Pulpen - Pen Promosi Murah, Klik Disini!Pin Promosi Murah, Klik Disini!


Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :



Janda-janda kaya menggelar pesta di akhir pekan atau akhir bulan. Sekedar merayakan ulang tahun, arisan sampai foya-foya. Ujung-ujungnya, berakhir menjadi pesta memabukkan. Tidak saja oleh ragam minuman beralkohol, tapi juga perilaku masygul.

Lembaran Jakarta mengukir cerita yang amat beragam. Kehidupan duniawi yang serba metropolis dan kosmopolit tak ubahnya seperti anggur manis yang menggiurkan dan siapapun tergoda untuk mereguknya. Tapi banyak yang terlena, hingga mabuk dan larut lupa diri. Anggur itu pun berubah menjadi racun yang memabukkan. Tak ayal, racun itupun terus deras mengalir ke urat nadi membuat beberapa wanita harus berstatus janda. Harta kekayan yang melimpah, ternyata tak menjadi jaminan seorang wanita bisa mereguk kebahagiaan sejati. Rumah tangga retak, adalah hal biasa yang seolah menjadi agenda rutin. Harta kekayaan sebenarnya menjadi anggur manis yang enak dan lezat, asal tahu batasannya. Rumah tangga ibarat surga dunia buat pasangan suami istri ketika dibangun di atas pondasi kasih sa-yang tanpa pamrih. Tapi apa lacur, banyak orang mereguk anggur tak tahu kadarnya hingga lupa daratan. Harta kekayaan menjadi berhala yang memperbudak diri, dan rumah tangga cerai-berai tanpa makna yang tersisa.

Akibatnya, ketika semua terbuang lepas, status janda membuat beberapa wanita kaya hidup dalam kegamangan. Paling tidak, itulah yang dialami Shinta, 27 tahun, janda seorang pengusaha kafe yang bekerja di sebuah perusahaan tambang dan Monica, 29 tahun, janda anak mantan wali kota satu di salah satu wilayah DKI Jakarta. Mereka yang dalam hal materi serba kecukupan bahkan boleh dibilang berlebih, harus hidup dalam canda tawa semu. Hambar dan basi. Gaya hidup kafe, hura-hura dan senang-senang seperti menjadi hiasan luar. Di dalam batin, mereka menjerit di alam kesepian.

Pesta Amburadul.

Sebagai janda, mereka punya komunitas tersendiri. Hampir tiap malam, mereka kerap mangkir di kafe ZB, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Mereka reserved tempat yang muat untuk 10-20 orang. Yang datang tidak melulu wanita, tapi beberapa diantaranya pria berumur. Mereka termasuk tamu eksklusif. Para awak kafe menjadikan mereka tamu istimewa. Sebagai costumer, mereka termasuk katagori kelompok yang spendmoney dalam jumlah besar. Di kafe ZB itulah, kami mengenal Shinta dan Monica. Keduanya tampak supel, ramah dan enak diajak bicara. Biasanya, Shinta, Monica dan beberapa gank-nya, sering melewatkan jam-jam sore dengan mangkal di kafe-kafe mal seperti yang terdapat di Plaza Senayan. Kalau tidak begitu, mereka sering menghabiskan waktu dengan bersantai di salon kecantikan.

Ya, apalagi kalau tidak untuk ngrumpi tentang segala persoalan sambil merawat diri. Selain itu, mereka juga punya gang arisan bulanan yang diselenggarakan dari kafe ke kafe. Kalau tidak begitu, diadakan di rumah pribadi. Dari salah satu kelompok janda tersebut, kami mengenal dengan baik satu di antaranya, sebut saja Shinta. Dan dalam satu kesempatan di bulan Desember 2001, kami tak menolak ketika Shinta meminta kami untuk mengabadikan pesta ulang tahun Monica yang ke-29. Pesta itu digelar di ballroom sebuah hotel berbintang empat, sebut saja hotel GH, di kawasan Jakarta Selatan. Hotel tersebut berada di sebuah kawasan yang di sekelilingnya dijejali aneka restoran yang menjual aneka masakan. Dari yang khas Indonesia sampai mancanegara. Tak jauh dari hotel GH terdapat sebuah plaza yang pada tahun 1996 pernah jadi arena lokasi mejeng sejumlah anak-anak gaul Jakarta, sebelum mereka pindah ke Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan. Pada hari yang ditentukan, kami datang ke lokasi. Jam baru menunjuk pukul 19.25 WIB. Dalam undangan disebutkan, pesta baru akan dimulai pada pukul 21.00 WIB.

