Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Segeralah ke dokter bila kita menemukan kelainan di mata si kecil. Jangan ditunda, demi masa depannya.

Mata memiliki banyak fungsi. Di samping untuk melihat dalam arti ketajaman penglihatan, mata juga berfungsi untuk melihat warna dan melihat luas lapangan. “Selain itu, fungsi yang paling tinggi adalah kesadaran ruang (stereovision),” ujar dokter spesialis mata dari RS Mata Aini, Dr. Abdul Manan Ginting.

Kesadaran ruang adalah kemampuan membedakan jauh dekat dan hanya bisa dilakukan jika kedua mata memiliki fungsi yang baik. “Kedua belah mata harus mempunyai penglihatan yang baik atau hampir sama baiknya dan mempunyai kemampuan untuk berfusi atau bekerja bersama,” lanjut Ginting.

Nah, apa yang terjadi jika mata juling? “Mata juling yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan si penderita kehilangan kemampuan stereovision untuk selama-lamanya,” tegas Ginting. Orang-orang ini akan kehilangan lapangan pekerjaan tertentu, misalnya pilot, ahli bedah, dan sebagainya. “Ia tidak memiliki perspektif. Jadi, jangan anggap sepele. Harus segera dikenali dan ditangani.”

FUNGSI RUSAK
Menurut Ginting, mata harus selalu bergerak harmonis, baik ke kanan, ke kiri, ke atas, maupun ke bawah. Selain itu, mata juga harus selalu menuju pada satu titik, baik melihat jauh maupun dekat. Gerakan kedua mata ini bisa harmonis karena ada 6 buah otot yang menggerakkannya. Keenam otot ini memiliki 3 buah syaraf mata yang berpusat di otak.

Juling atau strabismus atau squint bisa terjadi karena berbagai faktor. Misalnya saja, faktor bawaan. Juling juga bisa terjadi karena kerusakan pada otot, syaraf, atau karena pusatnya yang rusak. Pusat yang rusak ini bisa di pusatnya sendiri, tetapi bisa juga akibat mata yang tidak mendapat rangsangan. “Kalau mata tidak mendapat perangsangan, ya, sentrumnya tidak bisa bekerja. Akibatnya, tidak bisa mengatur ke mana mata akan melihat,” ujar Ginting.

Pada orang dewasa, juling lebih banyak terjadi karena kelainan syaraf, misalnya karena radang atau stroke. Sedangkan pada anak, yang paling banyak terjadi adalah juling karena gangguan pada otot-otot mata. Pada anak, juling karena gangguan syaraf seringkali terjadi karena trauma persalinan. “Misalnya persalinan yang menggunakan vacuum. Ini bisa membuat salah satu otot menjadi lumpuh,” lanjut Ginting.

Gangguan otot mata bisa karena impuls/rangsangan yang diberikan oleh syaraf bekerjanya tidak sama untuk semua otot. “Ada yang over action atau under action, sehingga mata menjadi tidak harmonis,” lanjut dokter lulusan UI ini.

Selain fungsinya yang rusak, bisa juga karena ototnya yang memiliki kelainan. “Ada otot yang memang terlalu lemah dan ada yang terlalu besar, sehingga mata dalam gerakannya tidak normal. Ini biasanya dibawa dari lahir dan seringkali ada faktor-faktor genetik,” ujar Ginting.

Ada lagi juling yang tidak ada hubungannya dengan otot atau syaraf, yaitu pada bayi atau anak yang penglihatannya jelek atau bahkan buta. “Dalam keadaan istirahat, mata akan bergerak keluar, misalnya saat tidur. Nah, mata yang tidak bisa melihat, tidak bisa dipacu untuk melihat suatu benda, sehingga akan bergerak ke arah luar. Akibatnya, mata akan menjadi juling.”

Di sisi lain, terdapat pula juling yang bukan juling, yang terjadi pada kelompok etnis Cina atau Jepang. Bayi yang baru lahir dari kelompok etnis ini, secara relatif memiliki jarak antara pinggir kelopak mata yang lebar. Akibatnya, terkesan matanya masuk ke dalam (telecanthus) dan dianggap juling. “Juling semacam ini disebut juling palsu (pseudo strabismus) dan akan hilang sendiri setelah anak dewasa,” ujar Ginting.

JENIS KELAINAN
Juling dibagi menjadi 2 bagian, yakni juling manifest (trophia/nyata). Juling jenis ini bisa dilihat langsung oleh orang awam. Misalnya, mata keluar, satu ke atas satu ke bawah, atau satu ke kanan satu ke kiri.

Juling trophia harus lebih cepat ditangani. Karena pada juling jenis ini, biasanya salah satu mata akan menjadi lebih dominan, sementara yang lainnya menjadi tidak dominan. “Nah, mata yang tidak dominan ini tidak pernah bisa memberikan impuls ke otak sehingga otak tidak bisa berkembang. Akibatnya, penglihatannya pun tidak berkembang,” ujar Ginting. Ini yang disebut ambyopia atau lazy eyes atau mata malas.

Jika ini yang terjadi, sebaiknya segera ditangani sedini mungkin. “Jangan sampai menunggu hingga anak berusia lebih dari usia 4 tahun.” Penanganannya bisa dengan merangsang mata yang malas.

Yang paling sederhana adalah dengan menutup mata yang berfungsi bagus, kemudian memaksa mata yang juling tersebut untuk digunakan. “Kalau sudah ada kemajuan, baru dilakukan operasi supaya mata tidak kembali menjadi malas,” ujar Ginting. Atau sebaliknya, dilakukan operasi terlebih dulu, kemudian baru dilakukan perangsangan. “Tetapi biasanya yang didahulukan adalah mengembalikan fungsinya.”

