Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Makanan enak bisa ditemukan di mana-mana, dari kaki lima sampai restoran berbintang. Marilah sesekali membicarakan makanan bukan hanya dari aspek cita rasanya, tetapi juga bagaimana mempelajari aspek globalisasi bisa terkuak lewat bisnis makanan.

Dari restoran Blue Elephant di Bangkok, barangkali kita bisa mengais inspirasi mengenai bukan saja soal membikin makanan enak—restoran ini menyelenggarakan kelas masak—tapi juga cara berpikir mengembangkan diri dalam arus globalisasi. Untuk sebagian kalangan di Bangkok, Blue Elephant dikenal sebagai restoran ”berkelas” yang menyajikan makanan yang mereka klaim sebagai menu asli Thailand—Royal Thai Cuisine.

Sebenarnya, secara kebetulan saya pernah mengunjungi restoran ini sekitar dua tahun lalu. Kini, pihak restoran mengundang sejumlah wartawan dari Jakarta untuk mengetahui seluk-beluk restoran tersebut, sehubungan dengan rencana mereka untuk membuka cabangnya di Jakarta, sekitar April mendatang. Selama ini Blue Elephant telah punya belasan cabang di berbagai belahan dunia, seperti di London, Brussels, Paris, New Delhi, dan Malta. Ini kesempatan baik untuk mengetahui bukan saja yang terhidang di atas meja makan, tetapi juga dapur mereka.

Santapan Mata

Alangkah sedap aroma daun ketumbar dari Thailand (Thai saw coriander)—unsur sangat dominan dalam berbagai masakan Thai. Nooror Somany, wanita Thailand, yang bersama suaminya, Karl Steppé dari Belgia, mendirikan restoran ini, meremas daun ketumbar, meminta kami untuk mencium aromanya. Dengan terampil dia berdiri di depan kelas memasak, mengajari beberapa orang untuk mempraktikkan beberapa resep.

Dia juga mengenalkan salah satu kokinya, bernama Wichai Thanaphanupar, yang tak kalah lihai. ”Jangan meniru dia cara memotong sayur, bisa-bisa jari Anda yang terpotong,” seloroh Somany. Pada koki setingkat Wichai, dalam memasak yang dilakukan seperti main-main, sebenarnya terbaca kontrolnya yang luar biasa atas timing serta presisi. Kiranya, hanya dengan ketepatan-ketepatan itu sebuah bahan mentah terolah dalam optimasi cita rasa sampai aromanya. Setelah itu, masih ditambah lagi presentasinya yang menarik sebagai santapan mata (motto Blue Elephant adalah otentisitas, tradisi dan inovasi, serta presentasi).

Setelah digelar contoh, mulailah peserta punya giliran memasak sendiri dengan bumbu-bumbu dan material yang telah disiapkan. Masakan-masakan yang diajarkan itu nantinya disantap sendiri oleh para peserta dalam acara makan siang. Meski boleh jadi tidak enak-enak amat, menyenangkan juga merasakan masakan sendiri, atas masakan yang canggih seperti Cashew Chicken Kai Himmapan, Red Curry Fish, ataupun Yum Ma Muang Pla Grop—salad mangga dengan ikan goreng.

Globalisme

Dengan kelas memasak yang setiap harinya penuh aktivitas dengan murid antara lain para koki dari berbagai negara, serta masakan kelas keluarga bangsawan di restoran, sebenarnya ada yang lebih penting lagi di balik semua itu. Melihat proses berikut bagaimana usaha restoran ini mengembangkan diri, menjadi melihat bahwa restoran dengan gedung kuno di Sathorn Road itu hanyalah puncak gunung yang terlihat di atas permukaan laut.

Di balik itu, mereka mengembangkan semua yang mereka anggap unggul dalam tradisi (kuliner) Thailand. Bahan-bahan dipilih dari bahan terbaik, yang kemudian diolah dalam pabrikasi mutakhir dalam hal pengolahan bahan makanan. Mereka mengirim langsung semua bahan dari Thailand untuk cabang-cabang restoran mereka di berbagai kota di dunia tadi.

Pada tingkat ini dibutuhkan standardisasi mutu dalam jaringan bisnis tingkat global. Mengirim bahan mentah makanan ke negara-negara maju bukanlah urusan sepele, kalau mengingat persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti terlihat di factory mereka, daun pisang misalnya, dipotong, disteril terlebih dulu, sebelum kemudian dikemas untuk dikirimkan ke luar negeri. Uji kelayakan untuk bahan makanan yang sifatnya sensitif dilakukan dalam berbagai lini.

Keahlian menangani bahan sampai pengiriman ke berbagai negara menguak usaha yang lain, yakni menciptakan berbagai resep jadi, maupun bahan-bahan siap masak untuk usaha easy food yang pada masa kini mewabah di dunia. Saat ini, beberapa supermarket menyediakan masakan setengah jadi itu, di mana manusia-manusia super sibuk bisa tinggal membeli bahan masakan di supermarket sepulang dari kantor dan memasaknya secara mudah di rumah.

Itulah usaha besar di balik restoran Blue Elephant. Motor dari semua itu, kelihatan sekali adalah Karl Steppé, yang tadinya adalah seorang art dealer atau pialang barang-barang seni. ”Saya terbiasa berbisnis secara global,” kata Karl (pialang seni umumnya terbiasa bertindak dalam spektrum global).

Kalau soal masakan enak, kita semua bersetuju, di kaki lima kadang juga bisa ditemukan masakan istimewa. Problematik masa kini adalah bagaimana menempatkan sesuatu yang lokal dalam panggung global. Itulah yang dijawab oleh Karl Steppé.

Kompas


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Hacker Rumania Jebol Situs Symantec
  2. 23 Fakta Tentang Caleg Stress
  3. Microsoft Membeli Perusahaan Keamanan Jaringan
  4. Dare To Be, Bergabunglah Dengan Kami
  5. Pantau Keadaan Lalulintas Mudik, Dari CCTV Dishub
  6. Lima Hacker Bersejarah di Tahun 2006-2007
  7. Follow Instagramnya : Pangeran Arab Saudi Ini Sempat Tampil sebagai Model
  8. Mahasiswa UGM Temukan Obat Diabetes dari Labu Parang
  9. Inilah 20 Pacar Ronaldo Yang Semok, Montok dan Cantik