Kami memutuskan untuk melihat-lihat suasana ball-room. Letaknya berada di lantai dua. Para awak hotel sibuk men-desain ruangan. Bunga-bunga beraroma harum, meja makan dan bar mini. Ball-rom seluas dua kali lapangan bola voli itu nyaris kering. Yang tampak hanya hamparan permadani warna-warni dengan bias lampu warna kuning keemasan. Lewat setengah jam kemudian, Monica, yang punya hajatan, datang ditemani beberapa karibnya. Tampak Shinta berjalan di samping. Malam itu, ia mengenakan gaun panjang warna ungu dengan belahan V, sementara Shinta membalut tubuh rampingnya dengan sack-dress hitam selutut. Kaki belalangnya menjadi daya tarik tersendiri bagi mata lelaki. Di leher Monica dan Shinta menggelantung untaian kalung mutiara. Tamu-tamu mulai berdatangan. Di meja tamu, dua gadis dengan senyum ramah mempersilakan tamu untuk masuk. Di pintu masuk, Monica dan Shinta me-nyambut kedatangan teman-temannya dengan kecupan di pipi kanan dan kiri.

Malam itu, mayoritas tamu yang datang wanita berusia di atas 25 tahun. Semua mengenakan busana pesta yang serba ‘wah’ dan glamour. Tak heranlah kalau tamu Monica dan Shinta, kebanyakan wanita berduit. Monica sendiri membuka usaha bisnis garmen dan butik merek terkenal dari luar negeri. Sebelum menjanda, Monica bersuamikan seorang pengusaha minyak. Sedangkan Shinta menjadi direktur di sebuah perusahaan tambang. Hebat juga. Rupanya, sebelum cerai, suaminya termasuk keluarga pejabat teras di masa Orde Baru. Dari suaminya, Shinta dikaruniai dua orang putra, masing-masing berusia 16 dan 19 tahun. Monica sendiri mendapatkan satu putra baru berumur 4 tahun dari perkawinan pertama. Menjelang pukul 21.00 WIB, tamu-tamu mulai memenuhi ruangan ball-room. Pesta digelar ala standing-party. Puluhan wanita yang jumlahnya mencapai 40 orang berbaur jadi satu dalam suasana riuh penuh canda. Sekitar 25 pria yang datang, membuat kelompok tersendiri. Pria-pria itu kebanyakan sudah berumur. Di antara kerumunan tamu itu tampak beberapa selebritis papan atas.

Ada penyanyi muda yang sedang naik daun, sebut saja SN dan seorang aktor sinetron yang punya wajah ganteng dan menjadi idola wanita, sebut saja JT. Pintu ball-room ditutup. Awal acara dibuka dengan makan dan minum. Bar mini yang dijaga dua staf hotel, tampak sibuk membuat beragam racikan minuman beralkohol. Di sela-sela makan-minum, seorang MC terkenal yang kerap mengisi sebuah acara di satu salah tv swasta, sebut saja Antoni, muncul di kerumunan tamu. Anton memanggil beberapa wet-dancers pria-wanita yang hanya mengenakan Gstring tipis. Mereka menari selama kurang lebih 45 menit dengan liukan-liukan maut dan menggoda. Tepuk tangan riuh mengiringi aksi para penari. Beberapa pria yang berdiri di deretan depan, sesekali menebar tawa genit dan menggoda. Ada juga yang nekad menirukan tarian tanpa malu-malu. Begitu juga dengan para wanita. Dari tamu wanita yang datang, beberapa diantarnya ikut bergoyang tak kalah gesit. Acara dilanjutkan dengan munculnya SN yang melantunkan tiga tembang cinta. SN sendiri, menurut Shinta, merupakan kawan dekat Monica.

