Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Seksualitas pada dasarnya mewakili hubungan yang kompleks antara berbagai faktor seperti fisiologis, psikologis, dan budaya. Pada zaman lampau, di kebanyakan budaya, perilaku seksual yang diterima berdasar pada premis yang menyebutkan bahwa lelaki butuh dan berhak atas seks, sementara kesenangan atas seksual pada perempuan harus dinomorduakan setelah si lelaki terpenuhi kebutuhan seksualnya dan kegiatan reproduksi dilaksanakan.

Konsekuensinya, seksualitas pada perempuan menjadi sangat terkait dengan yang namanya kegiatan reproduksi semata. Demikian diungkapkan Dr Nalini Muhdi SpKJ(K).

Nilai-nilai yang hidup di abad ke-19 ini jelas mendesakkan banyak tabu dan larangan terutama bagi perempuan. Perempuan pada dasarnya hanyalah alat untuk mengamankan kelangsungan hidup manusia lewat prokreasi dan memenuhi kesenangan lelaki. Karena itu, hanya demi kesehatan seksual lelaki-lah semua kegiatan seks itu berjalan.

Namun, di zaman modern ini, pandangan ini sudah sangat ketinggalan alias kuno. Perempuan menyadari bahwa dirinya setara dengan lelaki, termasuk dalam kehidupan rumah tangga dan perannya sebagai orangtua.

Hak-hak sosialnya, tanggung jawabnya, profesinya, serta keuangan sudah otonom disadari menjadi miliknya. Pada saat yang sama, para perempuan menyadari adanya sudut pandang baru mengenai fungsi seksual mereka.

Mereka menyadari bahwa seksualitas tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan prokreasi atau pembentukan manusia baru, melainkan merupakan kegiatan rekreasi untuk mendapatkan kepuasan.

Para perempuan juga berhak untuk memilih dan menolak hamil, dan yang paling populer adalah hak untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan seksual. Saat ini, kesadaran dan pengetahuan akan fungsi seksual secara dramatis berubah meningkat.

Secara umum, seksualitas perempuan baru mulai berkembang dan memuncak di tengah usia 30-an. Akibatnya, kapasitas mereka untuk mengalami orgasme di usia-usia dewasa cukup tinggi dan besar daripada saat muda.

Sayang, perilaku antiseksual atas diri perempuan di beragam budaya masih saja hidup. Perempuan masih mendapat perlakuan negatif secara seksual. Akibatnya, ketika para perempuan ini komplain atas hidup seksualnya atau mengalami disfungsi seksual, mereka jarang atau bahkan sulit membuka diri, bahkan terhadap psikiater sekalipun.

Tak hanya itu saja efek yang menimpa perempuan. Kesadaran, imajinasi, dan pikiran atas seks tidak begitu menggelegar, yang menyebabkan menurunnya gairah seks. Payahnya, hal semacam ini secara kultural masih diterima. Sekarang ini, disfungsi seksual yang dialami kebanyakan perempuan merupakan hasil dari tidak memadainya pendidikan seksual. (yz, sumber: Cbn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Kuman Vagina Pembunuh Sperma
  2. Masturbasi Berlebihan, Akibatnya…
  3. Inilah 6 Kondisi Seksual Aneh
  4. 3 Hal Penting Yang Harus Diketahui Tentang G-spot
  5. Inilah 5 Cara Lucu Wanita Saat Masturbasi, Pernah Coba?
  6. Kenapa Payudara Nyeri Jelang Menstruasi?
  7. Beli Sex Toys, Malu Ach… Begini Tips Belinya
  8. Seperti Apa Sih Alat Kelamin Wanita Itu ?
  9. Inilah Alasan, Seks Bisa Cegah Perceraian
  10. Masturbasi Tingkatkan Risiko Kanker Prostat