Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Pulau Karimun selain memiliki pesona wisata laut, juga mengandung kekayaan fauna laut yang terhitung langka. Dua di antaranya adalah penyu sisik (Eretnochelys imbricata) dan ikan napoleon wrasse (Chelinus undulatus).  Sebagai binatang langka keduanya dilindungi peraturan. Ikan napoleon wrasse, misalnya, dilarang ditangkap berdasarkan Surat Keterangan Menteri Pertanian No 375/Kpts/IK.250/5/1995, tanggal 16 Mei 1995 tentang Larangan Penangkapan Ikan Napoleon Wrasse.

Meski dalam peraturan yang ada secara tegas sudah dinyatakan bahwa penangkapan hanya boleh dilakukan sebatas untuk kegiatan penelitian, usaha penangkapan dua fauna laut itu secara liar terus dilakukan nelayan di Pulau Karimun. Ini terjadi karena keduanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Terhadap penyu sisik, nelayan tidak saja menangkap penyu tersebut untuk diambil dagingnya. Mereka bahkan mencari dan mengambil telur-telur penyu tersebut.  Daging dan telur penyu tersebut secara ekonomis memang bernilai tinggi sehingga perburuan itu semakin hari semakin mengganas. Biasanya, perburuan makin menghebat ketika musim ombak tinggi datang sekitar bulan Desember hingga Januari. Nelayan yakin pada saat seperti itu banyak penyus sisik yang lari ke darat sehingga mudah untuk ditangkap.

Di sisi lain, ancaman kepunahan yang mengadang keberadaan penyu sisik tidak saja datang dari para nelayan. Yang lebih parah, ancaman itu sekarang justru datang dari habitatnya sendiri.  Adanya penebangan hutan bakau (mangrove) yang dilakukan petani setempat juga menjadi ancaman pertumbuhan dan perkembangan penyu sisik. Tak hanya itu, adanya polutan yang berasal dari kapal yang lewat dan singgah juga mengancam keberadaan penyu sisik di Karimun.

Polutan itu menurunkan kualitas air laut sebagai habitat penyu sisik. Hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya hutan yang mempunyai arti ekonomis tinggi sejalan dengan kemajuan teknologi pengolahan hasil hutan. Secara ekologis, hutan mangrove merupakan ekosistem yang mempunyai produktifitas unsur hara tinggi dan menjadi kawasan penyangga yang efektif menjaga dan memelihara kestabilan perairan laut dangkal dengan menangkap sedimentasi di permukaan air.

Akibatnya, selain perkembangannya terhambat, mereka juga bemigrasi ke perairan yang lebih aman. Kejadian yang sama juga dialami ikan napoleon wrasse. Nilai ekonomis yang tinggi menjadi alasan kenapa fauna laut langka ini menjadi primadona perburuan nelayan.

Penangkapan ikan napoleon wrasse di Karimun bahkan sudah mencemaskan sekaligus membahayakan pertumbuhannya. Mereka sudah menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan yang akibatnya tidak saja mengancam kelestarian napoleon wrasse, tapi lebih luas lingkungan laut di sana. Untuk memudahkan penangkapan, nelayan menggunakan kompresor untuk mengempos bom.

Penggunaan bom itu padahal tidak saja mengancam ikan-ikan besar, seperti napoleon wrasse. Ikan-ikan kecil dan biota laut lainnya seperti karang juga akan mati karena racun yang dihasilkan bom tersebut.  Jika karang mati, ikan-ikan karang lainnya juga akan mati. Sebuah pembunuhan massal makhluk hidup di laut memang tengah berlangsung.

Menghadapi kondisi itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah mulai bertindak. Lewat sebuah tim Proyek Peningkatan dan Pengembangan Pulau-Pulau Kecil, upaya penangkaran sudah mulai dirintis.   Sebagai tempat penangkaran, dilahan tersebut akan dibangun keramba-keramba sebagai tempat tinggal penyu sisik dan ikan napoleon wrasse.

Mengenai telur penyu,  meski selama ini telur penyu menetas karena alam dan tanpa campur tangan manusia, hal itu bisa dilakukan dengan penetasan buatan. Penetasan buatan diharapkan akan lebih banyak menghasilkan anak penyu (tukik) karena ancaman dari alam dapat dikurangi. Setelah telur berhasil ditetaskan, kemudian sebagian tukik akan kembali dilepaskan ke laut.

berpengait. Caranya sedikit nekat, seorang nelayan melompat dari pledangnya dan tidak Hal yang sama juga akan dilakukan terhadap ikan napoleon Wrasse. Meski penangkaran jenis ikan langka ini sudah dilakukan berbagai pihak, keberhasilannya masih jauh dari yang diharapkan. Setidaknya dari 12 proyek Balai Budidaya Air Payau/Loka Budaya yang mencoba melakukan penangkaran, belum satu pun yang berhasil dengan baik.

Upaya penangkaran penyu sisik dan ikan napoleon wrasse di Pulau Karimun dalam konteks lebih luas,  adalah menciptakan obyek wisata yang ramah lingkungan (ecotourism). Sejalan dengan pengembangan Pulau Karimun sebagai objek wisata, di sisi lain upaya pelestarian lingkungan dan berbagai spesies yang ada juga dilakukan. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Banda; Nikmati Kota Tua dan Beningnya Laut
  2. TNGH Cikaniki; Memantau Ke-elokan Flora dan Fauna
  3. Blanakan, Subang; Saksikan Atraksi Buaya Blanakan
  4. Pulau Komodo NTT : Indah dan Uniknya Pink Beach
  5. Benteng Van der Wijck Kebumen; Wisata Sejarah Warisan Budaya
  6. Brastagi, Sumut; Kedamaian yang Menyegarkan
  7. Istana Surosowan, Banten; Menelusuri Jejak Sejarah
  8. Candidasa, Bali; Wisata Murah Pulau Dewata
  9. Pantai Sepanjang Yogya; Pesona Kuta Tempo Dulu
  10. Sambutan Agresif di Pulau Samosir