Di blantika musik nasional, namanya mulai berkibar belakangan terakhir. la khusus diundang Monica untuk memberikan kado ultah berupa ‘lagu’. Pemotongan kue ulang tahun dilakukan pada pukul 23.00 WIB. Kue pertama diserahkan Monica pada seorang pria bernama, Joseph, 33 tahun. Kami tak begitu mengenalnya laki-laki itu. “Cium dong. Masak dianggurin!” Beberapa teman Monica berteriak menggoda Monica. Rupanya, teriakan itu membuat Monica tak segan-segan mencium si Boy cukup lama. Pria berwajah cukup tampan namun sedikit gemuk itu, mau tak mau melayani ciuman Monica, hangat. Tepuk tangan bergemuruh di ruangan ball-room. “Joseph lagi dekat sama Monica. Baru dua bulan,” tukas Shinta menjelaskan kepada kami. Pesta malam itu berlanjut dengan acara disco-time. Lagu-lagu R&B, Acid Jazz bahkan garage membahana lumayan keras. Kali ini, puluhan tamu benar-benar menikmati suguhan minuman yang ada. Denting gelas bercampur hiruk pikuk musik dan canda tawa mewarnai pesta yang terus berjalan mengiringi malam.

Makin malam, pesta itu makin meriah dan menjadi-jadi. Beberapa tamu undangan diantaranya IK dan DA pamitan pulang. Begitu juga dengan tamu-tamu lain. Jam sudah menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Di ruangan ball-room itu tinggal tersisa sekitar 25 orang. Kebanyakan dari mereka adalah temanteman dekat Monica dan Shinta. Kami diperkenalkan dengan tiga wanita yang menjadi “gank” seperjalanan. “Ini Marcela, Jeny, dan Joice. Kita ini sama lho, golongan janda-janda kembang,” tukas Shinta blak-blakan tanpa beban. Kelima wanita berstatus janda itu polahnya makin berani. Aroma alkohol menebar tiap kali mereka tertawa lepas. Genit, centil dan cuek. Mereka benar-benar bertingkah layaknya anak-anak muda yang doyan ‘gaul’ di malam hari. Padahal, dari sisi umur, mereka sudah tak lagi muda. Marcela berusia 26 tahun dikaruniai dua putra. Jeny sudah berkepala tiga dan dikaruniai tiga putra. Sedangkan Joice yang relatif lebih muda, 25 tahun, baru enam bulan menjanda dan belum berputra.

Ketiganya termasuk pejalan malam. Hampir di semua kafe elit di Jakarta mereka tercatat sebagai member-guest. Para awak kafe sudah hapal dengan mereka. Tiap kali datang ke suatu acara, mereka selalu membawa pengawal. Kabarnya, ketiganya menjadi istri simpanan pria-pria keturunan yang berduit. Mereka mulai menyatu dengan beberapa pria yang hadir. JT, aktor sinetron yang memiliki wajah ganteng dan badan kekar, menjadi pusat perhatian para wanita yang hadir malam itu. Kelompok Monica Cs, termasuk yang paling getol membikin polah aneh-aneh supaya JT tertarik. Yang paling getol adalah Shinta dan Joice. Dengan tanpa malu-malu, keduanya menempel JT. Berulang kali, mereka mengajak JT berdansa, toast dan berpose bersama. Dasar JT dikenal sebagai aktor mata keranjang, ajakan itu tak pernah ditolaknya. Pada satu kesempatan ia berada dalam pelukan Shinta, di lain waktu ia sudah pindah ke Joice dan Jeny. Begitu seterusnya. Di sudut lain, beberapa pasangan tampak asyik bersuka ria. Monica dan Joseph yang sama-sama mabuk, berpelukan erat meski lagu yang melantun terdengar berirama ‘garage’.

