Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

SAAT remaja, hormon seks terus berkembang, dorongan seksual pun tumbuh. Remaja bisa terjerumus perilaku seks berisiko, tak mustahil terkena penyakit menular seksual (PMS)!

Muda, ceria, dan bersemangat. Itulah remaja. Jadi, tak berlebihan kiranya jika ada ungkapan bahwa “masa remaja adalah masa paling indah”. Namun, di masa-masa pencarian jati diri ini seseorang juga cenderung masih “labil”, ego tinggi, dan mudah tergoda untuk coba-coba, termasuk dalam hal berhubungan seksual.

Menurut seorang staf medis dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dr Ramona Sari, tahapan perilaku seksual remaja biasanya dimulai dari pandangan mata, bergandengan tangan, berpelukan dan berciuman. Aktivitas tersebut kemudian bisa berlanjut ke necking dan petting.

Jika pasangan yang bersangkutan tidak bisa mengontrol diri, bukan tak mungkin berlanjut ke hubungan badan layaknya suami-istri. Padahal, tanpa pengetahuan dan pelindung yang memadai, bukan tidak mungkin mereka dapat tertular PMS.

“Akar permasalahannya mungkin disebabkan aktivitas seks tanpa memikirkan akibatnya,” sebut Ramona dalam presentasi yang disampaikan pada Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan Seksual Remaja serta HIV-AIDS bagi Wartawan, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Ketidaktahuan dan ketidakpedulian tersebut dapat mengantarkan remaja pada perilaku seks berisiko, seperti hubungan seks tidak terlindungi, berganti-ganti pasangan, menggunakan zat penghilang lendir kelamin, dan upaya mengobati sendiri.

Secara umum, infeksi saluran kelamin dan reproduksi dapat terjadi pada pria maupun wanita. Tentu juga jangan mengira bahwa PMS hanya dapat menular lewat hubungan intim (kelamin dengan kelamin/ koitus).
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas seksual berisiko PMS.

Selama ini banyak orang yang rutin beraktivitas seksual nonkoitus (tanpa adanya penetrasi penis ke vagina atau dubur) seperti oral seks, masturbasi berdua dan anal seks, dengan tujuan mencegah kehamilan dan menghindari risiko terkena PMS. Akan tetapi, berdasarkan hasil pertemuan para ahli ACOG menandaskan bahwa tipe-tipe aktivitas seksual tersebut tetap berisiko PMS. Dengan begitu, setiap pelakunya diharapkan tetap waspada untuk melindungi dirinya sendiri.

“Banyak orang, termasuk remaja, tidak suka memakai kondom saat berhubungan intim yang membuat mereka berisiko terkena PMS,” ujar perwakilan ACOG, Dr Richard Guido.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetri dan Ginekologi tersebut, para panelis menekankan perlunya para dokter dan pasien untuk mendiskusikan perihal seksualitas secara terbuka tanpa menghakimi. “Dengan demikian dokter dapat membantu pasiennya untuk tetap aman dan terlindungi dari PMS,” imbuh Guido.

Secara umum, oral seks memang lebih aman dibanding hubungan intim lewat vagina (vaginal seks) atau dubur(anal seks), tapi bukan berarti tanpa risiko apa pun. Pasalnya, virus penyebab herpes di kelamin, kutil di kelamin, dan hepatitis, dapat juga bertransmisi lewat oral seks. Belum lagi ancaman PMS seperti sifilis, gonore, dan klamidia. Melakukan oral seks dengan penderita gonore misalnya, dapat menyebabkan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal), yang bisa menyebabkan keluhan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.

Terkait transmisi HIV, risiko tertinggi berturut-turut terdapat pada hubungan intim lewat dubur (anal seks) dan vagina (vaginal seks). Akan tetapi, kasus HIV yang terkait oral seks juga pernah ditemui. “Aktivitas seksual nonkoitus tidak menjamin hubungan seks yang aman!” kata Guido.

Mereka menganjurkan penggunaan kondom yang tepat dan konsisten untuk semua aktivitas seksual, terutama vaginal dan anal seks. Upaya pencegahan lainnya adalah dengan tetap setiap pada satu pasangan saja, dan melakukan cek PMS sebelum memulai hubungan yang baru. Cara lainnya yang dianjurkan oleh tim komite ACOG adalah membersihkan segala alat bantu seksual (sex toys) dari sekitar kita.

Mereka juga merekomendasikan setiap wanita usia 25 tahun atau kurang, yang aktif secara seksual, untuk melakukan skrining penyakit klamidia setahun sekali. Sementara setiap remaja yang aktif secara seksual sebaiknya menjalani skrining gonore. Komite ACOG juga menggarisbawahi bahwa kaum lesbian juga sebaiknya melakukan skrining yang sama seperti wanita heteroseksual umumnya.

“Mayoritas lesbian umumnya juga pernah berhubungan seksual secara aktif dengan pria. Kalaupun yang bersangkutan tidak pernah melakukannya, dia perlu tahu bahwa hubungan intim antara dua wanita tetap berisiko PMS,” sebutnya.

sumber: okezone.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Obat Penurun Kolesterol Aman Dikonsumsi Jangka Panjang
  2. Mau Tau Cara Menggemukkan Badan?
  3. Waspadai Kanker Payudara Pada Pria
  4. Ingin Hidup Sehat? Bergosip Saja
  5. Beberapa Obat-obatan Bikin Anda Gemuk
  6. Inilah Cara Alami Buang Racun dalam Tubuh
  7. Cara Langsing : Inilah 7 Rahasia Langsing Perempuan Jepang
  8. Agar Tidur Lebih Nyenyak
  9. Apakah Anda Sehat? Tes Dengan 4 Cara Sederhana Berikut
  10. Fakta Tentang HIV dan AIDS