Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Banyak pasien diabetes yang melakukan kesalahan besar dengan berjalan telanjang kaki di aspal yang panas dengan alasan untuk menghilangkan kesemutan. Hal tersebut justru dapat membuat kaki luka dan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi.

Pasien diabetes harus waspada terhadap komplikasi kaki diabetik. Betapa tidak, bagi pasien diabetes dengan kadar gula tidak terkendali, masalah kaki ini dapat mengarah pada terjadinya luka yang sulit sembuh, yang kemudian akan mengalami infeksi dengan konsekuensi lebih serius seperti amputasi bahkan kematian.

“Gangguan kaki diabetik dapat terjadi ketika kendali kadar gula darah yang tidak dilakukan dengan baik dan berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun. Faktor utama penyebabnya adalah kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan gangguan pembuluh darah,” jelas Prof. Dr. dr. Sarwono Waspadji, Sp.PD,KEMD dari Diabetes & Lipid Center, Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, di acara Media Edukasi 20th Jakarta Diabetes Meeting di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Saraf yang sudah rusak membuat pasien diabetes tidak dapat merasakan sensasi sakit, panas, dingin kaki, sehingga luka pada kaki dapat menjadi buruk karena pasien tidak menyadari adanya luka tersebut. Neuropati diabetik terjadi pada lebih dari 50 persen pasien diabetes. Gejala yang umum terjadi adalah rasa kebas (baal) dan kelemahan pada kaki dan tangan.

“Karena tidak merasa panas, pasien diabetes akan anteng-anteng saja kalau jalan di jalanan panas. Malah ada yang menganjurkan jalan telanjang kaki di aspal panas untuk menghilangkan kesemutan. Itu salah besar,” tegas Prof Sarwono.

Menurut Prof Sarwono, merupakan kesalahan besar bila pasian diabetes berjalan telanjang kaki di aspal panas untuk menghilangkan kesemutan di kaki. Hal tersebut justru akan membuat kaki menjadi melepuh, menimbulkan luka, infeksi dan akhirnya harus diamputasi.

“Ada juga pasien diabetes yang kesemutan di kaki terus ditempeli botol panas bukan hangat, itu juga bisa membuat kaki melepuh,” lanjut Prof Sarwono.

Menurut data tahun 2010 yang disampaikan Prof Sarwono, penyebab terbesar terjadinya ulkus (luka di kaki) pada pasien diabetes adalah karena tekanan (mekanik), yaitu sebesar 49 persen.

“Mekanik ini biasanya karena ada batu kecil di sepatu yang nggak kerasa (karena kaki pasien diabetes baal atau mati rasa). Tapi karena dipakai seharian akhirnya lecet,” jelas Prof Sarwono.

Penyebab lain yaitu bahan kimia (2 persen), panas (4 persen), spontan (14 persen) dan lainnya (14 persen).

Kaki diabetik merupakan komplikasi kronik diabetes yang paling ditakuti karena risiko terjadinya amputasi yang cukup tinggi serta mengancam nyawa. Pemeriksaan kaki diabetik harus dilakukan secara menyeluruh, baik sebelum munculnya luka atau saat telah terjadi luka.

Selain itu juga sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kaki secara teratur setiap hari, mendeteksi jika terdapat luka atau sesuatu yang mencurigakan untuk dapat dilakukan pencegahan terhadap munculnya luka. Dengan melakukan usaha-usaha ini maka risiko terjadinya amputasi dapat diturunkan hingga 85 persen.

sumber: detik.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. 5 Tips : Cara Menentukan Dokter Yang Tepat
  2. Cegah Kanker Dengan Mengkonsumsi Beras Hitam
  3. Harapan Baru dari Peneliti Australia Untuk Atasi Rasa Lapar
  4. Tanda Awal Kanker
  5. Hati – Hati! kelebihan Karbohidrat Bisa Picu Kanker Payudara
  6. Ternyata Ciuman Mempunyai 4 Manfaat Untuk Kesehatan Anda
  7. Pahami Cara Menyimpan Obat
  8. Waspadai Serangan Radang Usus
  9. Manfaat Pepaya bagi Sperma dan Cegah Kanker
  10. Terkena HIV Langka tipe HIV-1 strain-N, Setelah Liburan dari Togo