Di sudut lain, beberapa wanita tertawa lepas. Marcela yang berada di tengah-tengah mereka, menjadi leader yang membuat suasana makin panas. Mereka seolah tiada henti toast bersama. Dua pria yang ada diantara kerumunan para wanita itu di’plonco’ habis-habisan. Bayangkan, dua pria yang sudah mabuk itu berulang kali disuguhi tontonan wanita yang dengan genit menanggalkan bajunya separoh badan. Marcela sendiri dengan cueknya menanggalkan gaun malamnya hingga yang tampak sepasang bra tipis. Lantaran pesta malam itu didominasi para wanita, beberapa pria yang jumlah-nya sekitar delapan orang itu nyaris menjadi bulan-bulanan Monica Cs. Klimaks pesta malam itu diakhiri dengan acara pose bersama dengan gaya ‘panas’. Dalam keadaan setengah sadar, mereka tanpa malu-malu lagi difoto seksi. Marcela, Joice dan Shinta misalnya, begitu berani mempertontonkan bagian-bagian sex-appeal yang terbungkus gaun pesta. Sesekali diiringi teriakan histeris yang memekakkan telinga. Beberapa petugas hotel yang berjaga, hanya bisa geleng-geleng kepala.

Mereka hanya bisa ikut tertawa menyaksikan polah tingkah yang berani itu. Beberapa tamu yang masih malu untuk bergabung, memilih diam sambil asyik dengan gelas minuman sambil sesekali mengacungkan gelas sebagai tanda support. Strip Dancers. Menjelang pukul 03.00 WIB dini hari, pesta bubar. Yang tersisa tinggal Monica and the gank dengan JT, Joseph dan dua pria karib Shinta dan Jeny. Usai pesta, mereka tak langsung pulang. Dalam keadaan mabuk, mereka ramai-ramai menuju lobi. Di tempat itulah mereka membuat kesepakatan untuk melanjut- kan pesta di pub-karaoke di NS di bilangan Thamrin. Tempatnya masih tergolong baru karena baru sekitar 1 tahun beroperasi. “Aku sudah reserved tempat. Kita pesta sampai pagi,” tandas Monica yang bersandar di bahu Joseph.

Satu per satu mobil jemputan mereka datang. Hampir semua mobil bermerek mewah. Monica mengendarai BMW seri 5 warna biru donker bersama si Boy. Shinta dijemput mobil Mercedez E 230. Marcela, Joice dan Jeny berada dalam satu mobil Caravel, sementara JT dan dua pria lain masing-masing mengendarai Cheeroke dan Volvo 960. Perjalanan menuju NS memakan waktu sekitar setengah jam. Monica rupanya membooking ruangan VIP. Ruangan itu terletak di lantai dua. Lokasinya tak jauh dengan ruangan bola biliard khusus No Smooking Area. Dua pelayan menyambut kami dan langsung menyodorkan menumenu spesial. Ruangan VIP itu dikelilingi kaca dan ditutup dengan kelambu tebal. Tiga botol white wine, sebotol Chivas Regal dan Jack Daniels langsung dipesan Joseph. Monica Cs masing-masing order Margarita, BV2, Long Island dan Calua Cream. Di ruangan VIP seluas 10 X 10 meter persegi itu tertata rapi sofa warna pink dengan dua meja. Di depannya terdapat sebuah televisi 29 inci. Monica Cs yang dalam keadaan ‘tipsy’ (baca=setengah sadar) secara acak mulai memilih lagu-lagu fave.

Dengan suara sumbang, mereka satu per satu berganti menyanyi sambil menenggak beragam minuman beralkohol yang tersedia. Kami masih berada di dalam untuk mengabadikan mereka tengah karaoke bersama. Setengah jam berlalu, kami memutuskan untuk keluar ruangan. Kami segan lantaran takut mengganggu privacy mereka. Kami akhirnya bergabung dengan beberapa pelayan yang berjaga di depan pintu. Dari balik kelambu yang tersingkap, kami bisa melihat ke dalam. Suasana ruang VIP berubah menjadi ajang adu gelas dan canda tawa lepas. Monica ternyata telah memesan beberapa penari untuk memanaskan suasana. Monica memesan penari itu langsung dari pelayan yang berjaga. Rupanya, untuk pelayanan khusus ini tak perlu rahasia-rahasia. Pelayan biasanya akan menawar-kan dua paket; paket wanita peneman bernyanyi dan penari striptis. Tiga pasangan penari cewek-cowok muncul dengan busana seksi. Tanpa basabasi lagi, mereka mulai mempertontonkan liukan-liukan panas.

