Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

LOS ANGELES – Makin banyak perusahaan yang akan merealisasikan wisata ke luar angkasa. Sebuah perusahaan di California, XCOR Aerospace, kemarin (26/3) meluncurkan detail pesawat roket yang bisa terbang ke sub-orbit sejauh lebih dari 37 mil (sekitar 59 km) di atas bumi.

Lynx, nama pesawat buatan XCOR, akan seukuran dengan pesawat jet pribadi kecil. Pesawat itu diperkirakan mulai terbang dua tahun lagi atau 2010.

Peluncuran detail pesawat dua kursi itu berbarengan dengan pengumuman masuknya XCOR Aerospace ke industri wisata luar angkasa. “Kami sengaja merancang pesawat ini supaya terbang dan beroperasi seperti pesawat komersial,” kata Jeff Greason, chief executive officer (CEO) XCOR. ” Lynx akan menjadi kendaraan terhebat di sub-orbit bumi,” tambah Rick Searfoss, pilot uji XCOR yang juga mantan astronot dan komandan pesawat ulang-alik NASA.

Pengumuman XCOR tersebut keluar dua bulan setelah desainer pesawat angkasa luar Burt Rutan dan miliarder Richard Branson meluncurkan model baru SpaceShipTwo. Pesawat baru yang dikembangkan perusahaan wisata di luar angkasa, Virgin Galactic, milik Branson itu memulai uji terbang akhir tahun ini.

Menurut XCOR, sambil menunggu hasil negosiasi, Laboratorium Riset Angkatan Udara (AU) AS telah menyerahkan kontrak riset pengembangan dan uji coba berbagai bagian Lynx. Tak ada penjelasan lebih lanjut.

Lynx dirancang mampu lepas landas dari landasan (runway) seperti pesawat terbang pada umumnya. Kecepatan maksimalnya dua kali kecepatan suara (Mach 2). Terbang di atas ketinggian 200 ribu kaki (60.960 meter), pesawat tersebut turun dengan gerakan memutar untuk mendarat di landasan.

Berbentuk mirip versi pesawat Long-EZ rancangan Rutan, Lynx memiliki dua sayap di bagian belakang bodi. Ujung sayap berbentuk vertikal.

Menggunakan mesin berbahan bakar cair dengan pembakaran bersih (tanpa polusi), Lynx diperkirakan mampu melakukan beberapa kali penerbangan dalam sehari. “Pesawat ini menyediakan akses terjangkau ke angkasa luar bagi individu maupun para peneliti,” ujar Greason. Versi pesawat itu di masa depan bisa digunakan untuk riset sekaligus komersial.

XCOR telah menghabiskan sembilan tahun untuk mengembangkan mesin roket di sebuah pabrik dekat Bandara Mojave, utara Los Angeles, California. Saat ini perusahaan tersebut telah mengembangkan dan menerbangkan dua pesawat bertenaga roket. XCOR juga menggeluti bisnis mesin dan sistem propulsi roket.

Tarif penerbangan yang ditawarkan Lynx bakal kompetitif. Dengan perkiraan pengembangan proyek senilai USD 10 juta (sekitar Rp 92 miliar dengan kurs Rp 9.200 per USD 1), tiket Lynx dipatok USD 100 ribu (sekitar Rp 920 juta) per orang.

Tarif itu separo lebih murah ketimbang yang ditetapkan SpaceShipTwo sebesar USD 200 ribu (sekitar Rp 1,84 miliar) per orang. SpaceShipTwo dikembangkan setelah sukses SpaceShipOne sebagai roket swasta pertama yang mencapai angkasa luar pada 2004. Dengan SpaceShipTwo, para penumpang -maksimal enam orang dan dua pilot- diyakinkan bisa mengalami 4,5 menit tanpa bobot (mengapung) di kabin sebelum kembali ke bumi. (AP/dwi)

jawapos.com


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Inilah 8 Obyek Wisata di Singapura Yang Wajib di Kunjungi
  2. Papua; Mutiara dari Timur
  3. Menyantap Gyro di Kaki Lima New York
  4. London, Inggris; Objek Wisata Serba Ada
  5. Pertunjukan Anak Disneyland
  6. London, Inggris; Oxford, Potret Inggris Seutuhnya
  7. Guadalajara; Permata dari Meksiko
  8. Inilah 5 Hotel Murah dan Nyaman Jadi Incaran Backpackers
  9. Khaosan Road, Thailand; Wisata ala Backpacker
  10. Inilah Panduan Lengkap Liburan Ke Singapura