Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Oleh-oleh Nikmat dari Padang! Teh Kawa / Kopi Kawa. ikmatnya segelas kopi, mungkin sudah menjadi hal biasa bagi para pencinta minuman hitam ini. Sederetan kedai kopi pun kian berlomba menawarkan kopi yang mampu meninggalkan kesan di lidah. Kopi pun kemudian diolah dari biji kopi terpilih yang memenuhi standar cita rasa.

Namun, apakah Anda pernah membayangkan nikmatnya menyeruput minuman hangat dari daun kopi olahan? Di sejumlah daerah di Sumatera Barat, minuman ini digolongkan dalam keluarga teh. Meskipun terbuat dari daun kopi.

Mereka memberikan label “Kopi Kawa” untuk minuman ini. Terutama di Kabupaten Tanah Datar, Anda akan dengan mudah menemukan sejumlah kedai kopi kawa. Jajaran kedai ini hampir terdapat di sepanjang jalan. Salah satunya, kedai kopi kawa Kiniko di Tabek Patah, Kecamatan Salimpaung. Tepatnya di berada di kilometer 16 jalan raya Batusangkar-Bukittinggi.

Kedai yang berada di belantara Tabek Patah ini menawarkan bermacam minuman kopi gratis bagi pengunjung. Untuk segelas kopi, Anda bisa mencicipinya secara cuma-cuma sambil menikmati indahnya belantara hutan di sekeliling kedai. Ini pasti kabar baik bagi para wisatawan yang melintas di jalan tersebut.

“Minuman kami sediakan secara gratis, jika Anda ingin membawanya pulang sebagai oleh-oleh baru Anda harus membayarnya,” ujar Rina Aziz.

Minuman ini sudah sangat memasyarakat di sana, bahkan sebelum bekerja ke ladang pun, biasanya masyarakat pedesaan menyeruput segelas kawa.

Minuman menjadi popular saat kependudukan Belanda di Sumbar. Kawasan Pasar Tabek Patah sendiri merupakan lokasi perkebunan kopi milik Belanda saat penjajahan. Menurut cerita, seluruh kopi yang dihasilkan dari ladang di Tabek Patah dibawa ke negeri Kincir Angin. Ini terjadi pada abad ke-19, saat tanam paksa diterapkan Belanda.

Warga yang dipekerjakan di ladang-ladang ini hanya diberi kesempatan untuk bertanam dan menjaganya, tanpa bisa menikmati olahan biji kopi yang justru lebih dikenal di Eropa kala itu. “Karena tak bisa menimati bijinya, petani-petani itu mengolah daunnya untuk diminum,” kata Rina.

Wandi, pembuat kopi di kedai Kiniko menceritakan, pembuatan kopi kawa terkesan tidak membutuhkan keahlian khusus. Daun kopi yang terbilang tua dijepit dan dipanaskan di atas bara untuk mengeringkan.
Daun ini kemudian dimasak dengan air panas, menggunakan wajan tanah. “Ini akan tahan tiga hari, jika sudah berubah warna, daunnya harus diganti dengan yang baru,” ujar Wandi.

Cara menyajikannya pun terbilang unik. Tempurung kelapa menjadi alat pengganti gelas untuk menikmati hangatnya kopi kawa. Minuman ini juga memberi kesegaran bagi tubuh, selain itu juga menetralisir lemak.

Tertarik untuk mencoba?

Baca juga : Inilah Manfaat Teh Dari Daun Kopi ‘Teh Kawa’

Baca juga : Tempat Kuliner di Bukittinggi dan Sekitarnya

sumber : VIVAlife