Yang terjadi kemudian, Monica Cs makin histeris berteriak. Aroma alkohol bercampur dengan dengus nafas penuh nafsu. Bisa dibayangkan situasi yang tercipta. Enam pasang penari pria-wanita melepas baju satu per satu. Sementara Monica Cs yang dalam keadaan mabuk, bersorak histeris. Tiga wanita sesekali mendekatkan badannya pada Joseph dan JT, sementara tiga penari pria memutar badan menggoda Monica, Marcela, Jeny dan Shinta. Tidak hanya itu saja, sesekali mereka mendudukkan diri di pangkuan. Mulut siapa yang tak tersedak, ketika jemari tiga penari wanita itu mulai melepas baju Joseph dan JT. Melihat pemandangan itu, Monica Cs bukannya cemburu tapi malah bersorak memberi semangat. “Telanjangin saja, Mbak,” teriak Shinta. Dan benar saja, meski berulang kali mengelak, Joseph dan JT akhirnya pasrah. Mereka mendekatkan mulut ke telinga Joseph dan JT. Dari balik saku, Joseph dan JT mengeluarkan lembaran ratusan ribuan. Rupanya, mereka seperti biasanya meminta tips dengan merayu semesra dan segenit mungkin. Begitu tips diterima, mereka kembali beraksi. Kali ini lebih berani dan makin gila. Monica Cs tak kalah repotnya.

Tiga penari pria itu melakukan hal yang sama. Dalam keadaan, maaf, telanjang, mereka membuat Monica Cs sampai lari-lari. Ketika salah seorang penari pria mendudukkan diri di pangkuan Marcela, wanita cantik itu menjerit sambil tertawatawa kegelian. Pesta gila bersama pasangan penari striptis itu berlangsung hingga dini hari. Rombongan Monica kembali ke hotel HG. Rupanya, Monica sudah memboking empat kamar. Pesta yang digelar Monica Cs itu, ternyata tidak hanya sekali dua kali terjadi. Dalam sebulan, mereka biasa membuat pesta-pesta tertentu. Pada awalnya, pesta itu sengaja dibuat sebagai ajang arisan bulanan. Namun, kebiasaan itu berlanjut terusmenerus dan menjadi tradisi. Tiap salah seorang “gank” berulang tahun atau lagi mendapat rezeki nomplok, pasti tak lepas dari pesta. Bisa seminggu sekali, atau minimal satu bulan sekali.

Problema.

Untuk apa sebenarnya gaya hidup yang serba bergelimang gemerlap pesta dan hura-hura tersebut, itu satu pertanyaan yang mungkin tak mudah dijawab. Dalam satu kesempatan, kami diminta Shinta mengabadikan resepsi pernikahan putrinya di sebuah komplek mewah di kawasan Pasar Minggu. Kami sempat terkejut lantaran putrinya belum juga tamat dari SMU. Kami lebih terkejut lagi ketika mendapatkan kenyataan kalau putrinya telah hamil enam bulan. Pengantin prianya pun tampak belia. Hanya satu kesimpulan, pasangan itu menikah ala MBA alias Married By Accident. Hadir dalam pesta itu beberapa selebritis Jakarta dan kalangan pejabat. Mereka yang diundang adalah teman-teman “terbaik” Shinta, baik dalam bergaul maupun bisnis. Ex-suaminya sendiri juga mengundang beberapa teman dekat dan rekan kerja. Pesta perkawinan dengan adat Jawa itu berlangsung selama dua hari, dua malam. Usai pesta, Shinta bersama gank-nya seperti Monica, Jeny, Marcela dan Joice terlihat duduk bergerombol bertukar cerita di teras depan.

