Dapatkan info penting lainnya dari kami!

Email anda :


Share

Mengunjungi peninggalan kebudayaan megalit sungguh mengasyikkan. Selain mengagumi kehebatan teknologi masa lalu, kita dapat membayangkan keperkasaan nenek moyang negeri ini. Bila dikemas rapi, perjalanan ke tempat-tempat temuan megalit bakal menjadi paket wisata berdaya jual tinggi. Minahasa – sebagai salah satu gudang temuan megalit – memendam potensi ini.

Pergilah ke Minahasa. Anjuran ini terbukti manjur sebagai jawaban atas pencarian bentuk wisata di Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah ini memiliki catatan panjang peninggalan dari kebudayaan megalit. Sebut saja, waruga (peti kubur batu), watu-tumotowa (menhir), lesung batu, watu pinawetengan (batu bergores), altar batu, batu dakon, dan arca menhir.

Salah satu sisa megalit yang begitu terkenal dan dominan di Minahasa adalah waruga (peti kubur batu). Ini bukan sembarang peti kubur biasa. Yang istimewa, peti kubur ini terdiri atas dua bagian: badan dan tutup. Tiap-tiap bagian itu terbuat dari sebuah batu utuh (monolith). Umumnya, berbentuk kotak segiempat (kubus) untuk bagian badannya dan hanya sedikit yang berbentuk segidelapan atau bulat.

Di dalam bagian badan waruga terdapat rongga sebagai kubur jasad orang yang meninggal. Posisi mayat tersebut terkait dengan filosofi manusia mengawali kehidupan dengan posisi jongkok dan semestinya mengakhiri hidup dengan posisi yang sama. Filosofi ini dikenal dalam bahasa lokal adalah whom.

Setiap waruga biasanya dipakai untuk satu famili. Ada juga waruga yang dipersiapkan untuk mayat yang berasal dari kesamaan profesi sebelum wafat. Di dalam waruga seringkali ditemukan tulang-tulang manusia yang berasosiasi dengan benda lain, macam keramik Cina, perhiasan, alat-alat logam dan manik-manik.

Bagian atas kubur ditutup dengan cungkup batu, kebanyakan berukir atau berpahatkan keterangan atau profesi si mayat sebelum wafat. Misalnya. Yang menarik, cungkup dengan motif perempuan yang sedang melahirkan menandakan mayat yang dikubur di dalam waruga itu adalah seorang dukun beranak.

Cungkup waruga yang diukir berupa lukisan beberapa orang sekaligus menandakan yang dikubur di dalam waruga itu adalah satu keluarga utuh, yang meninggal dan dikubur satu per satu. Kuburan batu ini berukuran lebar antara 50 cm sampai satu meter, panjang 50 cm sampai satu meter dan tinggi sekitar satu meter. Menurut catatan Santoso Soegondho, ada waruga yang tinggi totalnya mencapai 3 meter. Rinciannya, tinggi wadah sekitar 1,5 meter, lebar wadah 1 meter dan tinggi cungkup 1,45 meter.

Selain bermotif, cungkup polos alias tanpa ukiran pun ada. Cungkup ini menandakan waruga berusia jauh lebih tua dibandingkan waruga lainnya. Usianya diperkirakan lebih dari 1.200 tahun. Boleh jadi, saat itu budaya mengukir atau memahat cungkup batu belum populer.

Melihat waruga dijamin Anda bakal terkagum-kagum. Terlebih mendengar kisah kesaktian orang-orang kuno Minahasa yang hidup pada zaman Megalitik sampai 150-an tahun lalu di utara Pulau Sulawesi. Dalam bahasa kuno Minahasa, kata waruga berasal dari dua kata: wale dan maruga. Wale artinya rumah, dan maruga artinya badan yang hancur lebur menjadi abu.

Dari catatan Santoso Soegondho, di Minahasa tersebar sekitar 1.335 waruga, yang dapat ditemukan pada sejumlah lokasi. Kompleks waruga di Sawangan hanyalah salah satu contoh. Tempat ini pernah dipugar pada 1977-1978. Peresmian pemugaran dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, saat itu dijabat oleh Dr. Daoed Joesoef pada 23 Oktober 1978. Plakat pemugaran ini masih terpasang di muka pagar kompleks waruga yang di bagian depannya diisi makam umum yang sudah modern.

Di Sawangan, dengan luas sekitar 1.866 meter persegi, terdapat 144 waruga. Menurut Anton, ke-144 waruga itu dikumpulkan pemerintah dan disatukan di kompleks tersebut pada 1817. Sejatinya, waruga diletakkan di pekarangan rumah atau halaman keluarga dari orang yang meninggal.

Di tempat ini, kita juga dapat menjumpai waruga Jusuf Mantiri yang berdinding kaca. Tokoh lokal ini yang membawa nama Sawangan ke Bogor dan menjadikannya sebagai nama sebuah daerah di kota ini. Dalam bahasa Minahasa, Sawangan artinya hidup gotong-royong.

Masih di Kecamatan Airmadidi, kita juga dapat menemukan kompleks waruga lainnya. Di desa Airmadidi Bawah, terdapat kompleks waruga yang berjumlah 153 buah, dengan waruga termuda bertanggal wafat 26 Juli 1947. Selain itu, waruga tersebar di desa Kawengkoan, Kolongan, Tanggari, Kuwil dan Maumbi.

Usai melongok waruga, perjalanan dilanjutkan ke desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso. Batu ini merupakan bongkahan batu-batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan.

Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki dan perempuan dan motif garis-garis serta motif yang tak jelas maksudnya. Para ahli menduga, goresan-goresan ini merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit.

Watu Pinawetengan telah sejak lama menjadi tempat permohonan orang, seperti kesembuhan dari penyakit dan perlindungan dari marabahaya. Tak ada catatan resmi soal ini. Dengan melakukan ritual ibadah yang dipandu seorang tonaas (mediator spiritual), sebagian orang percaya doa mereka akan cepat dikabulkan. Arie Ratumbanua – juru kunci Watu Pinawetengan – menegaskan, masyarakat yang datang ke sini bukan bertujuan menyembah batu, melainkan menjadikan batu sebagai tempat atau sarana ibadah.

Soal asal-usul batu ini, masyarakat setempat percaya di sinilah tempat bermusyawarah para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu. Para pemimpin itu bersepakat untuk membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa.

Sampai sekarang, tempat ini terus dikunjungi orang, termasuk warganegara asing. Ada yang sekadar berwisata, banyak pula yang bertujuan ziarah. Seorang tokoh media papan atas asal Jakarta juga tercatat pernah melakukan kunjungan ke Watu Pinawetengan. Boleh jadi, tokoh kita ini ingin melepas penat sambil berdoa, siapa tahu usahanya makin bertambah sukses. (rn)


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Kebun Raya Cibodas; Bukan Sekedar Tempat Rekreasi
  2. Jaya Wijaya, Papua; Nikmati Festival Lembah Baliem
  3. Imogiri, Jogjakarta: Wisata Sambil Ziarah
  4. Bogota, Kolombia; Kota Seribu Satu Taman
  5. Bangka; Pulau Seribu Pantai
  6. Bromo; Menjelajah Gunung Suci Masyarakat Tengger
  7. Bukit Lawang, Bahorok; Wisata Alam Hutan Tropis
  8. Yogyakarta; Atmosfir Uniknya Selalu Bikin Kangen
  9. Liwa, Lampung; Kota Dingin yang Menghangatkan
  10. Museum Radya Pustaka, Surakarta; Melihat Jawa Tempo Dulu