Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :



Jika anda tiba-tiba mengalami serangan dengan gejala diare hebat, demam tinggi dan disertai pendarahan saat buang air besar (BAB), bisa jadi anda terkena radang usus (kolitis ulserativa). Penyakit ini sendiri belum diketahui pasti penyebabnya.  “Namun faktor keturunan dan respons sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus,” ujar dr Riswan Joni SpB.

Ia menjelaskan, biasanya, serangannya dimulai bertahap, di mana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir.  Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering.

Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari. Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. “Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah. Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang,” katanya.

Mengenai komplikasi yang sering terjadi, dr Riswan mengatakan, perdarahan merupakan komplikasi yang sering menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi. Pada 10% penderita, serangan pertama sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi atau penyebaran infeksi.

Yang paling berat, terjadi kolitis toksik yakni kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus. Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, di mana pergerakan dinding usus terhenti, sehingga isi usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung. Usus besar kehilangan ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran. “Rontgen perut akan menunjukkan adanya gas di bagian usus yang lumpuh,” ujarnya.

Jika usus besar sangat melebar, keadaannya disebut megakolon toksik. Penderita tampak sakit berat dengan demam yang sangat tinggi. Perut terasa nyeri dan jumlah sel darah putih meningkat. Dengan pengobatan efektif dan segera, kurang dari 4% penderita yang meninggal. Jika perlukaan ini menyebabkan timbulnya lubang di usus (perforasi), maka risiko kematian akan meningkat.  “Jika terjadi perforasi, baru dipikirkan untuk dilakukan tindakan pembedahan,” ujarnya.

Selain itu, risiko kanker usus besar meningkat pada orang yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat. Risiko tertinggi adalah bila seluruh usus besar terkena dan penderita telah mengidap penyakit ini selama lebih dari 10 tahun, tanpa menghiraukan seberapa aktif penyakitnya.

Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) secara teratur, terutama pada penderita risiko tinggi terkena kanker, selama periode bebas gejala. Selama kolonoskopi, diambil sampel jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Setiap tahunnya, 1% kasus akan menjadi kanker. Bila diagnosis kanker ditemukan pada stadium awal, kebanyakan penderita akan bertahan hidup. (cy)

Lazada Indonesia


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Pahami Tubuh agar Lebih Sehat, part 1
  2. Punya Rambut Ketiak Dicukur Atau Tidak? Lebih Sehat Mana?
  3. Gejala Awal Kebotakan
  4. TBC Penyakit Berbahaya Ketiga di Dunia
  5. 6 Hal Yang Belum Anda Ketahui Tentang Fakta Payudara!
  6. 4 Tips agar Terhindar dari Penyakit
  7. Ringankan Sakit Kepala Tanpa Obat, Dengan Gerakan Yoga
  8. Manfaat Pepaya bagi Sperma dan Cegah Kanker
  9. Makan Apel=Sikat Gigi?
  10. Mau Tahu 10 Fakta Menarik Tubuh Pria ? Baca Disini