Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Memasuki Kota Kairouan memang segera terkesan tentang sebuah kota santri yang bernuansa agamis.penduduk sekitar menyebutkan, ada sekitar 250 masjid yang tersebar di seluruh pelosok Kota Kairouan. Mereka  juga mengungkapkan, dari seusai salat magrib hingga waktu isa tiba, para murid dari Afrika, Tunisia, dan negara Arab lain menghafal Al Quran di Masjid Uqba bin Nafi.

Jarak  antara Kota Tunis dan Kairouan sekitar 150 kilometer dengan melalui jalan yang sangat mulus. Maklum, infrastruktur negeri Tunisia-termasuk jalan-jalan raya antarkota-yang penghasilan devisanya mengandalkan dari bisnis turisme, tampak terpelihara secara apik. Seperti diketahui, sekitar 5 juta turis mengunjungi Tunisia setiap tahun. Kota Kairouan merupakan salah satu tujuan utama wisata para turis itu.

Kairouan hingga saat ini sangat diminati para turis dari mancanegara. Namun, turis khusus di kota itu adalah wisatawan budaya atau para arkeolog. Sebagian besar turis mengunjungi Kairouan dengan bus-bus turis yang datang dari kota wisata Sousse atau Kota Hamamet. Jarak antara Kairouan dan Souse hanya sekitar 50 kilometer, sedangkan antara Kairouan dan Hamamet sekitar 100 kilometer.

Para turis biasanya menghabiskan waktu sehari di Kota Kairouan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Masjid Uqba bin Nafi. Sebagian besar Turis yang berminat mengunjungi Kairouan berasal dari Eropa dan Jepang yang telah membaca tentang sejarah kota tersebut sebelumnya. Kairouan dikenal merupakan paduan antara Kota Damaskus dan Marrakesh, Maroko.

Di Kairouan, para turis lebih senang mengunjungi pasar sajadah atau karpet tradisional, parfum lokal, dan barang-barang yang terbuat dari perak atau tembaga. Di sekitar Masjid Uqba bin Nafi pun terdapat banyak kios dan toko yang menjual sajadah, karpet, dan barang-barang tradisional lainnya. Setiap turis atau penziarah pasti tidak lepas dari rayuan pada penjual tersebut agar mau mengunjungi kios atau toko mereka.

Bagi para turis yang kurang memahami bahasa dan peradaban Arab, mereka lebih menyenangi mengunjungi kawasan Raqadah di pinggiran Kairouan. Di sana terdapat peninggalan istana para raja dari Dinasti Aghlabid, yang berkuasa di kota tersebut lebih dari satu abad. Di Raqadah, mereka bisa menyaksikan hiasan dan lukisan kehidupan kabilah lokal.

Keunggulan Kairouan adalah keberadaan Masjid Uqba bin Nafi yang sangat populer dan histroris. Masjid tersebut merupakan masjid tua terbesar dan terpenting di Tunisia dan Benua Afrika. Dari kota itu dengan masjidnya, agama Islam dulu bertitik tolak menyebar ke Benua Afrika, Kepulauan Sisilia, dan Italia selatan. Sementara tentara Tareq bin Ziyad bertolak dari Kairouan menuju Andalusia (Spanyol sekarang)

Kekhasan Kairouan adalah menyuguhkan paduan antara panorama khazanah dan modernitas. Benteng Turki dengan model bangunan asli (berbentuk bangunan benteng), misalnya, kini dijadikan hotel berbintang lima dengan segala macam fasilitas modern, seperti kolam renang, restoran, dan kamar-kamar yang elok.

Adalah Uqba bin Nafi sang pendiri Kota Kairouan pada tahun 670, dan ia langsung merancang pembangunan masjid dengan menggunakan nama dirinya “Uqba bin Nafi”. Alkisah, ia bersama bala tentaranya berangkat dari sebuah daerah Sahara di Mesir dan terus menyelusuri hamparan luas Sahara di Afrika utara hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Kairouan-Tunisia.

Pada abad-abad itu, Kota Kairouan menjadi pusat budaya terpenting di dunia Arab yang kaya dengan para ilmuwan, literatur, dan seniman. Pertanian di wilayah tersebut sangat berkembang berkat sistem irigasi yang canggih dan aktivitas perdagangan yang juga melesat dengan wilayah sekitarnya.

Sebagai salah satu kota suci Islam, Kota Kairouan pun dalam sekian abad sangat menarik minat para penziarah kaum Muslim dari Afrika utara dan Afrika hitam. Kota Kairouan semula berfungsi seperti kamp militer tentara Arab, kemudian meluas dan menjadi sebuah kota. Kota tersebut beralih menjadi ibu kota Islam pertama di wilayah Arab Maghrib.

Kota Kairouan mengalami renovasi lagi pada tahun 862, tahun 1025, tahun 1294, tahun 1618, dan pada akhir abad lalu. Renovasi terakhir terpenting dilakukan pada tahun 1970-1972, bersamaan dengan peringatan 13 abad berdirinya kota tersebut. Unesco,  mulai tahun 1986 hingga tahun 1992, membantu mengucurkan dana untuk merenovasi Kota Kairouan, termasuk merenovasi ruangan shalat, menara, dan atap dalam masjid.

Sementara pintu-pintu yang dikenal sangat indah di Masjid Uqba bin Nafi adalah pintu barat, pintu air, pintu Rihanah, dan pintu Saleha. Mimbar masjid di Kairouan merupakan mimbar tertua dan terkenal di Tunisia. Mimbar tersebut terbuat dari kayu jati dengan kualitas tinggi dan dihiasi beberapa ukiran menarik. Mimbar itu sangat terpelihara karena para khatib masjid adalah para pangeran yang sedang berkuasa pada zamannya.

Jangan lupa, siapa pun yang mengunjungi Kota Kairouan atau kota lain di Tunisia, cobalah makan kuskus (makanan khas Tunisia) yang dicampur dengan daging dan susu sambil menikmati kelihaian warga Kairouan dengan menunggang kuda dan nikmatilah permainan akrobatiknya. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Korea Selatan; Menengok Masa Lalu Negeri Ginseng
  2. Keunikan HaNoi
  3. Nice, Perancis; Tawarkan Beragam Seni Arsitektur
  4. Katong Tempat Wisata Antimainstream di Singapura
  5. Kota Tua Fremantle; Menjual Wisata Air dan Cagar Budaya
  6. Pertunjukan Anak Disneyland
  7. Guadalajara; Permata dari Meksiko
  8. Mau Wisata Irit di Singapura Pergi aja Ke 5 Tempat Berikut
  9. Taiwan; Nikmati Nuansa Tradisional Kota Tua Jiu Fen
  10. Inilah 9 Lokasi Wisata Gratis di London