi setiap keluarga berbeda. Karena itu, jumlah uang saku yang bisa disebut ideal adalah jika anak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dengan uang saku tersebut. Akan lebih baik jika, orangtua melebihkan secukupnya dari jumlah kebutuhan dasar, karena sisanya bisa digunakan anak untuk menabung.

Kebutuhan dasar bisa diartikan sebagai kebutuhan yang seharusnya diadakan. Untuk menentukannya, orangtua bisa mendiskusikan langsung dengan anak, apa saja kebutuhan dasarnya. Biasanya akan ada banyak penyesuaian antara keinginan anak dan keinginan/ kemampuan orangtua. Proses ini bisa sekaligus dimanfaatkan oleh orangtua untuk mendiskusikan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.

Dalam sebuah artikel, psikolog dari DR.Sarlito dan Ami S Budiman Msc juga mengatakan bahwa, kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku. Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima, tidak bisa diukur dari usia. Namun sebagai patokan, pada anak TK, sebaiknya jangan diberi uang saku, namun dampingi anak jika ingin membeli sesuatu.

Sedangkan pada usia SD kelas awal (1-2-3) untuk keperluan jajan dan biaya transportasi sekolah, bisa diberikan uang saku yang sifatnya harian. Pada anak usia SD kelas akhir (4-5-6) yang sudah terbiasa mendapat uang saku harian bisa diubah menjadi mingguan. Orangtua perlu melakukan evaluasi, apakah anak sudah mampu mengelola uang saku mingguan dengan baik, sebelum memutuskan memberikan uang saku bulanan.

Jika anak sudah dipercaya menerima uang saku bulanan, bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain di luar keperluan sekolahnya. Misalnya, membayarkan uang les, berlanggananan majalah, sampai hiburan di akhir pekan. Namun, untuk pengeluaran yang tidak rutin seperti membeli buku sekolah, pakaian dan lainnya bisa tetap menjadi tanggungjawab orangtua. Orangtua juga perlu membiasakan anak menyisihkan uang sakunya bukan untuk keperluan dirinya saja, namun juga untuk membelikan kado saat teman berulang tahun, untuk kegiatan amal-sosial dan sebagainya.

Seiring waktu, orangtua bisa menambah jumlah uang saku anak. Sehingga anak pun bisa menyesuaikan pengelolaan pengeluaran uang sakunya dengan kebutuhannya selama sebulan. Tujuannya, mengajarkan anak untuk membuat pengeluaran yang seimbang antara kebutuhan utama dan belanja yang sifatnya impulsif. Anak akan belajar memilah-milah kebutuhan yang menjadi prioritasnya

Biasakan juga anak-anak untuk beramal dengan uang sakunya. Masih banyak anak-anak saat ini yang kekurangan dan perlu bantuan. Dengan begitu mereka bisa belajar bahwa uang bisa menjadi alat untuk membantu orang lain yang kesusahan.

Satu hal yang paling penting dari orang tua adalah keteladanan. Jangan harap anak bisa disiplin mengelola uang sakunya jika orangtua juga merasa kepayahan menjaga keseimbangan antara pemasukan dengan pengeluaran. Anak pun juga akan mengamati kebiasaan orangtua saat membelanjakan uang.

Jika sebelumnya orangtua telah menetapkan untuk hal-hal apa saja uang saku boleh dipergunakan, maka orangtua dituntut tegas dalam menerapkan aturan main. Jika anak kepergok telah melanggar aturan main tersebut segera beri pemahaman kepadanya.

perempuan.comĀ 


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Tips Lindungi Anak Anda dari Narkoba, Ikuti 6 Langkah Berikut
  2. Perkembangan Bayi Setelah Lahir Dari Bulan Ke Bulan
  3. 5 Tips Aman, Nyaman, Terbang Dengan Anak Anda
  4. Kamus Tangis Bayi : Terjemahkan Tangis Bayi Anda
  5. 6 Cara Mengatasi Anak Berkata Kasar dan Kotor
  6. Pilih Normal atau Caesar ? Bayi Lahir Caesar Berisiko Tinggi Asma dan Alergi
  7. Makanan Berikut, Bikin Anak Tambah Cerdas
  8. Inilah Tren Nama Bayi di 2015
  9. 3 Tips Jadikan Anak Cerdas, Mulai Dari Janin!
  10. Daftar Game Yang Berbahaya, Untuk Anak