Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Daya pikat Jiu Fen (baca: Chiu Fen) bukan terletak pada kemegahan dan kecanggihan, namun justru pada ke-tradisionalan-nya sebagai kota tua yang mengundang minat banyak turis lokal maupun mancanegara untuk singgah. Jiu Fen relatif mudah dicapai baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum seperti kereta api dari Taipei menuju Rui Fang (sekitar 40-60 menit) dilanjutkan dengan taxi atau bus. Alternatif lain adalah dengan bis umum langsung dari Taipei menuju Jinguashi melewati Jiu Fen yang memakan waktu maksimal 1,5 jam.

Sejauh mata memandang, akan tampak kerumunan pengunjung dan turis dari berbagai belahan dunia. Malah keunikan kota tua ini tidak tampak. Namun jika mencoba melihat dari tempat yang agak tinggi, baru terlihat pemandangan alam yang sangat indah terdiri dari hamparan laut dan pegunungan.

Sementara keunikan dan ke-tradisional-an yang diandalkan terdapat di gang-gang sempit yang banyak bertebaran di kota ini. Inilah ke-khas-an kota tua ini, hingga ratusan orang rela berdesak-desakan di dalam gang sempit demi memburu dan merasakan nuansa kota tempo dulu. Walau ramai dan sempit tempat ini ternyata sangat aman dari tangan-tangan jahil.

Sepanjang gang yang berliku, berjajar di kiri kanan kios-kios aneka macam makanan dan minuman. Bagi pengunjung yang gemar berburu makanan unik, di sinilah sorganya. Selain membeli makanan, pengunjung dapat pula melihat bagaimana makanan tersebut dibuat dan bahkan boleh mencoba membuatnya. Terkadang langkah kaki terhenti ketika mata tertegun melihat begitu trampilnya tangan-tangan penjual kue membuat barang dagangannya. Semuanya mengundang keasyikan tersendiri.

Kios cendera mata juga bertebaran di sepanjang gang. Dari penjual aneka macam gantungan kunci, pajangan dari bahan gelas bakar yang langsung dikerjakan di tempat, hingga penjual kelom (bakiak) dan sepatu yang bisa diukur sesuai dengan ukuran kaki kita dan dikerjakan saat itu juga.

Salah satu aktivitas yang hampir tak pernah dilewatkan pengunjung adalah menikmati hidangan teh di kedai teh yang berjajar di sepanjang gang yang berundak tersebut. Dengan nuansa arsitektur bangunan tempo dulu berpadu dengan koleksi benda-benda antik yang menghiasi kedai, menikmati teh di sini memberikan keistimewaan tersendiri.

Kota tua selalu menyimpan banyak cerita. Sejalan dengan berlalunya waktu sejarahpun terukir bersamanya. Begitu pula dengan Jiu Fen. Berdasarkan legenda penduduk setempat, nama Jiu fen (secara harafiah berarti sembilan bagian) melambangkan sembilan keluarga yang awalnya hidup di kota tersebut.

Terlepas dari keakuratan cerita tersebut, kota Jiu Fen memang menyimpan sejarah kejayaan masa lalunya yang gemilang dengan ditemukannya tambang emas pada 1890. Pada masa pendudukan Jepang di Taiwan sekitar 1930-an, Jiu Fen dijuluki sebagai Little Shanghai dan selama beberapa dekade mensuplai emas untuk kerajaan Jepang. Namun akhirnya masa keemasan dan kejayaan berakhir seiring dengan habisnya sumber emas di kota ini.

Rasa kangen akan kota tua dengan gang-gang sempit dan bangunan berarsitektur tradisional Cina membawa orang-orang Taiwan berpaling ke Jiu Fen. Sejak itu penduduk Jiu Fen seakan menemukan kembali ‘tambang emas’ baru dalam bentuk lahan pariwisata hingga hari ini. Kios makanan, cindera mata, galeri seni, restoran dan kedai teh mulai tumbuh dalam napas tradisionalnya dan merupakan sumber baru ekonomi penduduk setempat.

Rasa kangen dan nostalgia bukan hanya milik generasi tua saja. Anak-anak muda dan remajapun berbondong-bondong datang untuk turut menikmati keunikan yang disajikan. Selain berburu makanan dan menikmati teh serta menyelusuri sepanjang gang sempit sambil merasakan suasana di kota tua, sempatkan mengunjungi klenteng yang juga merupakan objek wisata.

Sisa kejayaan emas masa lalu di Jiu Fen masih dapat ditemui di Museum Penambangan Emas (Gold Mining Museum) yang sayang untuk dilewatkan. Dengan membayar karcis masuk 100 NT untuk orang dewasa dan 60 NT untuk anak-anak, anda dapat melihat berbagai batuan, mineral, artifak serta penjelasan mengenai proses ekstraksi emas dari batu.

Jiu Fen menyimpan nilai tersendiri di mata wisatawan yang mengunjungi Taiwan, di mana tempat lain seakan berlomba me-modern-kan wajah kota, Jiu Fen justru tetap pada nilai keasliannya, melestarikan keindahan arsitektur tua dan bersejarah. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Toulouse, Perancis; Nikmati Keunikan “Kota Bata Merah”
  2. 5 Hotel Murah di Singapore Ini Juga Menjadi Incaran Wisatawan
  3. Intramuros, Philipina; Kota Wisata Beragam Budaya
  4. Inilah 5 Tempat Belanja Di Hongkong
  5. Melbourne; Kota Tujuan Wisata Utama Australia
  6. Hauptbahnhof Frankurt; Kota Spesial Yang Tak Pernah Sepi
  7. Brisbane Kota Indah Di Queensland
  8. Weimar, Jerman; Kota Cikal Bakal Negara Jerman
  9. Pulau Payar, Malaysia; Asyik Bermain dengan Hiu
  10. Guadalajara; Permata dari Meksiko