Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Kasus tuberkulosis, biasa disingkat TBC atau TB, di Indonesia terns melaju. Rendahnya angka kesembuhan dan cakupan pemberantasan TB meningkatkan angka penularannya. Bagaimana kalau ada pengidap TB di kantor?

Ada dua jenis TB paru-paru. Sama basil TB penyebabnya, tetapi dapat berbeda jenis penyakitnya. Jika basil sudah merusak paru-paru sehingga dapat lolos keluar dari saluran pembuluh paru, jenis ini disebut TB terbuka. Artinya, ketika batuk atau bercakap-cakap, ada basil TB yang muncrat keluar dan disebarkan ke udara.

Jika kerusakan paru oleh basil TB tidak membuat basil keluar dari pembuluh paru-paru, itu tergolong TB tertutup. Tak ada basil yang muncrat dari mulut atau hidung penderita.

Sumber Penular

Pengidap TB terbuka jelas jadi sumber penular TB. Secara epidemiologis pengidap TB ini mestinya disembuhkan sampai tuntas. Program pemberian obat langsung diminum pada kasus TB, misalnya, bertujuan agar kasus TB umumnya, TB terbuka khususnya, tidak terus menjadi sumber penular bagi orang sehat di sekitarnya.

Selain penularan basil langsung disemburkan pengidap TB paru-paru terbuka, basil juga berpindah memasuki paru-paru orang sehat. Jika pengidap TB paru-paru membuang dahaknya sembarangan di lantai atau tanah, dahak itu berpotensi menjadi sumber penular juga.

Basil TB berukuran renik. Ia bisa terbang bersama debu. Dahak berbasil TB yang dibuang sembarangan akan mengering, tetapi basilnya tetap hidup.

Setelah kering, basil terbang bersama debu, lalu mencemari udara, siap dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Kita tak tahu kalau udara sudah tercemar basil TB, tidak pula menyadari kalau ada basil yang sudah memasuki paru-paru kita.

Belum Tentu Sakit

Basil TB yang masuk ke dalam paru-paru, akan merusak dan menggerogoti jaringan paru-paru. Berbeda proses penyakit paru-paru usia kanak-kanak dengan orang dewasa. Tak sama pula hasil penyembuhannya.

Biasanya serangan awal basil tidak jelas. Mungkin hanya diawali demam, tak selalu disertai batuk, mungkin nyeri dada atau sesak napas. Pasien pucat, badan semakin kurus, nafsu makan berkurang. Kondisi demikian harus dicurigai TB jika disertai batuk berbulan-bulan, nyeri dada, atau sesak napas.

Sudah tentu tidak setiap orang yang paru-parunya dimasuki basil TB pasti akan mengidap TB paru-paru. Tergantung seberapa kuat daya tahan tubuh orang yang paru-parunya tercemar basil. Kalau tubuh kuat, penyakit tidak berkembang. Contoh, anak pernah diimunisasi BCG atau badan lengkap kekebalan alaminya.

Anak yang kurang gizi, orang dewasa yang fisiknya lemah, kurang makan, letih bekerja, banyak pikiran, mengidap penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh (HIV), tergolong rentan tertular TB. Sayangnya kasus TB paru-paru sering luput dari perhatian. Baru setelah penyakit memburuk dan gejalanya kian nyata, orang datang ke dokter, misalnya batuk darah.

Batuk Berdarah

Tidak semua pasien TB paru-paru berdarah kalau batuk. Tergantung lokasi kerusakan jaringan paru-parunya. Jika mengenai bagian yang berdekatan dengan pembuluh darah paru-paru, akan memunculkan batuk disertai darah. Tergantung luas kerusakan yang mengenai pembuluh darah paru-paru, darah yang menyertai batuk hanya berupa garis pada dahak, atau batuk yang hampir semua berisi darah.

Perlu diingat, batuk berdarah bukan monopoli TB. Bisa karena tenggorokan mecadang dan terjadi luka akan memunculkan batuk berdarah juga.

Batuk darah pada kasus TB menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Proses penyakit TB-nya harus dihentikan. Jika tidak, kerusakan jaringan dan pembuluh darah akan meluas.

Makin besar jaringan paru-paru yang terkena, semakin buruk kondisi paru-parunya. Paru-paru akan menggerowong. Semakin parah tingkat keparahannya, semakin mundur fungsi paru-parunya.

Pemeriksaan BTA

Dulu untuk memastikan pengidap TB paru-paru tergolong jenis terbuka, dilakukan pemeriksaan dahak. Dengan pemeriksaan dahak “basil tahan asam”, jika hasilnya positif dapat dipastikan dahak ada basilnya, berarti jenis TB terbuka.

Sekarang pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara yang lain. Menemukan basil dengan PCR (polymer chain reaction) yang lebih canggih, dengan biaya yang tentu lebih tinggi. Namun, apa pun jenis TB yang orang idap, terapi harus segera dilakukan. Pemeriksaan foto rontgen paru-paru memastikan adanya penyakit TB.

Bila tidak diterapi atau terapi tidak tertib sampai tuntas, proses penyakit akan terus berlanjut. Kerusakan paru-paru terus merembet. Bisa terjadi, yang semula TB tertutup, kemudian berkembang menjadi TB terbuka akibat tidak diobati.