Meski hidup serba bergelimang harta dan kemewahan, Shinta tak bisa memung-kiri kalau hidupnya kesepian. Air matanya tak kuasa ia tahan ketika melihat putrinya bersanding di pelaminan. Keharuan itu makin terasa lantaran Shinta kembali bersanding di kursi pelaminan dengan exsuami yang memberinya dua putra. Betapa hidup Shinta begitu penuh dilema. Rumah tangganya dengan pria sebut saja Dimas, 46 tahun, harus putus di tengah jalan. Dimas cukup punya nama di lingkungan pengusaha kafe di Jakarta. Ia adalah adik kandung seorang konglomerat pribumi. Setelah perceraian itu, Shinta tinggal dengan dua putranya di kawasan Pondok Indah. Sepeninggal Dimas, Shinta kembali bekerja sebagai salah satu direktur di PT ABT, sebuah perusahaan tambang. Di samping itu, ia juga membuka bisnis catering dan restoran. Hampir 9 tahun ia hidup menjanda. Untuk membunuh sepi, ia sering menghabiskan waktu di kafe-kafe. Dari situlah ia mengenal Monica, Joice, Jeny dan Marcela. Mereka sama-sama berstatus “janda”. Pertemuan itu berlanjut menjadi ikatan pertemanan yang kuat.

Mereka sama-sama hidup dengan persoalan serupa. Dari hari ke hari, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul. Sekedar fitness, arisan, nongkrong di kafe atau salon, les dansa sampai membuat pestapesta gila. Shinta mengaku, ia seperti hidup di alam semu. Ia tidak punya pijakan tetap harus melangkah ke mana. Satu-satunya cara untuk membunuh rasa sepi-nya adalah mengikuti gemerlap Jakarta yang sarat akan hura-hura dan pesta. “Mau apa lagi. Dari pada di rumah kesepian terus menerus,” ujarnya. Begitu juga dengan Monica. Hanya bedanya, janda cantik itu kini relatif lebih bahagia karena ada Joseph yang menjadi “tumpuan”nya. Meski statusnya hanya istri simpanan, Monica tak merasa rugi karena ia diberi kebebasan untuk beraktifitas. Dengan terus terang ia mengaku, kecewa akibat rumah tangga yang porak poranda, membuatnya ingin balas dendam. Dulu, ia begitu setia mendampingi suami. Tapi, yang didapatnya adalah satu lembaran buram kalau suaminya tukang main perempuan.

Kekecewaan itu membuat hidupnya berubah 180 derajat. Pertemuannya dengan beberapa wanita senasib seperti Shinta, membuatnya seperti menemukan pijakan baru untuk mensahkan apa yang mereka lakukan. Gaya hidup pesta baginya bukan satu kekeliruan karena paling tidak di celah itulah ia dapat menemukan kenikmatan hidup meski sesamar atau sesemu apapun. Bagi Monica, minimal, kebuntuannya dalam memaknai hidup bisa ia reguk. Baginya tidak salah kalau ada orang yang gaya hidupnya serba glamour dan borjuis. Di Jakarta budaya hidup seperti itu sudah bukan perilaku miliknya dan kawankawan, tapi banyak orang sudah melakoni dan larut. Contoh paling sederhana gaya hidup sebagian eksekutif muda. Nongkrong di kafe sampai mabuk, menikmati sajian tarian striptis sampai pesta shabushabu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bersama kelompoknya memang doyan pesta, tapi mereka bukan penikmat obat-obat terlarang seperti shabu-shabu yang lagi menjadi trend.

