Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Mentari di bulan April bergerak ke garis Lintang Utara menandai datangnya musim semi bagi bangsa-bangsa belahan utara. Namun hijau segar dedaunan pada pucuk-pucuk pohon tak tampak di sini. Padahal di kota tua nan cantik Weimar, yang jaraknya kurang dari 30 menit perjalanan dengan bus dari lokasi bekas kamp konsentrasi ini, bunga-bunga indah telah bersemi bersama segarnya pucuk daun-daun muda.

Pepohonan penuh ranting inilah pemandangan pertama yang menyambut sepanjang jalan paving stone menuju kompleks bekas Kamp Konsentrasi Buchenwald di negara bagian Thuringen, Jerman. Kesunyian alam yang tampak mendung muram berkabut, kian menambah suasana trintrim (tenang memilukan) di Bukit Ettersberg itu.

Inilah lokasi wisata atau lebih tepatnya semacam ziarah batin, bila Anda kuat menanggungnya. Sebab perasaan akan tercekam tanpa ada modifikasi suara buatan atau hal-hal artifisial yang lain. Pertama di lokasi parkir terdapat gedung manajemen, gedung pertemuan, coffeeshop, reception berserta sinema dan bookshop yang menggambarkan bekas kamp konsentrasi ini. Lalu menyusul hamparan jalan setapak menuju gerbang kamp.

Dari jalan itu dingin udara terasa kian menggigit bersamaan dengan perasaan yang tertusuk-tusuk foto di sudut jalan. Inilah jalan yang harus ditempuh para tahanan NAZI (Partai Sosialis Nasional Pekerja Jerman) menuju tempat kerja paksa di pagi-pagi buta dan kembali larut malam.

”Di bawah iklim yang keras, para tahanan biasanya hanya memiliki selembar pakaian tipis atau seadanya yang tidak layak untuk cuaca musim semi maupun musim gugur, apalagi kalau musim dingin tiba. Para tahanan juga tidak mendapat makanan secara memadai,” tutur Robert Hass yang menjadi pemandu sukarelawan ketika SH mengikuti excursion ke bekas Jerman Timur itu.

Menurut dia, Buchenwald tidak sedahsyat Kamp Konstrasi Auschwitz di Polandia dan Bergen Belsen yang digunakan sebagai tempat pemusnahan para tahanan. Buchenwald lebih berfungsi sebagai kamp pekerja.

”Bagaimanapun kerja bisa digunakan secara sistematis untuk menghancurkan bahkan terkadang membunuh orang. Dengan waktu kerja 14-16 jam per hari, sebagian besar di pertambangan dan di pabrik,” imbuh Robert Hass dari Yayasan Frederich Naumann itu. Sehingga, lanjutnya, menyebabkan sakit berkepanjangan, perlakuan yang kejam hingga penembakan sewenang-wenang serta penyiksaan. Ratusan terbunuh secara sistematis karena kelaparan pula.

Ditambahkannya, mula-mula Buchenwald digunakan sebagai tempat menahan lawan-lawan politik NAZI. Namun belakangan kaum Yahudi, gipsi, homoseksual, tahanan perang dan kriminal kambuhan (Kapos) pun dijebloskan ke kamp ini. Sehingga tidak kurang 250.000 orang dari 30 negara yang pernah ditahan hingga berakhirnya Perang Dunia (PD) II.

Begitu memasuki gerbang kamp, terhampar bekas blok-blok kamp yang telah rata dengan tanah. Kamp yang dibangun tahun 1937 itu hancur berantakan saat serangan udara yang dilakukan oleh pasukan Sekutu tahun 1944.  Serangan perasaan mencekam kian menjadi ketika rombongan bergerak ke kanan. Bangunan tua itu adalah krematorium. Tungku-tungku yang kini dihampari bunga belasungkawa itu tetap saja membuat berdiri bulu roma.

Apalagi di ruang bawah tanah krematorium itu, terdapat cantolan pada dinding. Itulah tempat tidak kurang dari 1.000 orang tahanan meregang nyawa tergantung. Belum lagi lubang di dinding yang digunakan untuk menembak tepat di tengkuk serta tahanan perang yang digunakan untuk percobaan obat-obatan.  Keseluruhan lebih dari 56.000 korban yang nyawanya melayang di Kamp Konsentrasi Buchenwald. Lebih dari 10.000 di antaranya adalah kaum Yahudi.

Keluar dari bangunan tua mencekam itu ada bekas bangunan penyimpanan jauh di belakangnya. Gedung berlantai dua ini kini digunakan sebagai museum untuk memperlihatkan kondisi kamp antara tahun 1937 hingga 1945. Penderitaan yang tak terkatakan beserta tangis yang tak terdengar menjadi saksi bisu pada barang-barang peninggalan yang kini tersimpan di sana. Patahan sendok, cangkir dekil dan peyot, puluhan sepatu buntung bahkan sepatu bayi berbicara penuh arti.

Di sinilah sejarah itu dibuka terang benderang. Tak ada yang ditutupi, termasuk berbagai kekejian yang membuat bulu kuduk berdiri.  Dengan penuh kebesaran hati bangsa Jerman mengakui seluruh kesalahan yang telah diperbuat Hitler beserta pasukan SS-nya. Sehingga generasi Robert Hass berbesar hati menandaskan, ”Ini dibutuhkan untuk mengenang agar tragedi kemanusiaan ini tidak terulang kembali.”

Apakah kita bangsa Indonesia bisa seperti ini? Mengabadikan kebesaran hati mengakui tragedi kemanusiaan tahun 1965, Tragedi Mei 1998, Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh dan Papua serta kenyataan sejarah Nusantara lainnya? Sehingga generasi berikutnya mengenang kebenaran sejarah serta berjanji untuk tidak mengulang kembali. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Kuala Lumpur, Malaysia; Wisata Serba Ada
  2. Marseille; Kota Kuno di Pinggir Pantai
  3. Lucerne, Swiss; Desa Nelayan yang Mempesona
  4. Sydney, Australia; Berpetualang Bersama Captain Cook
  5. 10 Hal Gratis di Paris
  6. Wisata Luar Angkasa Rp 920 Juta
  7. Inilah 2 Tempat Wisata Anak Terbaru di Singapura
  8. Inilah 3 Pulau Terbaik Bebas Polusi Untuk Liburan
  9. Ho Chi Minh; Kota Perang yang Jadi Kenangan
  10. Inilah 9 Lokasi Wisata Gratis di London