Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Untuk menjaga tubuh agar tetap seksi, dan tetap menawan sebagai seorang istri, tidak sedikit perempuan AS yang setelah mengalami manopose mengkonsumsi hormon estrogen plus hormon progestin. Namun kebiasaan terapi hormon itu harus dihentikan setelah dampak negatifnya mulai terdeteksi. Ternyata, bahaya menenggak hormon itu jauh lebih mencelakakan daripada menguntungkan, demikian sumber MIOL menyebutkan.

Pemerintah AS telah menyelesaikan penelitian besar-besaran mengenai estrogen, zat hormonal yang berfungsi untuk menumbuhkan karakteristik kewanitaan. Hasil penelitian itu antara lain memperlihatkan bahwa mengkonsumsi estrogen saja tidak seburuk kalau dibarengi dengan hormon progestin. Namun penggunaan estrogen dalam jangka waktu lama masih berisiko bagi kesehatan.

Perempuan yang menggunakan estrogen saja setelah manopose bisa berisiko terkena stroke. Disamping itu juga bisa sangat berisiko terserang gangguan psikis, demikian yang dilaporkan Lembaga Kesehatan Nasional (NIH) AS baru-baru ini. Para dokter telah lama berfikir bahwa menggunakan estrogen, tanpa atau dengan diiringi hormon progestin, akan menjaga perempuan tetap sehat setelah manopose, dalam arti dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung dan menjaga kerja otak supaya tetap prima.

Namun jutaan perempuan mulai meninggalkan pemakaian estrogen yang dikombinasi dengan progestin sejak 2002 ketika para ilmuwan di AS memperingatkan bahwa pil-pil itu dapat meningkatkan risiko kanker payudara, stroke dan serangan jantung. Para ilmuwan tidak yakin apakah mengkonsumsi estrogen saja juga mendatangkan risiko bagi kesehatan perempuan. Hanya perempuan yang telah mengalami pengangkatan rahim (histerektomi) yang dapat mempertimbangkan pemakaian estrogen saja. Pada perempuan lain, yang tak mengalami pengangkatan rahim, pemakaian kombinasi progestin dan estrogen penting untuk melindungi kanker rahim.

Kini, NIH telah menyelesaikan telaahnya mengenai pemakaian estrogen tanpa progestin. Disebutkan bahwa, sebelas ribu perempuan yang telah meninggalkan konsumsi estrogen, pada dasarnya mengakhiri harapan mereka bahwa estrogen saja akan mempunyai manfaat besar yang tak dipunyai oleh kombinasi hormon. Para perempuan sehat yang berusia antara 50 sampai 70 tahun yang diteliti telah mengkonsumsi estrogen atau pil hampa hampir selama tujuh tahun.

Hasil penelitian yang dipublikasikan belum lama ini menunjukkan bahwa: pertama estrogen saja meningkatkan risiko stroke sama tingginya dengan risiko yang ditimbulkan kombinasi estrogen-progestin. Untuk setiap 10,000 perempuan, mereka yang mengkonsumsi hormon mengalami strok lebih dari delapan kali per tahun dibandingkan mereka yang tak menggunakan hormon itu. Kedua, estrogen saja tidak memiliki efek, baik atau buruk, terhadap serangan jantung. Sebaliknya, kombinasi estrogen-progestin meningkatkan risiko serangan jantung sampai 29 persen. Ketiga, estrogen saja tidak meningkatkan risiko kanker payudara. Sebaliknya, kombinasi estrogen-progestin meningkatkan risiko itu sampai 26 persen.

Tidak ada jenis terapi hormon yang tampaknya baik untuk otak perempuan. Data awal dari studi terkait mengenai perempuan berusia 65 tahun dan yang lebih tua memperlihatkan bahwa mereka yang mengkonsumsi estrogen saja lebih mungkin mengalami beberapa derajat gangguan psikis dari pada mereka yang mengkonsumsi plasebo. Para ilmuwan juga mengumumkan Mei tahun lalu bahwa kombinasi estrogen-progestin melipat gandakan risiko Alzheimer dan bentuk-bentuk gangguan psikis lainnya. Estrogen saja atau kombinasi dengan progestin juga mempunyai manfaat, yakni mengurangi risiko retak tulang pinggul dan pengeroposan tulang dan merupakan perawatan yang lebih efektif untuk gejala-gejala manopose.

Meski mengandung beberapa manfaat, mengkonsumsi hormon itu tak dianjurkan oleh NIH. Kecuali bagi perempuan yang tak bisa mendapat salah satu jenis perawatan osteoporosis yang disediakan di negara AS. Departemen Obat dan Makanan AS menekankan bahwa perepuan yang menggunakan estrogen untuk mengatasi gejala manopose harus mengkonsumsinya dalam dosis sangat rendah untuk jangka waktu yang sangat pendek. Kaum perempuan yang sekarang mengambil terapi hormon atau sedang mempertimbangkan untuk mengonsumsinya harus membicarakan faktor risiko individual itu dengan dokter mereka, demikian saran Perhimpuan Ahli Obat Reproduksi Amerika. (cy)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Redakan Migrain Dengan Cara Berikut
  2. Kopi Termasuk Salah Satu Dari Enam Minuman Sehat
  3. Hilangkan Lemak Tubuh Saat Tidur
  4. Sebab dan Gejala Kanker Usus Besar
  5. 6 Hal Yang Belum Anda Ketahui Tentang Fakta Payudara!
  6. Pandemi Flu Babi
  7. Teh + Susu Sebabkan Kegemukan
  8. Inilah 9 Langkah Pencegahan Stroke pada Perempuan
  9. Daftar 22 Obat Kuat Berbahaya
  10. Sebelum Membuat Tato, Ketahui Dulu 5 Akibatnya