Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Kata Menopouse sedari dulu telah memang lekat dengan kalangan perempuan. Namun, bisakah menopause ini terjadi pada kaum adam? Direktur RSU Cibabat, Cimahi Dr H Hanny Ronosulistyo, SpOG, MM menyatakan, selama bertahun-tahun masyarakat memandang menopouse hanya terjadi pada perempuan. Ternyata rasa lelah, muka terasa panas, kemandulan, ketidakseimbangan psikis yang merupakan tanda-tanda menopouse pada perempuan dilaporkan juga terjadi pada lelaki, benarkah?

Selama ini tanda-tanda seperti ini hanya dianggap sebagai tanda penuaan dan tidak terlaporkan. Belakangan ini semakin banyak lelaki mengeluhkan gejala-gejala ini, sehingga makin banyak diteliti dan dilaporkan bahwa ternyata “menopouse lelaki” tersebut memang ada. Meskipun demikian kontroversi mengenai menopouse lelaki, atau banyak yang menyebutnya dengan istilah andropause masih terus berlanjut.

Proses reproduksi lelaki memang sangat berbeda dengan perempuan. Alat reproduksi lelaki tidak berhenti seperti pada perempuan. Buktinya lelaki berusia tua juga tetap bisa menghasilkan sperma yang baik dan mempunyai keturunan. Di Afrika, kepala-kepala suku dilaporkan mempunyai banyak istri dan mempunyai banyak anak walaupun pada usia sangat tua. Tidak dilaporkan adanya penuaan pada proses pembentukan spermatozoa. Dan dilaporkan lelaki masih dapat melakukan “kewajiban seksual” dengan baik pada usia di atas 60 tahun, seperti waktu mereka berusia 20 tahunan.

Suatu proses alamiah berlaku pada seluruh sel di dalam tubuh manusia. Kesempurnaan sel-sel tubuh manusia meningkat dari masa remaja sampai menjelang usia 30 tahun, setelah itu mulai mengalami penurunan. Penurunan di bidang seksual lebih banyak disebabkan karena penurunan fungsi sel seluruh tubuh secara keseluruhan.

Jadi kita dapat mengambil kesimpulan sederhana, bahwa proses pubertas kedua terjadi karena adanya denial atau penolakan psikis terhadap hukum-hukum alam dengan mengemukakan keberhasilan di bidang lainnya.

Istilah andropause asal mulanya merupakan padanan dari menopause pada perempuan. Dengan bertambahnya umur seorang lelaki, dapat timbul sekumpulan gejala yang dihubungkan dengan menurunnya kadar hormon testosteron, oleh karena itu dinamakan andro (lelaki) – pause. Sebenarnya istilah ini tidak terlalu tepat karena walaupun telah berusia lanjut, produksi spermatozoa terus berlangsung walaupun dalam jumlah yang lebih sedikit.

Jadi tidak terjadi penghentian (pause) dalam arti yang sesungguhnya. Selain itu proses menurunnya kadar testosteron dan munculnya gejala andropause berlangsung demikian perlahan, dibandingkan menopause, sehingga sering tidak dikenali. Terlepas dari tidak tepatnya istilah andropause, gejala itu memang ada dan memerlukan perhatian untuk ditangani.

Penelitian di negara-negara barat menunjukkan bahwa 10-15% lelaki mulai mengalami andropause pada usia 60 tahun, sedangkan 54% lelaki menunjukkan gejala andropause pada kelompok umur 60-90 tahun. Dengan bertambahnya angka harapan hidup, maka jumlah penderita gejala andropause akan meningkat dengan pesat.

Datangnya andropause sangat dipengaruhi oleh hormonal seseorang. Boleh jadi di usia puncak karier atau masa kemapanan muncul, sebut saja usia 45 tahun. Dan biasanya akan sangat mengganggu, karena laki-laki biasanya bekerja.

Di saat muncul gejala-gejalanya akan timbul rasa kehawatiran. Menurut psikolog klinis, Dr Elmira N Sumintardja, seorang penderita tidak akan mengenali gejala yang sesungguhnya bahwa ia sedang memasuki masa andropause.

Sehingga jalan keluar untuk mengatasi keluhan fisik tersebut penderita biasanya mengonsumsi suplemen. Padahal reaksi suplemen hanya efek sesaat, karena gejala andropause akan muncul lagi sepanjang periode andropause. “Pemakaian suplemen atau obat-obatan pemicu aktivitas yang menjadi konsumsi rutin justru bisa membahayakan. Misalnya obat kuat atau suplemen untuk menambah vitalitas kerja,” kata Elmira.

Lebih lanjut Elmira menjelaskan, bila usia sudah menjelang andropause maka harus waspada ketika muncul gejala emosional yang tiba-tiba dan tidak biasa. Misalnya cepat merasa sedih atau marah yang tak bisa dikendalikan, padahal itu bukan karakter yang biasa muncul. Munculnya masalah-masalah kelainan psikologis, sekali lagi ditekankan bukan karena dia dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya, tapi oleh biologis yang berubah. “Dan memang akan lebih rentan bila kondisi psikologis juga sedang buruk,” tandasnya. (yz)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Inilah 5 Tips Agar Sperma Tetap Sehat
  2. Tangani Aroma Vagina Tak Sedap
  3. Idealnya Becinta Cukup 7-13 Menit Saja
  4. Inilah Gaya Bercinta Paling Populer
  5. 8 Teknik Memulai Malam Pertama
  6. Apakah Mungkin Pria Diperkosa?
  7. Hand Job….Ups !
  8. Orgasme Tak Mempercepat Kehamilan
  9. Anda Impoten? Sembuhkan Impotensi dengan Terapi Listrik
  10. Jonah Cardeli Falcon, Pemilik Penis Terpanjang 34 Cm