“Minum memang kami lakukan, tapi nge-drug bukan kebiasaan kami,” sergahnya. Kalau sekali waktu mereka kedapatan memakai kokain misalnya, itu hanya sekadar coba-coba. “Sekali dua kali, kami pernah mencoba. Tapi kami bukan pemakai yang sakaw,” sergahnya. Sungguh simpel prinsip yang dianut Monica dan Shinta. Bagi mereka, apa yang bisa mereka nikmati saat ini, tinggal menikmati saja. Mereka tidak terlalu pusing dengan beragam rumor negatif yang kerap berdesis memerahkan telinga. “Bodo amat omongan orang. Kita hidup punya jalan masing-masing,” tegasnya. Status janda memang tidak begitu mereka pikirkan masak-masak. Mereka tipikal orang yang easy come easy go. Namun bagi Monica dan Shinta, ada perasaan khawatir lantaran keduanya telah mempunyai putra yang mulai menginjak dewasa. Pikiran untuk mengakhiri masa jandanya sempat juga melintas di benak mereka. Bahkan, telah ada beberapa pria yang mengajak mereka untuk menikah.

Tapi, mereka belum juga tergerak untuk menerimanya. Mereka lebih suka menjadi wanita bebas. “Entah sampai kapan, aku sendiri nggak tahu,” tandas Shinta. Sebagai wanita, Monica dan Shinta samasama memiliki wajah cantik. Penam-pilan mereka makin lengkap ditopang dengan busana-busana trendy dan tentu saja bermerek. Dalam hal berpakaian, mereka termasuk kelompok yang mengikuti trend masa kini. Jadi, tak mengherankan kalau sekali waktu kami menemukan mereka mengenakan busana selera anak muda. Misalnya saja, pada satu kesem-patan di mana kami diminta mengabadikan pesta ulang tahun ke-10 putri Jeny yang diadakan di kafe ZB. Pemandangan yang kami dapati sungguh kontras. Mereka memakai baju model ABG di tengah kerumunan anakanak usia belia. Tanpa terasa, malam telah datang. Monica, Shinta, Jeny, Marcela dan Joice masih saja duduk semeja di teras rumah Shinta sembari menikmati sisa hidangan pernikahan. Entah sudah berapa puntung rokok tergeletak di asbak. Kami melihat, asap rokok tak pernah lepas dari mulut mereka selama percakapan berlangsung. “Jangan lupa besok sore kita les dansa. Malamnya kita lanjut ke kafe NZ,” ujar Marcela mengingatkan. Jeny, Marcela dan Joice berpamitan lebih dulu. Baru kemudian Monica menyusul. Rupanya, agenda les dansa yang kemudian berlanjut nongkrong ke kafe itu sudah menjadi rutinitas. Selama percakapan, Shinta tak memungkiri kalau aktifitas itu ia lakukan untuk mengisi hari-harinya yang sepi. Katanya, dengan beraktifitas paling tidak ia bisa melupakan segala keluh kesah dan penderitaan yang dialaminya. Apa iya??? Semua memang masih tanda tanya besar!

doktertomi.com 

Sela waktu dikantor, isi dengan berTrading Forex di Marketiva

1. Membuka Account Gratis. Daftar Disini!
2. Mendapat $5 Gratis.
3. Hanya dengan $1 sudah bisa bertrading.
4. Keamanan yang cukup bagus.
5. Memperoleh Software untuk bertrading secara real time.
6. Tersedia support berbahasa melayu.
7. Mendapatkan uang virtual, untuk latihan trading.

Tutorial 1 | Tutorial 2 | Tutorial 3 | Tutorial 4 | Tutorial 5
Tutorial 6 | Tutorial 7 | Tutorial 8 | Tutorial 9 | Tutorial 10

Download Ebook Gratis


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. 20 Ciri – Ciri Orang yang Inovatif
  2. Iklan Rokok Paling Bagus
  3. Inilah 10 Film Komedi Obat Patah Hati
  4. Inilah Efek dan Pengobatan Serangan “Gigitan” Tomcat
  5. Berikut 12 Fakta Menarik Tentang Tertawa
  6. Makna di Balik Tanggal Lahir Anda
  7. Download Free, 100 OPEN MIND WITH GAMES / SIMULATION ACTIVITY
  8. Jenglot, “Monster Kecil” Misterius
  9. Inilah 4 Tanda Awal, Anda Tak Akan Punya Anak
  10. Inilah 5 Fakta Cokelat yang Belum Terungkap