Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Selain ang pao, jeruk emas (jin ju), dan kue keranjang, Imlek tidak meriah tanpa kehadiran ikan bandeng. Kawasan pasar Rawa Belong, Jakarta, menjelang Imlek diramaikan dengan kehadiran puluhan pedagang banding.

Selain terkenal dengan pasar bunganya, setiap menjelang datangnya Imlek, Rawa Belong memang dikenal sebagai tempat penjualan “bandeng imlek”. Mulai dari pinggiran Jalan Rawa Belong hingga masuk ke Jalan Sulaiman, sekitar 20-an orang berjualan “bandeng imlek” setiap tahunnya.  Konsumennya tidak hanya berasal dari daerah sekitar, melainkan dari beberapa daerah lain seperti Mangga Dua, Tanah Kusir, Kebayoran, dan lain-lain.

“Bandeng imlek” yang dijual para pedagang di Rawa Belong tersebut lain dari bandeng yang sehari-harinya bisa dijumpai di pasar atau pedagang sayur keliling. Selain karena kehadirannya hanya setahun sekali, setiap menjelang Tahun Baru Imlek inilah yang menyebabkan bandeng tersebut dikenal dengan sebutan bandeng imlek-berat bandeng ini per ekornya bisa mencapai sepuluh kali lipat dari bandeng biasa.

Menyajikan  bandeng pada saat sembahyang adalah salah satu tradisi orang-orang Tionghoa dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Oleh karena tradisi itu berlangsung setahun sekali, berbagai bahan makanan pun disajikan dengan maksud untuk menghormati para leluhur mereka. Berbagai sajian istimewa yang dipersembahkan untuk leluhur itu di antaranya adalah kue lapis, kue keranjang, ayam, babi samseng, dan buah-buahan.

Berbagai macam sajian tersebut memiliki makna tersendiri. Kue keranjang dimaksudkan agar kehidupan keluarga selalu rukun, kue lapis untuk memperoleh rezeki yang berlapis-lapis, jeruk sebagai tanda kesentosaan. “Kalau penyajian bandeng ini tujuannya supaya kita bisa dapet banyak rezeki di tahun mendatang,” ujar Gandi.  Selain untuk sesajen saat sembahyang dan dinikmati bersama seluruh anggota keluarga, biasanya, bandeng tersebut dibagi-bagikan juga kepada sanak saudara

Imlek atau Gong Xi Fa Chai  merupakan hari besar  yang membawa kebahagiaan  bagi masyarakat China di manapun berada baik di Negara China maupun di seluruh dunia.  Berbagai  kegiatan di lakukan untuk mengisi hari raya tersebut mulai dari ritual di kelenteng (Viahara), bagi-bagi angpau hingga pertunjukan atau festival Barongsai

Di tanah Betawi keberadaan etnis China  masuk sudah sejak lama bahkan  banyak kebudayaan Betawi tereduksi oleh pengaruh budaya China,  sebut saja misalnya bakar petasan saat perkawinan, pakaian pengantin perempuan betawi, atau musik gambang kromong  yang sangat kuat  mempengaruhi budaya Betawi.

Hal lain yang menarik adalah “Pasar Malem” menjelang Imlek.  Dahulu pasar malam  di gelar  khusus menyambut datangnya hari raya imlek atau tahun baru China. Acara  pasar malam tersebut merupakan ajang  yang menarik bagi pemuda-pemudi  etnis China untuk  berkumpul sambil melihat berbagai macam pertunjukan dari lenong, Cokek hingga Barongsai.

Berbagai macam tukang makanan, kue, buah-buahan atau ikan memeriahkan acara pasar malem di Batavia. Selain menonton pertunjukan biasanya dahulu pasangan  muda-mudi   terutama yang  berpacaran berkesempatan untuk membahagiakan keluarga  pasangannya dengan membelikan oleh-oleh untuk calon mertua baik kue,  buah-buahan  untuk persembahan ritual dan ikan bandeng.

Batavia tempo dulu  jika ada pemuda etnis China yang kasmaran dengan pemudi etnis China rasanya  kurang afdol jika saat pasar malem tidak membawa ikan bandeng  untuk calon mertuanya karena sudah menjadi tradisi. Jika ada menantu yang baru menikahi putrid mereka atau calon menantu yang tidak bawa  bandeng dianggap dapat menentu kurang beruntung.

Maka tak heran jika wajah calon mertua  terlihat  cemberut  atau tidak riang.  Budaya bawa ikan bandeng untuk orang tua atau mertua ternyata berlaku juga pada sebagian  masyarakat Betawi asli  terutama mereka yang tinggal di pesisir atau di pinggir, namun tidak seperti etnis China tentunya.

Mereka yang banyak mendapatkan untung  saat berjualan di pasar malem tentu pulang dengan wajah yang gembira dan membeli  oleh-oleh ikan bandeng untuk keluarga  mereka. Ikan bandeng  yang dijual saat pasar malem memang  sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Karena untuk menyambut hari raya maka bandeng yang di jual di  pasar malem ukurunnya sangat super bisa 2 sampai 4 kali lipat lebih besar  dari bandeng yang dijual hari biasa begiru juga harga yang ditawarkan para penjual ikan bandeng saat paser malem tentu lebih mahal.

Wajar saja jika membawa oleh-oleh bandeng pasar malem untuk keluarga atau calon mertua  memiliki kebanggaan dan gengsi tersendiri. Begitu pula mereka  yang tidak dapat membeli  atau tidak membawa oleh-oleh ikan tersebut  untuk calon mertuanya terasa ada yang kurang atau tidak afdol. (rn/berbagai sumber)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Sumbawa; Keindahan Pantainya Kalahkan Kuta dan Sanur
  2. Pulau Bintan, Riau; Nikmati Kemilau Pasir Putih Bintan
  3. Pulau Komodo NTT : Indah dan Uniknya Pink Beach
  4. Pulau Penyengat; Pulau Kecil yang Jadi Mahar
  5. Malino; Kawasan Wisata Terlengkap
  6. Pantai Siung, Jogjakarta; Tawarkan Pesona Tebing Karang
  7. Siak; Keindahan Danaunya Bagai Permata Zamrud
  8. Semarang, Jateng; The City Of Sam Poo
  9. Prawirotaman-Jogjakarta, Kampung Go Internasional
  10. Banyumas; Pesona Sensasional Alami