Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Kinar (25) akhirnya mengunjungi dokter spesialis alergi. Bersin-bersin, pilek, dan gangguan pernapasan yang dideritanya sejak 2 tahun lalu tak kunjung sembuh dengan tuntas. Awalnya, Kinar menganggapnya sepele. Ternyata, setelah menjalani tes alergi, Kinar dinyatakan menderita alergi berat. Sayangnya, karena tidak tertangani sejak dini, alergi Kinar sudah parah dan berkembang menjadi radang sinus.

GENETIS DAN LINGKUNGAN
Faktanya, dari pengamatan dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, spesialis alergi dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, gangguan kesehatan seperti Kinar memang banyak dikeluhkan pasiennya. Alergi sering dianggap sepele, karena tidak menimbulkan kematian. “Padahal, jika terus dibiarkan, alergi bisa bertambah parah. Bahkan, alergi yang hanya muncul sesekali, berpotensi menurunkan kualitas hidup karena dapat mengganggu produktivitas kerja,” lanjut dr. Iris.

Untuk faktor genetis, alergi diturunkan dari riwayat orang tua. Jika kedua pihak orang tua memiliki riwayat alergi, maka tingkat risiko anak menderita alergi adalah 60%. Bila hanya salah satu orang tua yang menderita alergi, maka risiko alergi pada anak menjadi 30%.

Jika kedua orang tua tidak menderita alergi, tetap ada kemungkinan seseorang menderita alergi, baik munculnya ketika ia masih anak-anak maupun setelah dewasa. Jenis alergi yang satu ini biasanya muncul akibat faktor lingkungan. Misalnya, akibat reaksi hipersensitif terhadap tungau (kutu yang sangat kecil), debu, ataupun cuaca.

PERHATIKAN FAKTOR PENCETUSNYA
Pemicu alergi memang bisa apa saja, namun salah satu yang paling sulit ‘diusir’ adalah debu rumah. Pasalnya, di dalam debu rumah banyak terdapat benda-benda (protein-protein) asing seperti tungau, jamur, maupun serpihan kulit binatang. Protein asing inilah yang merangsang tubuh memproduksi Imunoglobulin Epsilon (IgE), sejenis protein spesifik yang bersifat memerangi alergen, tapi sekaligus bisa menimbulkan alergi.

Namun, timbulnya gejala alergi bukan hanya dipengaruhi alergen atau pemicu alergi, melainkan juga oleh faktor pencetus lain yang bersifat fisik maupun psikis, misalnya stres. “Keadaan tertekan dapat menurunkan kekebalan tubuh, sehingga memicu timbulnya beragam penyakit yang sebelumnya sudah ada dalam tubuh, termasuk penyakit alergi,” jelas dr. Iris.

TES ALERGI, PENTING!
Selama ini, tes alergi yang umum dilakukan adalah tes tusuk (skin prick test), yaitu tes kulit di bagian volar (lengan bagian bawah, dekat telapak tangan) dengan cara memasukkan alergen melalui jarum suntik. Seiring perkembangan teknologi kedokteran, jarum ini makin tipis, sehingga tidak menyakitkan.

Cara lain tes alergi adalah dengan menggunakan tes tempel (patch test), yaitu tes di bagian kulit punggung dengan cara menempelkan plester khusus. Dari hasil tes –biasanya sudah bisa terbaca setelah waktu 48 jam– bisa diketahui apa saja yang menjadi penyebab alergi. Untuk menjalani tes ini, pasien dianjurkan untuk sementara waktu tidak membasuh tubuh dengan air dan menghindari aktivitas yang mengundang produksi keringat, agar bahan-bahan tes tidak menghilang dari plester.

“Eliminasi kekebalan hanya bisa dilakukan untuk alergi makanan. Misalnya, untuk mereka yang alergi terhadap udang, jika kondisi tubuh sedang sehat, bisa dicoba dengan mengonsumsi udang sedikit demi sedikit. Tetapi, cara ini tidak berlaku pada dua kategori alergi lainnya,” lanjut dr. Iris.

femina-online.com 


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Teh Cegah Gigi Berlubang
  2. 6 Penyakit Berikut Bisa Diwariskan Dari Ibu
  3. 7 Gerakan Senam Mata Mempertajam Penglihatan
  4. Aturan Makan Mi Instan, Agar Tehindar dari “Racunnya”
  5. Ternyata Kismis Banyak Manfaatnya Untuk Kesehatan
  6. Tetap Sehat Meski Merokok
  7. Inilah 9 Tips Untuk Menjaga Kecerdasan Otak Anda
  8. 6 Alasan Mengapa Kita Ogah Olahraga
  9. Infeksi Jamur Daerah Genital
  10. Anak juga Bisa Menderita Diabetes