Pemeriksaan untuk tahu ada basil di dahak secara epidemiologis dinilai penting, terutama yang berkaitan dengan orang banyak. Bila pengidap TB seorang guru, perlu dipertimbangkan apakah ia boleh mengajar selama masih positif TB.

Termasuk bagi orang kantoran. Apalagi kondisi ruangan didesain berpendingin (aircon). Potensi basil TB yang tersembur ke udara oleh pengidap yang berada di ruangan, masih akan terus berkeliaran.

Mudah Disembuhkan

TB jenis apa pun, di bagian tubuh mana pun (paru, usus, tulang, ginjal, saluran indung telur), mudah disembuhkan. Syaratnya minum obat sampai enam bulan tanpa stop satu hari pun. Aktivitas fisik yang berat perlu dibatasi, apalagi kalau sudah menimbulkan keluhan sesak napas, anemia, dan berat badan di bawah normal.

Obat saja tidak cukup. Perlu udara segar beroksigen tinggi. Ventilasi rumah perlu lancar. Dulu pengidap TB perlu kamar tersendiri di sanatorium. Tujuannya selain mengisolasi, juga memanfaatkan udara segar beroksigen tinggi, untuk membantu mempercepat penyembuhan kerusakan jaringan paru.

Sekarang, pasien cukup berobat jalan. Selain ventilasi rumah dibuat lancar, perhatikan faktor gizi menu harian, khususnya menu berprotein dan zat kapur. Keduanya untuk “menembel” paru-paru yang gerowong.

Biasanya dalam waktu sebulan sejak diberikan obat, kondisi fisik sudah berubah. Badan mulai gemuk, tidak pucat, nafsu makan membaik, dan keluhan di dada mereda. Kondisi demikian acap mengecoh pasien untuk menghentikan pengobatan menyangka sudah sembuh, padahal belum.

Apabila pengobatan tidak tertib, basil TB bakal jadi kebal terhadap obat standar yang dipakai selama ini. Pada kasus demikian perlu diganti obat dari generasi yang lebih baru. Selain harga lebih tinggi, obat ini membawa efek samping lebih keras dibanding obat yang sudah lebih lama teruji. Dulu obat TB diberikan dengan suntikan (streptomycin), kini tidak lagi. Ada pilihan obat yang sama berpotensi, cukup minum tiga-empat macam setiap hari. Juga untuk kasus yang sudah kebal terhadap obat lama.

Istirahat Lebih Menyehatkan

Bagi pasien tuberkulosis, yang dikenal sebagai TBC atau TB, tidak melakukan aktivitas fisik berat dan melelahkan tentu lebih menguntungkan. Karena untuk memulihkan kondisi paru-paru yang sudah rusak bolong dan menggerowong tak cukup hanya menghentikan proses pengrusakan oleh basilnya, melainkan juga membangun kembali jaringan paru yang sudah rusak.

Diperlukan kondisi fisik yang prima. Selama aktivitas harian masih membebani tubuh, tentu tingkat kekuatan daya pemulihan tubuh lebih rendah dibanding jika memilih istirahat.

Terlebih bagi pasien jenis yang TB terbuka. Perlu dipertimbangkan ulang mengingat derajat penyakit yang sudah mengenai pembuluh darah, apalagi jika hasil pemeriksaan rontgen memperlihatkan kerusakan yang luas, sebaiknya memilih tidak beraktivitas di luar rumah dulu. Termasuk demi pertimbangan potensi pasien menularkan kepada orang-orang sekantor dan di tempat-tempat umum lainnya.

Setelah pengobatan berlangsung sampai enam bulan, dibuat foto rontgen paru-paru ulangan. Jika hasilnya menunjukkan proses TB aktif sudah tidak ada lagi, pengobatan boleh dihentikan. Sebaliknya, jika penyakitnya masih menunjukkan aktif, pengobatan dilanjutkan beberapa bulan lagi, sampai saat foto rontgen menunjukkan hasil sudah tidak aktif lagi.

Setelah terapi enam bulan, tidak boleh menganggap sudah sembuh. Kendati kondisi badan sudah baik, tidak ada keluhan, tanpa gejala apa pun, foto rontgen ulang perlu dilakukan untuk konfirmasi. Jika hasilnya belum menunjukkan sembuh tuntas, padahal obat sudah dihentikan, penyakit akan berulang kambuh kembali (post-infection TB). Yang seperti ini kerap terjadi, dan pasien tidak menyadari.

Oleh:
Dr. Hendrawan Nadesul
Dokter Umum
Senior


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Inilah 12 Pertanyaan dan Jawaban Terpopuler Soal Haid
  2. Kenapa Wanita Nyeri di Payudara & Gampang Marah Saat PMS ?
  3. Waspadai dan Kenali 7 Tanda Awal Penyakit Kronis di Tubuh Anda
  4. Apakah Anda Stres? Inilah 5 Tanda Anda Stres Berat
  5. Inilah 5 Profesi dengan Tingkat Stres Paling Tinggi
  6. Aneka Ramuan untuk Sakit Gigi
  7. Aneka Metode Pelangsingan Tubuh
  8. Atasi Nyeri Haid Dengan 7 Cara Berikut Ini
  9. Kesemutan, Gejala Penyakit Serius
  10. Tertawalah Sebelum Dilarang, Tertawa Memang Obat Terbaik