Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Resep Masakan dan Lifestyle – Terlalu awal melakukan hubungan seks, atau sebaliknya, melakukannya pada usia yang lebih tua, akan memiliki risiko terkena gangguan kesehatan seksual di kemudian hari, demikian menurut studi terbaru yang dipublikasikan di American Journal of Public Health.

Menggunakan data dari cross-sectional survey yang melibatkan lebih dari 8.000 orang dewasa di AS (1996), para peneliti menemukan bahwa mereka yang mulai melakukan hubungan seks pada usia relatif lebih muda tampaknya memiliki risiko lebih besar terkena penyakit menular seksual, karena tingginya jumlah pasangan seksual dan sejarah melakukan seks di bawah pengaruh alkohol. Di sisi lain, apakah dia melakukan seks terlalu muda atau bahkan di usia yang mulai menginjak di atas 20an, juga akan mengalami masalah pada fungsi seksual, terutama pada lak-laki yang mengalami kesulitan mempertahankan ereksi dan mencapai orgasme.

Nah. Tidak jelas kenapa orang yang melakukan hubungan seksual di usia dini dan lebih tua cenderung mengalami masalah disfungsi seksual, demikian pengakuan para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Theo G.M. Sandfort dari Columbia University, di New York City. Namun temuan itu setidaknya menjadi salah satu pendorong diajarkannya pendidikan seks di sekolah yang menyarankan remaja untuk melakukan seks setelah menikah. “Menunda aktivitas seksual mungkin akan menciptakan risiko kesehatan dengan menahan perkembangan emosional, kognitif dan keahlian interpersonal yang penting untuk fungsi kepuasan seksual dan kesehatan pada umumnya,” ujar para peneliti dilansir Reuters. Rata-rata responden mengatakan melakukan seks pertama kali di usia 17-18.

Dikatakan melakukan seks usia dini jika terjadi di usia 14 dan yang memulai seks di usia 22 atau lebih dianggap sebagai ‘telat’. Bukan tidak mungkin untuk menentukan sebab akibat dari data hasil survey. Misalnya, pria muda dengan masalah seksual mungkin memulai hubungan seksual di usia yang lebih matang (di atas 20 tahun), dikaitkan dengan masalah disfungsi seksual yang dialaminya kelak.

Namun tim Sandfort menambahkan temuan ini membutuhkan kajian lebih lanjut. Yang paling penting adalah pendidikan seksual yang tepat untuk menurunkan risiko mesalah kesehatan terkait perilaku seksual remaja.