Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Kenapa Perempuan Lebih Cerewet ? Inilah Penyebabnya. Ketika Anda memasuki kantin, suara siapa yang paling ramai terdengar? Pasti suara para perempuan. Makin riuh perbincangan yang dilakukan, makin kencang suara mereka. Sepertinya, masing-masing berusaha mengalahkan suara yang lainnya.

Perempuan memang sejak lama diketahui lebih banyak berbicara daripada pria. Menurut penelitian terbaru dari University of Maryland School of Medicine, hal ini disebabkan tingkat senyawa kimia yang disebut FOXP2 dalam otak kaum perempuan.

FOXP2 bolehlah disebut “protein bahasa”, yang memegang peran penting dalam perkembangan bahasa. Perempuan memiliki lebih banyak protein bahasa sehingga rata-rata perempuan berbicara 20.000 kata sehari. Itu artinya, 13.000 kata lebih banyak daripada rata-rata pria.

“Penemuan utama kami adalah bahwa protein FOXP2 ini terlibat dalam vokalisasi. Kami tidak bisa mengatakan bahwa ini satu-satunya alasan, tetapi merupakan satu dari kemungkinan-kemungkinan pertama ketika kita bisa mulai mengeksplorasi mengapa perempuan cenderung lebih verbal daripada pria,” ungkap Mike Bowers, salah satu dari tim peneliti.

Dalam studi yang diterbitkan di Journal of Neuroscience ini, peneliti menguji sekelompok anak berusia 4 dan 5 tahun, dan mendapati bahwa pada anak-anak perempuan ditemukan protein bahasa 30 persen lebih banyak.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa mereka masih perlu memahami lebih jauh bagaimana gen ini mampu memengaruhi kemampuan berbicara manusia, terkait dengan fungsi-fungsi otaknya.

sumber: kompas.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Masuk Angin Bisa Berujung Maut
  2. Beda Takut dan Fobia
  3. Ternyata Memutihkan Gigi Lebih Banyak Ruginya
  4. Alasan Masyarakat Kelas Bawah Makannya Banyak?
  5. 9 Langkah Memilih Affiliate Program yang Tepat
  6. Islam Menerima Kaum Homoseks?
  7. Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika
  8. Mengobati Leukemia dengan Racun
  9. 4 Jenis Warna Dasar Kepribadian
  10. Kopi Tak Seburuk yang Dikira?