Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Arsenik disebut racun lemah lantaran daya serapnya dalam tubuh memang tidak secepat jenis racun lainnya. Perlahan tapi pasti jenis racun ini baru bereaksi setelah beberapa jam si korban memakainya, bahkan bisa bertahun lamanya, hingga dianggap sebagai salah satu penyebab sakit kanker, diabetes, serangan jantung, dan stroke. Dalam waktu yang lebih panjang bisa menimbulkan sakit lever, serta kehancuran organ tubuh secara perlahan-lahan.

Bagi para penggemar kisah novel misteri karangan Agatha Christie, cerita pembunuhan dengan menggunakan racun arsenik mungkin bukan barang baru lagi. Jenis racun ini digunakan oleh sang pengarang sebagai bahan pembunuh yang baru bisa bereaksi beberapa jam setelahnya. Hingga modus pembunuhan dapat dialihkan dengan alibi sempurna.

Bukan Agatha Christie saja yang menggambarkan unsur racun ini sebagai pembunuh dahsyat. Edmon Dantes, tokoh pahlawan dari novel Monte Christo karya Alexandre Dumas juga sempat memberikan profil kedahsyatan unsur kimia berinisial ‘As’ tersebut. Cuma bedanya dengan kisah Agatha Christie, Alexandre Dumas lebih mengarahkan pemakaian jenis racun ini sebagai tameng penangkal guna melenyapkan musuhnya.

Dengan mengonsumsi arsenik secara teratur dan terus-menerus, Dantes mendapatkan daya imun yang makin menebal pada tubuhnya. Hingga tiba saatnya ia mampu menahan racun arsenik pada porsi memadai untuk membunuh orang. Ia gunakan kemampuan itu untuk memanipulasi pembunuhan musuh bebuyutannya. Tapi, yang hebat mungkin bukan cerita itu saja. Sebab ternyata Dante menggunakan juga jenis racun ini untuk menyembuhkan penyakit yang timbul pada anak kekasih lamanya.

Ide menggunakan racun untuk menyembuhkan ternyata sudah ada sejak lama. Mengingat beredarnya buku Monte Christo itu sudah sejak abad 19 adanya. Dan persoalan tersebut kini menjadi makin menarik, lantaran sebuah penemuan baru para peneliti dari Universitas John Hopkins, Baltimore AS, yang memberikan kemungkinan baru penggunaan arsenik sebagai obat penyembuh leukemia (kanker pada darah putih).

Obat Leukemia
Kemungkinan baru itu juga dibenarkan oleh Dr. Chi Dang, selaku juru bicara tim peneliti. Menurutnya, studi telah menemukan bahwa arsenik ternyata memiliki daya kerja mirip dengan byrostatin, sejenis racun yang dihasilkan hewan karang laut hingga kini diyakini sebagai salah satu obat paling masuk akal untuk menyembuhkan kanker.
Normalnya, darah putih bekerja untuk membunuh bakteri. Ia mengeluarkan sejenis enzim untuk membunuh bakteri. Namun, karena kanker produksi oksigen pembunuh itu menjadi melemah.

NADPH oxidase, senyawa oksigen yang seharusnya dihasilkan darah putih untuk membunuh bakteri jadi melemah juga saat seseorang menderita leukemia. Namun untungnya ditemukan byrostatin yang juga memproduksi jenis oksigen lain sebagai lawan bakteri pada tubuh. ”Arsenik juga mengeluarkan enzim sejenis tersebut. Ia menyemburkan oksigen negatif untuk mengurangi daya serang bakteri pada tubuh, dan kemudian juga membunuh dirinya sendiri,” kata Dr. Dang.
Namun kekurangannya, arsenik tidak mampu banyak menghasilkan zat oksigen negatif tersebut. ”Jadi kami juga gunakan byrostatin secara berbarengan untuk melengkapi kekurangan arsenik,” tambah Dr. Dang lagi.

Perpaduan dua zat tersebut ternyata menguntungkan juga secara jumlah dosis. Karena apabila menggunakan produk penyembuh kanker lain mencapai jumlah sepuluh. Arsenik dan byrostatin hanya satu saja. ”Itu berarti berkurangnya jumlah dosis pengobatan kanker,” tambah Dr. Wen Chien Chou yang juga bekerja pada tim ini.

Arsenik
Arsenik sebagai racun ternyata banyak juga terdapat di sekeliling kita. Karena senyawa ini selain bisa terhirup, juga berada pada material keras dan cair di sekeitar kita. Penelitian Water UK, sebuah LSM mengenai air di Inggris tahun 2001 lalu menunjukkan, arsenik dapat ditemukan pada gelas-gelas yang kita gunakan, pada kayu-kayu perangkat rumah tangga, di bagian-bagian alat elektronik, dan yang lebih menakutkan ia juga berada pada aliran-aliran air yang mungkin kita minum juga nantinya.

Daya serapnya yang cenderung rendah itu, malah menjadi racun sejenis bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Yang tak kalah repot, gejala yang ditimbulkan tidak sama antara satu penderita dan yang lainnya. Banyak kasus pendahuluan seperti sakit perut dan akhirnya muntaber. Namun bila didiamkan bisa juga berbentuk seperti gejala sulit bernapas, detakan jantung yang tak normal dan peredaran darah yang tidak normal. Sedangkan secara jangka panjang gejalanya dapat terlihat pada kulit yang makin lama, makin gelap.

Tak salah memang kalau jenis racun ini sangat menakutkan keberadaannya. Daya serangnya yang lemah jelas menyimpan sistem penghancuran secara tak terdeteksi. Tapi di balik itu semua, ternyata kita bisa manfaatkan untuk melengkapi kurangnya satu fungsi tubuh seperti leukemia tadi.

Kalau saja semua jenis negatif seperti unsur ini bisa dialihkan menjadi sebuah hasil positif, mungkin semakin banyak harapan yang dapat kita lihat di bumi ini. Sebab apalagi yang tetap bisa membuat manusia melangkah, selain masih mungkinnya ada harapan di depan mereka.(str-sulung prasetyo)

sinarharapan.co.id


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Bondage, Sadism dan Masochism
  2. Ternyata Kopi Tidak Terbukti Bikin Mata Melek
  3. Wanita Paling Stres Umur 27 Dan Paling Menarik Di Umur 31
  4. 8 Misteri Otak yang Harus Anda Ketahui
  5. Kurangi Risiko Kanker Dengan Cabai
  6. 15 Ciri Pria Berbakat Kaya
  7. Inilah Efek dan Pengobatan Serangan “Gigitan” Tomcat
  8. Penyakit Timbul dari Hati
  9. 10 alasan mengapa memilih WordPress.com
  10. Anda Perempuan Berpinggang Lebar, Siap-Siaplah Pikun di Hari Tua