Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Denpasar ( Berita ) : Hampir tidak ada negara di belahan dunia dewasa ini terbebas dari penderita HIV/AIDS termasuk Indonesia yang telah merenggut korban jiwa.

“Masalah HIV/AIDS berdampak luas dan menimbulkan krisis multidimensi terhadap bidang kesehatan, sosial, ekonomi, pendidikan dan pembangunan,” kata Gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Prof Dr dr K. Tuti Parwati Merati di Denpasar Jumat [28/03] .

Ia mengatakan, kasus HIV/AIDS yang pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 dalam perkembangannya dari kategori prevalensi rendah (1994) menjadi epidemi yang mengarah populasi beresiko tinggi. Hal itu terbukti pengguna narkoba suntik (penasun) dan penularan seksual resiko tinggi, untuk beberapa lokasi di Indonesia telah mengarah ke tingkat epidemi terkonsentrasi.

Parwati menambahkan, dalam kurun waktu yang relatif singkat HIV/AIDS menjalar ke seluruh dunia, hingga akhir Desember 2007 estimasi orang dengan HIV/AIDS (odha) mencapai 33,2 juta orang.

Mereka terdiri atas dewasa 30,8 juta orang, 15,4 juta diantaranya wanita dan 2,5 juta anak usia di bawah 15 persen. Selama tahun 2007 saja terjadi infeksi baru 2,5 juta dan total kematian, baik dewasa maupun anak-anak mencapai 2,1 juta.

Untuk Indonesia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) mencapai 175.000 odha hingga akhir Desember 2007. Sementara secara kumulatif tercatat 17.207 kasus yang terdiri atas AIDS 11.141 kasus dam HIV positif 6.066 kasus.

Untuk itu Indonesia sejak tahun 1994 merumuskan strategi penanggulangan AIDS (stranas). adanya kemajuan dalam cara penanggulangan HIV/AIDS yakni penemuan obat antiretrovirus (ARV). Penemuan obat ARV mampu menghambat berkembangnya penyakit dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (Odha).

Cara tersebut terbukti cukup efektif disamping penggunaan kondom 100 persen dan menghindari penggunaan jarum suntik pada pengguna narkoba.

Tuti Parwati yang menangani kasus penderita HIV pertama di Indonesia tahun 1977 di RSUP Sanglah Denpasar menilai permasalahan yang dihadapi Odha di Indonesia semakin komplek, terutama kesehatan fisik, yakni secara bertahap kondisinya menurun sejalan dengan menurunnya imunitas tubuh.

Demikian pula gangguan psikologis yang menimpa sejak awal terjangkit virus HIV/AIDS yakni depresi dan tidak percaya diri, bahkan dilecehkan dan dipandang sinis oleh masyarakat sekitarnya.n Semua itu memperberat hidupnya yang lambat laun mengurangi semangat hidup, bahkan lebih cepat menimbulkan putus asa dan kematian, ujar Tuti Parwati. ( ant )

beritasore.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Inilah Keburukan Ganja bagi Anak saat Dewasa
  2. Kelak Manusia Dijajah Komputer
  3. Panjang Jari Manis Pengaruhi Ketampanan Pria
  4. WHO : Radiasi Ponsel Bisa Sebabkan Kanker Otak
  5. Jus Buah Vs Buah Potong
  6. Bekerja di Malam Hari Lebih Buruk Dari Merokok
  7. Terapi Nutrisi Dan Herbal Untuk Kanker
  8. Metode – Metode Aborsi, Lengkap Dengan Foto, Ngeri!! Stop Aborsi!
  9. Penyembuhan Kanker dengan Tanaman Keladi Tikus
  10. Kenapa Wanita Terlihat Lebih Tua dari Pria