Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Ronggowarsito, pujangga terkenal Jawa, menyadari benar pentingnya kelestarian bangunan tua sebagai monumen jejak sejarah sebuah kota. Bangunan tua yang ada di sebuah kota teramat sayang bila dibiarkan hancur jadi puing, karena dari bangunan tua itu, banyak warisan yang bisa digali. Bukan cuma dari sejarah yang “menempel” pada tembok-tembok tua itu, tapi juga budaya, termasuk desain bangunan masyarakat kota itu di waktu lampau.

Salah satu negara yang sangat memelihara bangunan dan kawasan tuanya adalah Belanda. Menjejakkan kaki di negeri penghasil keju ini, kita bagaikan terlontar ke masa lalu, bagaikan masuk ke dalam buku sejarah itu sendiri.

Dari sekian banyak kota di Belanda, yang mungkin paling menakjubkan adalah Amsterdam. Sejauh mata memandang, di kota itu bertebaran bangunan tua atau monumen lainnya yang terpelihara apik meski fungsinya bisa beragam. Setidaknya ada 8.000 monumen yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Amsterdam. Tak heran jika kota dengan ribuan monumennya ini dijuluki “The Living Museum”.

Pemerintah Amsterdam punya kebijakan khusus yang melindungi segala yang berbau monumen, bukan cuma bangunan tua tapi termasuk wilayah Amsterdam, ya, pemandangan, kanal, dan struktur kota itu sendiri.

Semua bangunan bisa berfungsi apa saja asalkan diperlakukan sesuai dengan peraturan yang dibuat, baik oleh pemerintah pusat maupun lokal. Maka jangan heran jika Anda melihat bangunan tua di sana yang berfungsi tak hanya sebagai museum tapi juga sebagai hotel, pertokoan, apartemen, sekolah, perkantoran, restoran, atau tempat hiburan seperti bar, kafe, bahkan tempat prostistusi.

Ada sekitar 20.000 gedung di atas tanah seluas 800 hektar yang ikut menciptakan sejarah di pusat kota ini. Sepertiga bangunan itu – terdiri antara lain atas bangunan gudang, gereja, istana dibangun sebelum tahun 1850. Sebanyak 6.700 bangunan masuk dalam kategori monumen nasional, yaitu gedung-gedung bersejarah yang kini dilestarikan oleh pemerintah pusat. Ada 290-an bangunan dan monumen lain yang dijaga oleh pemerintah Amsterdam sedangkan 1.160 gedung lainnya menyusul masuk dalam kategori tersebut.

Menyusuri keempat kanal Amsterdam  Singel, Herengracht (atau Kanal Heren), Keizersgracht, dan Prinsengracht – ingatan Anda akan melayang ke pojok kota Jakarta Barat dan Utara. Di wilayah yang disebut “Old Batavia” itu, Belanda memang membangun segalanya mirip dengan Amsterdam. Tapi sayang, kanal-kanal dan bangunan tua serta kawasan kota tua Jakarta cuma dibiarkan jadi kawasan suram sambil menunggu bangunan tua roboh semua.

Yang pasti Amsterdam boleh bangga karena jadi salah satu kota yang punya bangunan penting bersejarah yang sama sekali belum tersentuh tangan-tangan jahil atau bahkan dirobohkan. Pelestarian bangunan dan lingkungan tua itu menghasilkan ribuan pelancong yang datang ke kota ini untuk berwisata sejarah.

Saking cintanya pada monumen, pada apa yang menjadi warisan masa lalu, anggota dewan Amsterdam sampai-sampai mengegolkan ide pertukaran batu dari Lapangan Dam (de Dam) ke delapan kota di dunia, termasuk Jakarta. Mereka pun punya anggota dewan yang khusus mengurus masalah monumen dan ruang publik, yakni Guido Frankfurther.

Proyek yang di pimpin Guido Frankfurther ini berhasil mengumpulkan sembilan bangsa di lapangan Wittenburger (Wittenburgerplein), Amsterdam. Mereka meresmikan proyek perpindahan batu dari delapan kota di dunia, yang dinamai Moving The World.

Ide menyatukan bongkah-bongkah batu jalan di halaman lapangan dari delapan kota di dunia itu berasal dari dua pekerja seni, Fenna Swart (Belanda) dan Joseph Scorselo (Amerika). Batu yang akan dipindahkan adalah batu yang biasa menghiasi lapangan di kota-kota dunia. Delapan kota yang dipilih adalah kota yang punya hubungan sejarah dengan Amsterdam, yakni Casablanca, Ankara, Athena, Kairo, Oslo, Kopenhagen, Antwerp, dan Jakarta.

Akhirnya pengapalan dan pengiriman balok batu bekas tadi malah jadi proyek seni yang direstui anggota dewan Amsterdam, khususnya yang menangani ruang publik dan monumen. Delapan penjuru angin dipilih sebagai simbol Amsterdam yang multikultural. Itu juga menggambarkan hubungan yang dimiliki Amsterdam khususnya dan Belanda umumnya dengan negara yang kotanya terpilih.

Di Jakarta, balok batu asal Amsterdam itu akan ditanam di Lapangan Fatahillah yang adalah halaman Museum Sejarah Jakarta. Pelaksanaan penanaman batu itu akan berlangsung akhir Maret ini. Dengan tertanamnya batu itu, jejak kaki jutaan manusia yang lalu lalang di Amsterdam sejak 1974 ikut tertancap di sana. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Mexico : Cenote Angelita, Sungai Di Dasar Laut
  2. Brisbane Kota Indah Di Queensland
  3. Mau ke Singapura? Baca Dulu Tips Hemat di Singapura
  4. Cari Barang Murah? Ke Bangkok Yuk
  5. 10 Tempat Wisata Paling Misterius dan Exotic di Dunia
  6. Hantu sebagai obyek tourism, di Skotlandia.
  7. Produk Bermerek Lebih Murah di Singapura Dari di Indonesia?
  8. Tips Pelesiran ke Hong Kong
  9. Italia; Negeri Pewaris Sejarah Kuno
  10. Havana, Kuba; Kota Situs Warisan Dunia