Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Khyber Pass  sendiri memiliki sejarah panjang. Kawasan ini merupakan daerah pegunungan penting yang menghubungkan Pakistan dan Afghanistan, serta lokasi pertahanan yang strategis. Selain itu, tempat ini juga merupakan rute perdagangan terpenting bagi para saudagar dari Asia Tengah ke Asia Selatan. Ketika Iskandar Agung (Alexander The Great) melakukan invasi ke Asia Selatan, pasukannya juga melewati kawasan ini selain menelusuri Sungai Kabul.

Jarak dari Landi Kotal sampai ke Khyber Pass cuma 5 kilometer saja. Dalam sepuluh menit kitapun sudah sampai di Michni Post. Lokasinya persis di puncak tertinggi di mana kita bisa menyaksikan daerah perbatasan Pakistan-Afghanistan. Dengan mata telanjang kita bisa melihat kota kecil, Torkham, di garis perbatasan dengan Afghanistan yang berjarak 5 kilometer dari Michni Post. Bila ingin jelas lagi, kita bisa melihatnya melalui teropong yang tersedia di sana.

Hujan rintik-rintik menambah suhu di atas bukit itu terasa dingin sekali. Tapi, dinginnya tak bisa mengalahkan keingintahuan  melihat-lihat pemandangan Khyber Pass dari luar bangunan Post, Semilir angin justru membuat kita akan betah untuk berlama-lama. Khyber Pass memang pas untuk dikunjungi.

Jika kita mengunjungi Khyber Pass, jangan pernah lewatkan untuk sekedar mampir di markas pasukan penjaga perbatasan Khyber Rifles. Khyber Rifles berdiri pada tahun 1878 dengan komandan pertamanya adalah Kapten Gais Ford, seorang perwira tentara Inggris. Pada saat itu Inggris membentuk pasukan paramiliter di sana dengan merekrut orang-orang dari suku Afridi sebagai anggotanya. Pasukan ini dibentuk untuk mengamankan daerah perbatasan saat perang Afghan II.

Sardar Mohammad Aslam Khan menjadi komandan pertama dari kalangan Muslim. Aslam Khan, yang kemudian menjadi Letkol Nawab Sir Mohammad Aslam Khan, memimpin korpsnya dari tahun 1881 hingga 1897. Pasukan penjaga ini kemudian berkembang seiring dengan perjalanan waktu hingga ke bentuknya yang modern sekarang ini.

Di halaman depan Khyber Rifles kita bisa menyaksikan pohon yang ”ditawan” sejak tahun 1889. Ceritanya pada saat itu ada seorang perwira tentara Inggris yang tidur-tidur ayam setelah minum-minum bir. Dalam penglihatannya pohon itu berjalan-jalan sehingga dia pun memerintahkan pohon tersebut dirantai agar tak ke mana-mana lagi. Sampai saat ini pohon itu masih ada dan tetap dirantai. Di dekatnya masih teronggok jam matahari yang sudah ada sejak 1923.

Di dalam gedung, kita bisa menyaksikan catatan panjang sejarah berdirinya Khyber Rifles dalam bentuk foto-foto. Pada bagian tengah, terdapat sejumlah tokoh dunia yang sudah berkunjung ke tempat ini. Dari Indonesia terpampang foto mantan Menlu Adam Malik yang berkunjung pada 28-31 Mei 1972, mantan Pangab Try Sutrisno yang datang pada 25 Januari 1988, mantan KSAL R Kasenda yang mampir pada 13 Oktober 1988, dan mantan KSAD R Hartono yang datang pada 28 Agustus 1996.

Uniknya, mereka juga masih menyimpan buku tamu sejak 1899. Di dalamnya terdapat nama-nama besar, termasuk Bapak Bangsa Pakistan Mauhammad Ali Jinnah. Putri Diana menuliskan kedatangannya pada tahun 1993. Aktor lawas Robert De Niro juga pernah mengunjungi Khyber Rifles.

Bila berkunjung ke Pakistan, kurang lengkap bila tidak ke kota Lahore. Kota ini menyimpan banyak sekali situs peradaban kuno. Jangan pula melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Badshahi dan Benteng (Fort) Lahore. Keduanya pun menjadi tempat yang sangat layak untuk kita kunjungi.

Masjid Badshahi yang memiliki arti Masjid Raja ini dibangun pada tahun 1673 oleh Raja Mughal Aurangzeb Alamgir, anak laki-laki raja yang membangun Taj Mahal. Bila diartikan, Aurangzeb adalah ”penakluk dunia”. Tempat ini sekarang menjadi simbol kota Lahore.

Sebanyak 55 ribu jamaah bisa ditampung di masjid ini, dan merupakan masjid kedua terbesar di Pakistan setelah Masjid Faisal di Islamabad. Arsitektur dan desain masjid ini sangat dekat dan berkaitan dengan Masjid Jami New Delhi, India, yang dibangun pada 1648 oleh ayah Aurangzeb, Raja Shah Jahan.

Tak jauh dari Masjid Badshahi, letaknya berseberangan, terdapat Benteng Lahore. Beberapa bangunan yang terkenal di dalamnya yakni Sheesh Mahal, Gerbang Alamgiri, paviliun Naulakha, dan Masjid Moti. Benteng ini dibangun sejak tahun 1025 dan beberapa kali mengalami penghancuran, termasuk oleh Tentara Mongol pada tahun 1241. Pada tahun 1981 tempat ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh UNESCO. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Weimar, Jerman; Kota Cikal Bakal Negara Jerman
  2. Jalan-jalan ke Disneyland di Orlando, Amerika lewat Google Earth
  3. 10 Hal Gratis di Paris
  4. Makassar;Wisata Komplit dari Bahari, Budaya hingga Sejarah
  5. Havana, Kuba; Kota Situs Warisan Dunia
  6. Pilih Saja Apartemen Untuk Menginap di Singapura
  7. Keren dan Gratis! Inilah 3 Tempat Selfie di Singapura
  8. Katong Tempat Wisata Antimainstream di Singapura
  9. Intramuros, Philipina; Kota Wisata Beragam Budaya
  10. Ameland, Belanda; Tawarkan Ketenangan dan Kedamaian