Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Setiap negara harus memenuhi hak-hak dasar atau asasi perempuan. Hal ini sesuai dengan tujuan pembangunan milenium yang telah disetujui 189 negara pada pertemuan Millennium Summit, September 2000.

Dorothy Shaw, ahli obstetri dan ginekologi serta genetika dari Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada, mengatakan, meskipun lebih dari 100 negara telah meratifikasi Millennium Development Goals (MDGs), yang di dalamnya termuat masalah pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, perempuan di seluruh dunia belum mendapatkan haknya secara baik.

”Hak untuk sehat merupakan hak asasi bagi setiap manusia, termasuk juga perempuan. Namun yang saya jumpai di banyak negara, hak-hak kesehatan terhadap perempuan masih memprihatinkan. Negara belum memberikan hak dasar kesehatan bagi perempuan,” kata Dorothy dalam penjelasannya tentang laporan kesehatan perempuan seluruh dunia 2006, yang disampaikan dalam kongres dunia Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) ke-16 yang berlangsung di Kuala Lumpur, 3-9 November 2006 silam.

Shaw memberi contoh di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan, perempuan di bawah usia 15 tahun dipaksa untuk menikah, demi menyenangkan keluarganya dan adat. ”Orang tua khususnya ayah memiliki kekuasaan lebih besar dalam menentukan masa depan anak-anaknya, khususnya perempuan. Ia menginginkan anaknya segera mendapatkan keturunan,” kata Shaw.

Selain itu, ada anggapan anak-anak menikah muda bisa memberikan keturunan yang lebih bagus. Padahal, lanjut Shaw, banyak perempuan yang pada akhirnya mengalami keguguran karena faktor kesehatan dan usia terlalu muda untuk hamil. ”Seharusnya negara bertanggung jawab terhadap anak-anak perempuan yang terpaksa menikah muda. Mereka berhak mendapatkan hak asasinya berupa pendidikan,” tegas Shaw yang kesehariannya sebagai peneliti kesehatan perempuan.

Dalam catatannya, akibat rendahnya pendidikan dan minimnya menggunakan hak-hak politik, perempuan pada akhirnya menjadi korban dari sebuah sistem yang sangat dikuasai oleh budaya patriarkat. ”Saat ini sedikitnya dua juta perempuan di Asia dan Afrika mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Semua ini akibat dari lemahnya negara memberikan hak-hak fundamental seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kepada perempuan,” ujarnya.

Shaw juga memaparkan, pernikahan di usia muda menyebabkan tingginya angka perceraian, aborsi tidak aman, dan penularan penyakit akibat hubungan seks. ”Tingginya prevalensi HIV/AIDS saat ini lebih banyak diderita kaum perempuan. Mengapa perempuan lebih banyak tertular? Semua bermuara dari hak-hak dasar mereka yang belum terpenuhi. Apabila perempuan diberdayakan secara ekonomi, pendidikan, dan akses kesehatan, mereka sedikit paham tentang apa yang aman untuk mereka,” jelasnya. (yz)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Telur dan Susu Sumber Protein yang Baik
  2. Cara Mengobati Penyakit Jantung Bawaan Anak Tanpa Operasi
  3. Kenapa Anak Anda Sering Sakit? Inilah Penyebabnya
  4. Penggemar Daging Bakar Berisiko Kanker Payudara
  5. Di China Kanker Bisa Disembuhkan
  6. Apakah Minyak Goreng Anda Sudah Sehat ? Cek Disini
  7. Sambung Nyawa Lalapan Pereda Hipertensi
  8. Banyak Anak, Pendek Usia
  9. Awas! Ternyata Blackberry Berbahaya Lho
  10. Flu Burung akan Jadi Bencana Nasional