Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Menko Kesra Aburizal Bakrie menyatakan, pemerintah Indonesia telah berhasil menurunkan kasus flu burung. Keberhasilan itu merupakan buah usaha rencana strategi nasional yang sudah dicanangkan dengan cara menggugah kesadaran publik, restrukturisasi peternakan serta pengawasan wabah flu burung pada manusia dan hewan.

Disamping itu, kata Aburizal, pemerintah Indonesia juga berupaya keras memutus mata rantai virus flu burung dari unggas kepada manusia. Menurut Aburizal, tindakan tersebut berdampak positif sejak pemerintah Indonesia mencanangkan rencana strategi pengendalian flu burung pada Desember 2005. Selanjutnya pembentukan Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI).

“Tidak ada lagi kasus flu burung sejak Desember 2006. Lebih dari 30 persen provinsi endemi flu burung di Indonesia melaporkan tidak ada kasus baru sejak 6 bulan terakhir,” kata Aburizal.

Menko Kesra Aburizal mengemukakan hal itu dalam pidatonya di forum pertemuan tingkat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang berlangsung di Jakarta, Senin (26/3) yang lalu. Aburizal mengakui memang pada Januari 2007 terjadi beberapa kasus di wilayah sekitar DKI Jakarta. Namun pemerintah Indonesia, kata dia, telah bertindak cepat. “Presiden mengeluarkan inpres pada Februari 2007 untuk memperkuat tiap provinsi, kabupaten/kota mengontrol virus flu burung,” ujarnya.

Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, menegaskan, pemerintah Indonesia tetap menginginkan adanya ketentuan material transfer agreement (MTA) dalam pengiriman spesimen virus flu burung. “Kalau tidak ada MTA tak perlu keluar atau membuat collaborating center dan pabrik vaksinnya di sini,” kata Menkes usai pembukaan pertemuan tingkat tinggi WHO.

Siti Fadilah mengingatkan lagi soal aturan hukum di Indonesia. Pengiriman spesimen virus untuk penelitian ke luar negeri harus ada pengakuan dari masyarakat global. Menurutnya, pemerintah Indonesia akan berjuang dalam forum tersebut.

Namun Asisten Dirjen WHO David Heymann berpendapat MTA bukan satu-satunya alternatif metode pengiriman spesimen virus. Menurut dia ketentuan tersebut malah bisa menghambat pengembangan vaksin.

Terpenting, kata David, adalah keinginan berbagi virus untuk penilaian risiko, selanjutnya vaksin dapat dikembangkan serta ada mekanisme yang memungkinkan banyak pihak mengakses. (yz)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Pendarahan Vagina bag. 1
  2. Agar Perempuan Tetap Sehat Saat Bekerja
  3. Pahami Tubuh agar Lebih Sehat, part 2
  4. Jurus Seksi Demi Moore, Diisap Lintah
  5. Workaholic Banyak Buang Uang Untuk Biaya Kesehatan
  6. Kopi Termasuk Salah Satu Dari Enam Minuman Sehat
  7. Inilah Penyebab Kenapa Bokong Anda Tambah Lebar
  8. 4 Buah Berikut Bisa Lawan Kolesterol Jahat
  9. Nutrisi Masa Laktasi
  10. Inilah 5 Tanda Wanita Berpayudara Palsu