Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Seperti general check up kesehatan tubuh dari mata, telinga, denyut jantung, tekanan darah, hingga urine dan tinja, pemeriksaan gigi untuk pencegahan penyakit gigi dan mulut akan meneropong kondisi rongga mulut secara menyeluruh, meliputi kondisi gusi, ludah, bau mulut, gigi, termasuk email gigi. Berdasarkan kondisi inilah bisa disusun penanggulangannya.

Kondisi gusi diperiksa untuk mengetahui apakah ada perdarahan atau radang gusi (gingivitis) dengan alat yang disebut WHO probe. Gusi di tiap gigi ditekan ringan. Kalau tak sehat, dengan tekanan ringan saja gusi akan berdarah. Kalau terjadi radang gusi, karena terjadi di jaringan penyangga gigi, risiko gigi tanggal mencapai 1 – 6 kali.

Radang gusi bisa terjadi karena masuknya kuman, terutama dari jenis anaerob. Masuknya kuman itu bisa terjadi jika kebersihan kurang terjaga. Gejala radang gusi yang mudah dirasakan adalah saat sikat gigi, gusi berdarah, dan linu saat minum dingin atau asam.

Kalau masih ringan, penanganannya bisa dilakukan dengan menyikat gigi secara benar. Sebaliknya, bila sudah terjadi kelainan, misalnya terbentuk kantung gusi karena gingivitis, tindakan medis mesti dilakukan. Bila ukuran kantung gusinya berkisar 3 – 5 mm, dilakukan pembersihan dengan dikuret. Bila kantung gusi telah lebih dari 6 mm, tenpaksa dilakukan operasi gusi.

Sedangkan kondisi ludah yang diperhatikan adalah jumlah, kekentalan, kadar keasaman, dan protein. PH ludah normal adalah 6 – 7. Makin cair makin bagus. Kalau terlalu kental, mulut akan kering karena kekurangan enzim pengendali jumlah kuman. Dengan bertambahnya usia, bisa terjadi syorgan syndrome, berkurangnya produk si ludah. Keadaan ini bisa ditanggulangi dengan pemberian obat. Juga dibantu dengan perilaku sehat, yaitu banyak berkumur dan minum.

“Bisa pula dengan olahraga lidah,” ujar Anton Rahardjo. “Letakkan ujung lidah ke dasar barisan gigi bawah bagian dalam, atau ke geraham bungsu atas kiri dan kanan, di kelenjar-kelenjar ludah. (Lakukan) beberapa detik saja tiap kali dirasa perlu untuk merangsang ludah keluar.”

Kelengkapan gigi pun perlu dipantau. Makin sedikit gigi, makin cepat gusi rusak, karena gigi akan bergerak ke tempat kosong. “Patokannya, pada usia 80 (tahun), minimal masih ada 20 gigi yang berfungsi baik,” kata Anton Rahardjo. Jadi, tiap gigi harus dipertahankan keberadaannya.

Kalau ada yang berlubang, ya ditambal. Kalau sudah ada yang ompong, meskipun terletak di bagian dalam yang tak terlihat bila tersenyum, sebaiknya dipasangi gigi palsu. Ini penting, karena gigi selalu mencari kontak baru. Kalau ada lawannya, ia akan berhenti bergerak. Gigi palsu itu bukan sekadar untuk tampil cantik, tapi untuk membantu memperbaiki dan mempertahankan struktur.

Jika gigi berlubang dan ompong dibiarkan, kita akan cenderung mengunyah di sisi gigi yang tak berlubang dan ompong. Padahal, posisi mengunyah yang ideal harus seimbang. Sisi yang tak dipakai mengunyah akan membuat makanan di sana tak hancur, lama-lama karang gigi menutup permukaan gigi. Jika dibiarkan, akan berpengaruh ke otot leher hingga timbul keluhan pusing. Rahang sendi pun bisa berkelainan, karena fungsi gigitan tak seimbang. Akhirnya, bisa mengganggu fungsi pendengaran. (yz)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks)
  2. Madu untuk Diet
  3. Pentingnya Cuci Tangan
  4. Rinitis Alergi
  5. Bronkitis
  6. Kenapa Perempuan Lebih Cerewet ? Inilah Penyebabnya
  7. Aturan Bagi Penderita Jantung Koroner
  8. Inilah 4 Kegiatan Setelah Olahraga yang Bikin Berat Badan Cepat Turun
  9. Sepatu Hak Tinggi Kurang Sehat
  10. 8 Tips Agar Terhindar Dari Bakteri E Coli