Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia tiap tahun semakin meningkat. Hal itu terbukti dari data jumlah estimasi kasus HIV/AIDS yang dimiliki Departemen Kesehatan, tahun 2004 sebanyak 1.196 kasus, tahun 2005 sebanyak 2.038 kasus, tahun 2006 sebanyak 2.373 kasus, dan tahun 2007 yaitu 2.547 kasus.

Dan kelompok umur terbanyak pada kasus AIDS di Indonesia adalah usia 20-39 tahun sebesar 54 persen, disusul kelompok usia 30-39 tahun sebesar 27,96 persen. Hal tersebut menurut Kasubdit AIDS dan PMS Depkes, Dr Sigit Priohutomo MPH, karena kurangnya kesadaran masyarakat yang masih melakukan hubungan seks bebas dan penggunaan jarum suntik secara bebas.

“Lima tahun terakhir, kasus AIDS terbanyak disebabkan karena penggunaan jarum suntik untuk narkoba. Kasus terbesar berada di wilayah Jakarta, dimana 80 persen orang yang memakai jarum suntik dan berbagi pemakaian secara bebas, 100 persennya dipastikan terkena AIDS,” ungkap Sigit dalam seminar nasional “Manajemen Kasus HIV/AIDS dalam Transfusi”, Sabtu (12/4) di gedung UTD PMI Cabang Kota Semarang.

Hadir pula dalam acara tersebut dr Gatot Suharto dari ilmu kedokteran forensik dan medikolegal Undip, serta dr Shofa Chasani SpPd sebagai moderator. Namun, lanjut dia, bagaimanapun juga penderita AIDS tak ubahnya seperti penderita diabetes dan hepatitis. Penderita bia sembuh, meski harus minum obat seumur hidup.

“Penyakit ini adalah penyakit seumur hidup. Pengobatan pada prinsipnya untuk menambah kualitas hidup penderita. Tidak karena HIV pun, orang bisa meninggal. Bahkan penularan hepatitis jauh lebih cepat dibanding AIDS. Karena AIDS hanya menular melalui hubungan seks dan penggunaan jarum suntik bersama,” paparnya di hadapan puluhan peserta.

Kerahasiaan Pasien HIV

Sementara itu, dr Gatot mengatakan, selama ini belum ada undang-undang yang melindungi pengidap HIV dari diskriminasi, atau yang belum terkena HIV dari kemungkinan tertular. Tenaga kesehatan selalu terbentur dengan persoalan apakah harus membela hak masyarakat yang mungkin terkena AIDS bila tidak ditangani dengan baik, atau membela hak orang dengan HIV/AIDS. “Sejak zaman Hippocrates, tugas dokter menjaga kerahasiaan informasi pasien adalah dasar pokok etika kedokteran,” tuturnya.

Menurut Gatot, asas kerahasiaan HIV/AIDS boleh dikesampingkan bila dalam keadaan kewajiban untuk memberitahu pihak ketiga dinilai lebih penting. Selain itu, jika pengadilan memerintahkan pengungkapan informasi dan jelas adanya sikap acuh terhadap keselamatan jiwa orang tertentu.

“Yang jelas, asas kerahasiaan tidak boleh diabaikan. Izin dengan penuh kesadaran dan jelas, harus diperoleh dari pasien sebelum status HIV-nya diberitakan kepada orang lain,” jelasnya.

suaramerdeka.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Pernah Lihat 5000 Orang Telanjang? Nich Fotonya! Di Sydney Opera House!
  2. Opera Luncurkan Mobile Browser 9.5 Versi Beta
  3. Mau Nonton Suster Keramas? Jangan Lupa Bawa KTP
  4. 5 Merek Abon & Dendeng Mengandung Babi
  5. Arab : Rumah Tak Dikunci Saat Lebaran
  6. Pengumuman Pemenang Kontes SEO NowGoogle.Com
  7. Video Hot “Lohan – Best” Beredar di Internet
  8. Google Rayakan Ulang Tahun Ke-10
  9. Terkena HIV Langka tipe HIV-1 strain-N, Setelah Liburan dari Togo
  10. Ilmuwan Di London Klaim Temukan Obat Kanker