Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Perempuan usia subur dan balita merupakan kelompok yang terbanyak mengalami anemia, terutama di pedesaan. Penyakit kekurangan zat besi itu dipengaruhi pula oleh diet. Kesimpulan tersebut didapat dari hasil Survei Kesehatan Nasional 2001 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes dengan menggunakan standar internasional, demikian sumber MIOL menyebutkan.

Catatan terbaru tentang angka kejadian anemia di tingkat nasional ini, seperti yang dikutip oleh Medical Manager Merck dr Regina Maria, tidak mencakup Provinsi Papua, Maluku, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Anemia, ulasnya, adalah kadar hemoglobin (hb) yang rendah dalam darah di bawah normal. Untuk Indonesia, ia menilai, perempuan anemia bila kadar hb-nya di bawah 12 gram persen dan lelaki 13 gram persen.

Kenyataannya, berdasarkan data tersebut, Regina menuturkan prevalensi anemia di kalangan wanita usia subur (15-49 tahun) sebesar 26,4% dari mereka yang diteliti, 19.873 orang. “Persentasenya di pedesaan terdapat 28,5% dan di perkotaan 23,8%,” lanjutnya seraya menegaskan berarti, anemia pada perempuan usia subur di pedesaan lebih tinggi dibanding di perkotaan.

Untuk balita, ia menyatakan angka kejadian anemia pada usia balita (0-59 bulan), dengan patokan hb di bawah 11 gram persen, terdapat 47,8% dari 7.329 balita yang diteliti. Di pedesaan, menurut Regina kecenderungannya juga sangat tinggi, karena mencapai 50,4% dibanding di perkotaan sebanyak 43,7%.

Pihaknya mengutip pula hasil Survei Kesehatan Nasional pada 2001 bahwa jumlah balita yang paling tinggi mengalami anemia terdapat di Provinsi Banten sebesar 71%, disusul Nusa Tenggara Barat (NTB) 66%. Pada perempuan usia subur, ia menambahkan angka tertinggi juga ditempati Provinsi Banten, dengan 43,6%, menyusul Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 43%.

Biasanya, menurut Regina, anemia disebabkan kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi berupa kacang-kacangan, sayuran hijau, maupun hewani. ”Atau, karena terlalu banyak konsumsi makanan yang menghambat penyerapan zat besi, misalnya kopi dan teh.”

Anemia yang banyak menimpa wanita usia usia subur dan masih produktif, ujarnya, dipicu oleh fungsi reproduksi mereka, mulai dari menstruasi, kehamilan, melahirkan, sampai dengan menyusui. Ia menjelaskan diet yang sering dilakukan, khususnya oleh kaum perempuan, memudahkan pula timbulnya anemia karena buruknya pola makan mereka.

Regina memandang serius gangguan itu sebagai suatu masalah kesehatan masyarakat karena memengaruhi perkembangan fisik, psikis, dan prilaku, selain produktivitas kerja. Menurutnya, anemia pun merupakan problem gizi yang kini paling lazim di dunia. Tetapi, ia mengungkapkan kelainan tersebut seringkali hanya menimbulkan gejala ringan sehingga tidak mendapatkan penanganan secara baik.

Merck melancarkan kampanye ‘Jawa Barat Bebas Anemia’ beberapa waktu lalu yang terfokus di tiga kota, meliputi Tasikmalaya, Garut, maupun Cirebon. Kegiatan pertama berlangsung tahun lalu di Jawa Timur dengan fokus di kota Jombang, Kediri, dan Mojokerto.

Manajer Pemasaran Merck Djoni Murwanto mengatakan kota-kota kecil dan pedesaaan menjadi sasaran karena masyarakatnya masih kurang memeroleh informasi secara langsung mengenai anemia. Karena itu, kampanye berbentuk penyuluhan ini bertema ‘Anemia: Kenali, Waspadai, dan Hindari’ ini ditujukan ke sekolah dasar, industri kecil, serta kaum ibu yang rentan terkena anemia. (cy)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Obati Kanker Dengan Cahaya
  2. Diabetes Bisa Diketahui dari Gigi Anda
  3. Boleh Ngemil Asal yang Sehat
  4. Berikut Adalah Fakta Seputar Lemak
  5. Kaum Muda Dapat Hipertensi
  6. Buah Kenari Pencegah Kanker Prostat
  7. Kenali dan Waspadai Penyakit Leptospirosis
  8. Jangan Anggap Sepele 3 Jenis Sakit Kepala Berikut Ini
  9. Waspadalah! 3 Kanker Berikut Banyak Menyerang Wanita Muda
  10. Imunisasi Juga Penting Untuk Orang Dewasa