Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.

Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota di Swiss itu.

Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan. Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini.

Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan.  Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina.

Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang.

Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.

Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja.

Ada beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini.

Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda.

Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya.

Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala.

Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Taronga, Australia; Bukan Sekedar Kebun Binatang
  2. Paris Syndrome, Anda Akan Kaget Saat Berkunjung Ke Paris
  3. Ho Chi Minh; Kota Perang yang Jadi Kenangan
  4. Inilah 8 Obyek Wisata di Singapura Yang Wajib di Kunjungi
  5. Palau; Salah Satu dari Tujuh Keajaiban Bawah Air Dunia
  6. Katong Tempat Wisata Antimainstream di Singapura
  7. Verona, Italia; Kota Romeo dan Juliet
  8. Le Meridien, Prancis; Kenyaman Di Tengah Keindahan
  9. Inilah 5 Hotel Murah dan Nyaman Jadi Incaran Backpackers
  10. Ameland, Belanda; Tawarkan Ketenangan dan Kedamaian