Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Sisa-sisa peristiwa dramatik berupa perpisahan dua negara tersebut, satu beraliran komunis di bawah bendera Uni Soviet dan satu lagi negara Liberal Demokratik Jerman Barat, masih abadi. Tembok Berlin, meski hanya sisa-sisa, masih berdiri kokoh. Pintu gerbang masuk yang menjulang, dengan patung Maria di atasnya, juga masih berdiri tegak.

Jerman, kini telah merasakan keindahan dalam kebebersamaan, meraih kemajuan di segala bidang. Kemajuan yang tidak pernah terjadi saat Jerman terbagi menjadi dua, yang satu beraliran komunis dan lainnya beraliran liberal demokratis. Tembokpun dibangun untuk memisahkan kedua negara, bahkan memisahkan tali persaudaraan bangsa mereka.

Perbandingan taraf hidup yang sangat timpang membuat banyak warga Jerman Timur yang ingin melintasi tembok tersebut. Begitu pula hasrat untuk bertemu sanak saudara membuat sebagian masyarakat nekad menerobos tembok yang dijaga sangat ketat, akibatnya hampir tidak ada seorangpun yang lolos, karena letusan senjata lebih dulu terdengar.

Sungai Rhine, yang berada persis di sebelah tembok, seakan menjadi saksi bisu mengucurnya darah sang pelintas. Sungai yang kini menjadi salah satu andalan wisata air di hampir seluruh negeri di Eropa, termasuk Berlin ini kala itu seolah bersedih menyaksikan tiap nyawa yang meregang.

Namun kini semuannya telah berubah, tahun 1989 masyarakat Jerman bahkan pemerintahan kedua negara secara bersama-sama meruntuhkan tembok yang selama ini telah menjadi momok yang sangat mengerikan. Mereka bertekad memulihkan persaudaraan sesama bangsa Arya untuk membangun dan menciptakan persatuan.

Tahun itu pula, seluruh rakyat turun ke jalan, merayakan kemenangan, ketika tangan warga di sebelah timur diulurkan, mendapat sambutan dengan dekapan hangat penduduk di sebelah barat. Karena itulah di tengah sungai Rhine di pusat kota Berlin, terdapat beberapa patung orang berangkulan, simbol persahabatan, simbol persatuan sesama warga Jerman. “Kami bersaudara, kami bersatu.” Begitu, mungkin, teriak mereka.

Reunifikasi antara Jerman Barat dan Timur seakan menjadi pintu gerbang baru bagi semua aspek kehidupan di Jerman. Banyak Potensi di Kawasan Jeman timur yang dulu tidak pernah tergarap karena situasi politik, saat ini mulai bisa di maksimalkan. Sebutlah Kota Dresden, ribuan ilmuwan dicetak di kota itu. Bahkan di Dresden pula Marthin Luther menerjemahkan Injil ke dalam Bahasa Jerman.

Kota Dresden juga menyimpan banyak potensi mulai dari industri, teknologi, riset dan pariwisata yang sangat mengagumkan. Kita bisa menikmati semua aspek yang berdenyut dengan cepat. Kita bisa menyaksikan bagaimana mobil dibuat, bermain sky di kawasan Saxon Swizterland yang selalu ditutupi oleh salju tebal setiap musim dingin. Dan suasana kota yang teduh, hijau yang dihiasi dengan warna-warni lampu penghias kota.

Tak hanya Dresden, pembangunan kawasan lainnya di wilayah timur pun terus bergerak dengan cepat. Privatisasi dijalankan untuk mengundang investor masuk. Kota Halle jadi pusat petrokimia terbesar di Jerman yang sekaligus juga mampu menyangga sebagian kebutuhan kimiawi di berbagai belahan Eropa. Brandenburg yang indah dengan wisata air, dikembangkan menjadi pusat pabrik pemasok komponen otomotif.

Begitu juga dengan Berlin, kota itu kini menjadi kota utama di Jerman dan merupakan pusat peradaban. Kampus-kampus yang menjadi pusat riset peninggalan masa lalu saat ini semakin maju. Ada sembilan perguruan tinggi yang terbilang besar dan menjadi tumpuan riset dan pengembangan teknologi di Berlin.

Sisa-sisa reruntuhan tembok Berlin hingga sekarang masih dibiarkan berdiri, Check-point, tempat pemeriksaan bagi siapapun yang meminta ijin melintasi perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat masih utuh dan dibiarkan seperti aslinya. Begitu juga lokasi kamp tentara untuk berjaga juga dibiarkan utuh, sebagai kenang-kenangan.

Saat ini para wisatawan yang berkunjung ke Jerman seakan kurang puas jika tidak mengunjungi bekas tembok yang telah dirobohkan yang kini telah menjadi jalan mulus yang lebar yang menghubungkan kawasan Barat dan Timur. Di depan tembok ada ribuan nisan tempat menguburkan tokoh pejuang yang mempertaruhkan nyawanya sebagai tumbal persatuan dan kini semuanya tinggal kenangan.

Para wisatawan juga bisa menikmati keunikan Gedung Parlemen yang berada di pusat kota. Gedung yang kerap di pakai Hitler berpidato di depan para senator itu memang sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan karena banyaknya peristiwa bersejarah walau mereka harus rela antri selama berjam-jam untuk dapat masuk karena harus melewati berbagai pemeriksaan.

Di gedung yang dibangun pada tahun 1800-an tersebut Hitler sering berpidato, termasuk menjelang Perang Dunia II, yang kemudian mengakibatkan Berlin dan Eropa Timur lainnya dibumihanguskan Amerika. Tempat itu juga menjadi saksi ketika senator Jerman Timur ikut memutuskan peristiwa robohnya tembok Berlin, saat desakan reunifikasi terjadi.

Kreativitas pengelola pariwisata di Berlin memang patut dipuji, karena mereka bisa mempromosikan dan menjadikan gedung sebagai obyek wisata di saat gedung itu tidak dipakai bersidang. Setiap dua minggu sekali, para senator di Jerman bersidang di sana selama seminggu penuh. Tentu pada saat itu masyarakat umum tidak bisa masuk. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Amsterdam; “The Living Museum”
  2. Mau ke Singapura Dengan Keluarga? Inilah Tempat Wisata Keluarga dan Kuliner
  3. Khaosan Road, Thailand; Wisata ala Backpacker
  4. Ameland, Belanda; Tawarkan Ketenangan dan Kedamaian
  5. Bulgaria; Tujuan Wisata Termurah Di Eropa
  6. Singapura; Nikmati Sensasi Bandara Changi
  7. Jalan-jalan ke Disneyland di Orlando, Amerika lewat Google Earth
  8. Taronga, Australia; Bukan Sekedar Kebun Binatang
  9. Pulau Capri, Teluk Napoli; Pulau Unik yang Melegenda
  10. Weimar, Jerman; Kota Cikal Bakal Negara Jerman