Ada juga juling manifest tetapi bermasa depan bagus, yakni alternating squint. “Juling jenis ini, mata yang digunakan bergantian. Pada posisi tertentu mata kanan yang digunakan dan pada posisi tertentu mata kiri yang dipakai. Jadi, tidak terjadi lazy eyes,” ujar dokter yang juga praktek di Jakarta Eye Center.

Juling yang kedua adalah juling yang disebut intermitten atau phoria. “Juling ini hanya terjadi kadang-kadang saja dan biasanya lebih susah didiagnosis karena secara fisik tidak tampak. Ini dapat dikenali misalnya saat melamun,” ujar Ginting.

Penanganan juling intermitten masih bisa menunggu sampai anak menjadi lebih dewasa. “Karena untuk juling jenis ini, pada saat tertentu kedua mata bisa bekerja bersama. Sehingga, kalau pada suatu saat ia dioperasi, kedua matanya sudah memiliki kemampuan melihat bersama-sama (fusi).”

Sebetulnya, semua operasi mata juling adalah untuk memperkuat dan melemahkan otot, karena impulsnya sama namun responnya beda. Impuls A pada satu otot, gerakannya dibuat menjadi 10, tetapi di otot lain menjadi 20 sehingga tidak harmonis. Karena itu, otot yang salah ini diperlemah. “Tetapi, kalau satu saja yang diperlemah, otot bisa menjadi disfungsi.

Karena itu, yang kuat dilemahkan dan yang lemah dikuatkan supaya seimbang,” jelas Ginting lebih lanjut.

BISA PULIH
Begitulah, ada juling yang bisa dengan mudah dikenali dan ada juga yang tidak mudah dikenali. “Jadi, sebaiknya anak segera diperiksakan ke dokter mata sedini mungkin supaya tidak terlambat. Jika usia anak sudah di atas 9 tahun, prospek kesembuhannya hampir tidak ada,” tambah Ginting.

Juling juga tidak mengenal perbedaan strata sosial maupun ekonomi. “Bisa menimpa anak perempuan atau laki-laki. Banyak anak yang juling berasal dari orangtua yang tidak juling. Yang penting adalah bagaimana kita mengenali dan melakukan tindakan supaya fungsi mata tidak terganggu. Kalau ditemukan lebih dini, maka 100 persen bisa dipulihkan, kok,” ujar Ginting.

Terapi Mata Juling
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah anak juling atau tidak. Tentu, yang paling baik adalah membawanya ke dokter. Beberapa tips dari Dr. Abdul Manan Ginting di bawah ini bisa membantu untuk mengetahui apakah anak juling atau tidak:

* Hirsberg Test
Caranya dengan menyenter kedua mata dari jarak sekitar 50 cm. Kemudian lihat, di mana titik cahaya lampu senter. Kalau kedua titik cahaya berada di tengah mata, berarti mata normal (ortho).

Selain mengarahkan tepat dari depan, tes ini juga bisa dilakukan dengan menggerakkan lampu senter ke kiri atau ke kanan. Yang normal, letak titik selalu simetris. Kalau lampu senter diarahkan miring ke kanan, maka kedua titik cahaya di mata pun dua-duanya ke sebelah kanan. Kalau titik cahaya satu di tengah dan satu di pinggir, maka kemungkinan besar anak juling.

* Cover Uncover Test
Tes ini biasanya untuk anak yang lebih besar, misalnya setelah usia 1 tahun. Caranya, dengan menggunakan lampu senter atau boneka yang diletakkan di muka anak. Kemudian mata kiri dan kanan kita tutup bergantian.

Pada mata normal, mata tidak akan bergerak dan tetap menghadap ke arah lampu senter atau boneka. Ini berarti fungsinya bagus. Otak akan berkata, “Kamu lihat ke senter/boneka itu!” Kalau bergerak pada waktu tutupnya dipindahkan, maka kemungkinan besar ia juling.

* Menutup Satu Mata
Caranya, tutuplah sebelah mata anak. Misalnya, mata kanannya. Jika mata kanannya jelek, maka ketika ditutup, anak tidak akan marah atau mencoba menepis tangan yang menutupi matanya tersebut. Anak akan marah ketika Anda menutupi mata kirinya, karena penglihatannya terhalang. Ini menunjukkan bahwa mata sebelah kanannya tak baik.

Selain tes untuk mengetahui apakah anak juling, tes ini juga penting, karena ada anak yang tidak juling tetapi salah satu matanya tidak melihat. Misalnya, anak yang lahir dari ibu yang menderita toksoplasma. “Matanya bagus, tapi ia tidak bisa melihat, karena bagian vital retinanya mengalami kerusakan karena parasit toksoplasma,” ujar Ginting.

sumber: Hasto Prianggoro/nakita, tabloidnova.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Patut di Waspadai 5 Perilaku Balita Berikut Ini
  2. Tips Untuk Para Bunda Mendongeng, Kekuatan Dahsyat Sebuah Dongeng
  3. Membahasakan Tangis Bayi
  4. Di Inggris Banyak Orang Tua Menyesal Berikan Gadget kepada Anak
  5. Hati – Hati : Spongebob Bikin Balita Susah Konsentrasi
  6. Mau Punya Anak Dengan IQ Tinggi Ikuti 5 Tips Berikut
  7. Inilah 6 Cara Terbaik Mengatakan Tidak Pada Anak
  8. Orang Tua Harus Ketahui, Tiga Tahap Perkembangan Otak Anak
  9. Inilah 10 Cara Membesarkan Anak Sehat
  10. Inilah 10 Masalah Utama Kesehatan Anak