Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Desa Lingga sampai saat ini masih memiliki bangunan-bangunan tradional seperti: rumah adat, Jambur, Lesung, Geriten dan Sapo Page. Bentu, bahan dan teknik mendirikan bangunan itu hampir sama, yakni letak dindingnya miring ke arah luar, mempunyai dua pintu yang menghadap ke arah barat dan timur.

Pada kedua ujung atap terdapat tanduk atau patung kepala kerbau. Dinding lantai dan tiang-tiangn terbuat dari kayu. Untuk tangga tura atau tea dan lain-lain dibuat dari bambu. Sedangkan alat pengikat dan atap digunakan ijuk. Pada beberapa bagian rumah terdapat relief yang dicat dengan warna merah, putih, kuning, hitam dan biru. Bangunan-bangunan itu berbentuk khusus yang melambangkan sifat-sifat khas dan suku bangsa Karo.

Rumah adat Karo memunyai ciri-ciri serta bentuk yang khusus. Rumah ini sangat besar dan didalammya terdapat ruangan yang luas , tidak mempunyai kamar-kamar. Namun mempunyai bagian-bagian yang ditempati oleh keluarga batih atau jabu tertentu. Rumah adat berdiri di atas tiang-tiang besar serupa rumah panggung yang tingginya kira-kira dua merter lebih dari tanah. Lantai dan dinding dari papan yang tebal dan letak dinding rumah agak miring keluar, mempunyai dua buah pintu menghadap ke sebelah barat satu lagi ke sebelah Timur.

Tangga masuk ke rumah juga ada dua sesuai dengan letak pintu dan terbuat dari bambu bulat. Menurut kepercayaan mereka, jumlah anak tangga harus ganjil. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat, besar dan kuat disebut Ture. Ture ini digunakan untuk anak gadis bertenun. Sedang pada malam hari Ture atau seambi ini berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih.

Sesuai dengan atapnya, rumah adat karo terdiri dari dua macam, yaitu rumah adat biasa dan rumah anjung-anjung. Pada rumah adat biasa mempunyai dua ayo-ayo dan dua tanduk kepala kerbau. Sedangkan pada rumah anjung-anjung terdapat paling sedikit ayo-ayo dan tanduk kepala kerbau.

Teknologi tradisional lainnya yang masih ada peninggalannya di desa Lingga adalah Sapo Page yang artinya lumbung padi. Bentuk Sapo Page adalah seperti rumah adat. Letaknya di halaman depan rumah adat. Tiap-ttiap Sapo Page milik dari beberapa jambu atas rumah adat. Sama dengan Geriten, Sapo Page terdiri dari dua tingkat dan berdiri di atas tiang . Lantai bawah tidak berdinding. Ruang ini digunakan untuk tempat duduk-duduk, beristerahat dan sebagai ruang tamu. Lantai bagian atas mempunyai dinding untuk menyimpan padi.

Warisan budaya yang berupa bangunan lain yang masih dapat kita jumpai di desa Lingga adalah lesung antik. Lesung ini dibuat dari kayu pangkih sejenis kayu keras, lesung tersebut mempunyai tiga puluh empat buah lubang tempat menumbuk padi. Letak lubang ada yang berpasang-pasang dan ada pula yang sebaris memanjang. Lesung ini terletak dalam sebuah bangunan tradisional yang tidak berdinding. Bangunan ini mempunyai enam buah tiang-tiang besar, tiga sebelah kanan yang disebut binangun Pinem.

Di desa Lingga masih dapat kita saksikan seni tari yang bersifat hiburan maupunyang berhubungan dengan adat. Untuk melayani kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke desa Lingga, maka di desa Lingga terdapat tarian yang bersifat hiburan.

Tarian Gundala-Gundala; sebenarnya adalah tarian yang berhubungan dengan kepercayaan. Apabila dalam suatu kemarau yang panjang, maka diadakan upacara memanggil hujan yang disebut upacara ndilo wari udan. Tarian ini merupakan tari topeng kepala burung. Keempat pemain memakai baju jubah. Tarian ini menggunakan musik pengiring tradisional.

Tarian Guro-Guro Aron; tarian ini ditarikan khusus pada waktu pesta muda-mudi. Tetapi pesta muda-mudi ini tidak berdiri sendiri. Biaanya pest ini diadakan setrelah panen. Tarian Simelungun Raja; tarian ini adalah tarian adat yang ditarikan khusus pada upacara-upacara adat seperti perkawinan, kematian dan memasuki rumah baru.

Selain tarian, nyanyian juga mempunyai arti penting di dalam pelaksanaan upacar adat. Lagu tangis , dinyanyikan jika ada yang meninggal, si penyanyi menangis sambil mengucapkan kata-kata dengan naa sedih. Kata-katanya melukiskan riwayat hidup si mati sejak kecil dengan segala penderitaan dan kebaikannya dan bagaimana sedihnya perasaan keluarga yang ditinggalkannya.

Lagu Talas, biasanya dinyanyikan oleh guru waktu memimpin upacara ”Erpangir Kulau ”, atau pada waktu guru penawar meramu obat-obatan tradisonal untuk mengobati yang sakit. Lagu-lagu ini khusus dinyanyikan pada waktu diadakan upacara memasuki rumah baru atau mengket rumah imbaru, dan upacara perkawinan. Lagu ini mengandung arti memohon keselamatan untuk seisi rumah dan keluarga. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Maluku; Negeri Seribu Pulau
  2. Medan; Dari Brastagi hingga Samosir
  3. Jl. P. Jayakarata, Jakarta; Menyusuri Jakarta Tempo Dulu
  4. Bromo; Menjelajah Gunung Suci Masyarakat Tengger
  5. Semarang, Jateng; The City Of Sam Poo
  6. Sumbawa; Ombak yang Memanjakan Peselancar
  7. Menado; Lanskap Indah dari Gunung hingga Lautan
  8. Ambarawa; Negeri Khayalan Candi Gedong Songo
  9. Bukit Barisan, Sumsel; Surga Petualang Arung Jeram
  10. Candidasa, Bali; Wisata Murah Pulau Dewata