Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Resep Masakan dan Lifestyle – Niat baik membina pernikahan dengan pasangan ternyata tidak mendapatkan restu dari orangtua. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Meski Anda sudah merasa dewasa dan mampu mengambil keputusan secara matang, namun sebaiknya kita tidak mengabaikan pendapat orangtua. Terlebih hal ini menyangkut sesuatu yang serius seperti pernikahan.

Menurut psikolog keluarga Roslina Verauli, sebelum kita buru-buru menentang pendapat orangtua, sebaiknya kita mempertimbangkan apa yang menjadi sumber keberatan mereka.

“Saat kita sedang jatuh cinta, ada banyak kondisi yang membutakan kita sehingga semua serasa indah. Yang bisa melihat kekurangan kekasih adalah orang di sekitar kita, misalnya orangtua atau teman-teman kita,” kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Di episode jatuh cinta, pola pikir kita cenderung lebih subyektif. Padahal, menurut Vera episode jatuh cinta ini cepat berakhirnya.

“Cepat atau lambat kita akan sampai di episode selanjutnya, yakni fall out of love. Di episode ini biasanya konflik sering terjadi,” kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta ini.

Vera menambahkan, jika kekasih tidak diterima oleh orangtua dan juga teman-teman dekat kita, kita harus waspada. “Ini adalah sinyal bahaya. Jangan-jangan si dia memang punya kekurangan yang tidak kita lihat,” ujarnya.

Cobalah untuk mempertimbangkan apa yang menjadi keberatan dari orangtua. Jika hal yang tidak disukai tersebut tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan pernikahan, misalnya karena faktor suku, ajaklah orangtua berdiskusi. Anda bisa menunjukkan pada orangtua sisi positif yang Anda lihat dalam diri kekasih, misalnya.

Sementara itu, jika keberatan orangtua disebabkan oleh faktor-faktor yang sebenarnya memang berkaitan dengan kesejahteraan pernikahan, seperti si dia dinilai pemalas, cobalah pertimbangkan hal tersebut.

Sekarang ini mungkin Anda merasa tak masalah harus membayari biaya kencan karena kekasih belum punya pekerjaan tetap. Tetapi setelah menikah hal ini bisa jadi sumber konflik.

“Inilah saatnya memakai logika. Syarat pernikahan itu nggak cuma cinta, tapi juga kemampuan berkomunikasi, saling berbagi peran, dan juga tidak tergantung lagi pada orangtua atau sikap mandiri,” katanya.

sumber: kompas.com