Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Merekam pose bugil atau bahkan hubungan seksual bersama pasangan menjadi fenomena mendunia. Ilusi privasi menjadi alasannya, yakni perempuan merasa aman dan percaya dengan pasangan yang meminta aktivitas seksual mereka direkam. Kemudian, meyakini bahwa rekaman dengan teknologi yang bersifat privasi tak mungkin diketahui orang lain selain pasangan.

Peri Umar Farouk, Ketua Komunitas Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK) menjelaskan, ilusi tentang privasi inilah yang membuat perempuan (yang kebanyakan menjadi korban), mau direkam bugil.

“Mereka merasa bahwa menyimpan sesuatu di teknologi informasi itu privat. Padahal teknologi sangat gampang beralih ke publik. Dengan ilusi privasi ini, perempuan merasa pasangan akan melindungi, terlalu percaya dan menganggap hubungan akan langgeng,” papar Peri kepada Kompas Female.

Peri memaparkan proses dokumentasi umumnya tidak dilakukan saat pasangan pertama kalinya making love. Artinya, perilaku permisif pihak perempuan maupun lelaki mempengaruhi tindakan ini. Dengan sedikit rayuan, perempuan akan luluh hatinya dan bersedia memenuhi permintaan lelaki. Rayuannya, dengan direkam pasangan bisa saling melepas rindu dengan menyaksikan kembali video mereka.

Menurut Peri, pola perekaman perilaku seksual seperti ini biasanya diawali dengan rayuan. Pasangan melakukan sukarela, meski kemudian kecenderungannya muncul ancaman seksual bahkan ekonomi. Ancaman seksual bisa terjadi dengan melihat pola awalnya.

“Polanya, lelaki merayu perempuan melakukan adegan bugil sebagai tanda cinta, lalu direkam. Setelah materi dipegang, ancaman meningkat, lelaki meminta making love. Jika tidak, video bugil akan disebarkan. Dengan begitu lelaki bebas mengeksploitasi,” jelas Peri, menambahkan dari kasus yang ditemukan JBDK terlihat adanya ancaman ekonomi, ketika pasangan akhirnya menikah dengan orang lain, dan lelaki (mantan pacar) memeras secara ekonomi.

Meskipun begitu, kata Peri, yang terjadi di Indonesia maupun di Amerika, sebagian besar modusnya adalah eksperimen remaja yang berawal dari keisengan, kesenangan, ungkapan kasih sayang dengan adanya tekanan, dan hadiah seksi dari pasangan (sexy present).

Data JBDK menunjukkan, dari 800 video porno yang terkumpul selama kurun 2007-2010, hampir 90 persennya adalah adegan ML. Bahayanya, rekaman video lebih banyak menunjukkan rupa perempuan daripada lelakinya. Lebih berbahaya lagi ketika ditemukan video beredar karena faktor kecerobohan. Terlihat pola yang sama dari kasus-kasus yang ada: rata-rata video beredar setahun sejak proses pendokumentasian. Motifnya juga serupa, karena bertengkar, putus hubungan, alat dicuri atau hilang, dan karena keisengan teman.

Korban tidak menyadari bahaya menyimpan gambar dalam gadget yang tidak pernah bisa dihapus (restore), atau rawan dari berbagai hal seperti kehilangan.

sumber: kompas.com, din


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Benarkah 8 dari 10 Lelaki Berselingkuh?
  2. Bahaya Bahan Pengawet Mi Instan, Pengaruhi Organ Tubuh
  3. Muda-Muda kok Mudah Lupa ??
  4. Posisi Duduk Wanita, Cerminkan Kepribadiannya!
  5. Sperma Bisa Tembus Kain Lho!
  6. Facebook Biayai Perang di Gaza, Israel Vs Palestina. Kombes.Com?
  7. Fanatik pada Warna Tertentu? Apakah Ada Kelainan?
  8. Volume Otak Besar, Hidup Lebih Panjang
  9. Bagaimana Cara Kerja Tusuk Jarum / Akupunktur?
  10. 7 Faktor Penentu Ukuran Payudara